INTREND.ID Menjangkau wawasan baru

Menonton Wrath of Man, Membaca Psikologis Veteran Perang

InTrend – Untuk takmembuatnya jadi dramatis, usai menonton Wrath of Man ada baiknya kita bicarakan saja sosok dalam foto itu. Andy Garcia. aktor watak. kemunculannya di awal-awal karir keaktoran menjadi sorotan dalam film Godfather Part III (1990).

Dalam Godfather III, Andy berperan sebagai pewaris tahta mafia Italia. Dia memiliki sosok muda, kaya, dan suka cari perkara.

Dia juga impulsif dalam bertindak dan miskin perhitungan. Detelah resmi menjadi Godfather, tampilan dan karakternya pun berubah.

Para mafia senior seangkatan ayahnya mencium tangannya. Gelarnya Don Vincenzo, diambil dari nama lengkapnya, Vincent Mancini Corleone (Mancini nama ayah, Corleone nama kakek).

Sebagai pemimpin keluarga mafia, mau tidak mau Vincent lebih mengatur temperamen dan tindakannya. Meski kadang masih terpengaruh sosok sang paman yang menjadi Godfather sebelumnya, Don Corleone (Michael Corleone) yang dimainkan sangat meyakinkan oleh Alpacino.

Dalam Godfather III, Andy memang matang sebagai aktor. Wajar jika di tahun 1991, dia masuk nominasi peraih Academy Award (Piala Oscar) kategori Best Actor in a Supporting Role. Setelah bermain dalam Godfather Part III, pria kelahiran Kuba ini seperti lenyap dari peredaran dunia hiburan, khususnya Hollywood.

Ada saja sebetulnya peran-peran kecil yang Andy mainkan. Namun tak sedahsyat perannya sebagai Don Vincenzo.

Peran menonjol Andy baru muncul 4 tahun kemudian dalam When A Man Loves A Woman (1994). Tiga tahun berikutnya dia muncul dengan memerankan penyair Federico García Lorca (1997).

Secara berturut-turut, Andy muncul dalam trilogi film Ocean’s Eleven, Ocean’s Twelve, dan Ocean’s Thirteen sebagai Terry Benedict. Itu pun tampil bukan sebagai pemeran utama.

INTREND lainnya

Tapi, apa pentingnya menjadi peran utama? Andy tetap menyuguhkan permainan menarik dalam aktingnya. Peran-perannya seolah sengaja dipilih yang memiliki bayang-bayang suram, ketidakjelasan. Bahkan sedikit kekerasan dan berbau darah.

Pun begitu dengan perannya dalam film Wrath of Man Agent King (2021) sutradara Guy Ritchie. Tak banyak adegan yang dia mainkan. Hanya 3-4 adegan, di bagian awal, tengah, dan akhir film.

Dialognya singkat, taklebih banyak dari Jason Statham yang memerankan tokoh utama. Tapi, sosoknya kuat, tandas, dan penuh wibawa.

Menonton Film Wrath of Man
Bukan tentang Andy Garcia semata keunggulan Film Wrath of Man. Film ini sarat adegan kekerasan. Tapi kali ini penyebabnya bukan sekadar bicara tentang dendam semata. Tapi tentang kehilangan yang menjadi penyesalan seumur hidup.

Kita bisa melihatnya dari lapis demi lapis rahasia tergelap seorang Patrick Hills (H) diperankan Jason Statham. Tentu ini bukan tentang Patrick kawan SpongeBob. Ini tentang Patrick dalam Wrath of Man (2021).

Di film ini, Jason memang agak beda. selain karena alur jungkir balik dan plot yang relatif rumit dengan peran sosok H, nama panggilan Patrick, yang tampak asing. Jason Statham, yang biasa main di film action yang berhambur wanita dan belahan dada, otot dan darah juga sedikit humor, kini dipaksa memainkan emosi dan watak yang lebih “jero” pada perannya.

Misal, ketika H harus menghadapi sang istri yang menyalahkan dirinya atas kematian anak mereka. H memang dingin dan brutal. Tapi kehilangan anak membuat mentalnya bergetar. Sedikit kehilangan berarti banyak yang dikorbankan.

H melakukan apa saja untuk menemukan nama dan orang yang menarik pelatuk senjata pada anaknya. Di awal film, dia menjadi seorang pelamar lowongan sekuriti penjaga mobil pengantar uang. H lalu diterima dengan hasil ujian sedikit di atas rata-rata.

Penilainya seorang mentor. Bullet. H lalu mengawali pekerjaannya dengan pandangan sinical dan minor dari rekannya. Tapi itu tak lama. Dalam sebuah peristiwa perampokan mobil pengantar uang, H membantai seluruh perampok dengan tembakan yang akurat, terlatih, dan nyaris tanpa ekspresi.

Dia tampak takpunya belas kasih dalam pembantaian para perampok itu. Dalam istilah Bullet: “He’s a dark fucking spirit.”

Dengan apik, Guy Ritchie sebagai sutradara film itu, mulai membuka lapis demi lapis masa lalu H. Dan film ini memang bicara tentang dendam H. Tapi dendamnya taksederhana.

Dendam dari kehilangan orang terkasih. Dendam seorang ketua mafia yang kehilangan anaknya dalam perampokan mobil pengantar uang. H juga sebenarnya tengah merencanakan perampokan serupa. Namun keburu anaknya mati.

Tapi, dendamnya terbayarkan. H melakukan apa yang anaknya alami saat kematian kepada Jan, pelaku pembunuh anaknya, seorang tentara veteran perang Afganishtan.

Psikologis Veteran Perang Afganishtan
Afghanistan menjadi kata kunci ketika mereka merencanakan perampokan itu. Para veteran perang itu merasa bosan ketika hari-hari hanya diisi dengan menonton televisi.

Seorang tokoh dalam film “Wrath of Man” mengatakan pada menit 1.03.18, “kita ditempa untuk bertempur, bukan nonton tv siang-siang. Orang Afghanistan perlakukan kita lebih baik daripada masyarakat kita sendiri.”

Lalu muncul ide untuk merampok. Alasan mereka sederhana: hanya untuk menyalurkan kemampuan di medan tempur yang selama ini terkubur. Psikologis mereka terganggu saat kehilangan “habit” atau kebiasaan di medan perang sebagai prajurit yang memanggul senjata.

Mereka tidak lagi dianggap pahlawan, seperti di film “Billy Lynn’s Long Halftime Walk” yang dibintangi Kristen Stewart (2016). Kondisi yang sama-sama menggambarkan prajurit Amerika pascaperang. Kondisi itu takgampang. Sama seperti melepaskan diri dari candu dengan dosis candu yang lebih tinggi.

Mereka pun melakukan persiapan. Awalnya mereka merampok di rumah-rumah. Hasil dan tantangannya tak cukup besar untuk dibagi kepada seluruh anggota tim. Ada harga diri yang terluka, yaitu pegangan hidup prajurit yang tak sempurna.

Mereka merencanakan perampokan lebih heroik: merampok mobil pengaman pengangkut uang dan menjadi awal cerita di film Wrath of Man.

Memang, banyak sudah kisah perampokan menjadi layar film-film Hollywood. Sejak zaman “koboy” Bonnie and Clay, hingga film tadi. Tapi, dalam film ini, perampokan dilakukan sekelompok tentara profesional dengan kemampuan taktik militer dan persenjataan yang mumpuni.

Mereka terlatih dengan strategi perang sehingga dalam keadaan darurat dan rencana meleset pun, mereka berpatokan pada pengetahuan bertempur di medan perang.

Terbukti saat mereka terkepung dalam perampokan terakhir di gudang uang milik perusahaan pengamanan “Fortico”. Perampokan berakhir tragis. Seluruh prajurit tewas.

Film garapan Guy Ritchie ini pun jadi berdarah-darah. Sangat beda dengan film perampokan garapan Spike Lee “Inside Man” (2006).

Dalam film dengan soundtrack lagu yang pernah populer di Indonesia karena joget polisi “Cayya Cayya” Norman Kamaru itu, perampokan berjalan tanpa darah. Bahkan, kasus dan pelakunya tak terlacak. ***

INTREND lainnya

Tinggalkan komentar