INTREND.ID Menjangkau wawasan baru

Belajar Tentang Martabat Dari Film 14 Blades

InTrend – Sebutlah Jin Yi Wei mendekati semacam profesi jurnalis saat ini dan tak pernah belajar tentang martabat. Dalam menjalankan tugas menuju sasaran, mereka tak pernah bertanya mengapa dan untuk apa. Yang mereka patuhi cuma Kasdi: kapan, siapa, dan di mana. Rencana pelaksanaan tugas hanya disusun berdasarkan tiga pertanyaan itu. Sementara MBA, mengapa, bagaimana, dan apa, mesti dicari tahu jawabannya sendiri. Perkara biaya, amunisi dan senjata, hingga cara mendapatkan sasaran, bukan lagi pertanyaan. Meskipun, tentu itu tetap harus masuk rencana.

Jin Yi Wei konon hidup di sebuah masa di era kekaisaran Tiongkok. Kelompok ini dibentuk kaisar pertama kali untuk menegakkan kebenaran, hukum, dan menjaga kedaulatan kaisar. Kelompok ini memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata. Mereka mampu membunuh sasarannya jika diperlukan. Dengan seleksi ketat, para Jin Yi Wei ini dipilih sejak masih anak-anak. Mereka dikumpulkan dari berbagai wilayah secara acak. Setelah terkumpul, mereka kemudian menjalani serangkaian seleksi untuk menentukan yang terbaik.

Seleksi pertama mereka, apalagi kalau bukan sebuah laku tragedi, yaitu membunuh. Satu per satu dari mereka disekap dalam ruang gelap dan sunyi bersama seorang anak lainnya. Lantas, sang mentor melemparkan sebuah senjata ke dalam ruangan itu. Kedua bocah itu lantas diharuskan menghabisi satu sama lain. Siapa mampu membunuh lawannya di dalam ruangan itu, maka dialah pemenangnya. Dia akan terpilih sebagai Jin Yi Wei.

Dan itulah yang dialami Qinlong, sang tokoh utama dalam film “14 Blades” besutan sutradara Daniel Lee tahun 2011 silam. Dalam pertarungannya demi tempat terhormat sebagai seorang Jin Yi Wei, Qinlong telah berhasil membunuh lawannya di dalam ruang gelap itu. Qinlong tak akan pernah lupa. Lawannya saat itu adalah kakaknya sendiri.

Tentang 14 Blades

Film ini menceritakan babakan tentang pasukan Jinwei di era Tiongkok pada Dinasti Ming. Sudut pandangnya menarik, seorang Ketua Jin Yi Wei, ya itu tadi, Qinlong. Di bawah pimpinan Qinlong dengan senjata andalan 14 blades (pedang), kelompok Jin Yi Wei berjaya. Pasukan elit ini hidup dalam jalan pedang dan ditakuti. Mereka takpernah gagal dalam menjalankan misi. Mereka bekerja dalam senyap sesuai instruksi dari atasan. Takpernah ada reward saat tugas berhasil. Tetapi, jika gagal, hukuman menanti.

Sayangnya, masa kejayaan itu tak bertahan lama. Kebobrokan para pejabat negara kala itu menggunakan Jin Yi Wei untuk kepentingan politik praktis. Pun, kala itu kekuatan hukum negara dianggap tak mempan menindak para pejabat yang korup dan bejat. Alhasil, pasukan Jin Yi Wei kerap salah sasaran. Satu demi satu pejabat alim dan bijak jadi korban.  Konflik semakin memuncak ketika ada upaya pemberontakan dari paman sang kaisar. Dia tengah mempersiapkan pasukan di perbatasan. Tujuannya berusaha merebut stempel kekaisaran.

Para pemberontak ini paham kekuatan dan potensi Jin Yi Wei. Artinya, Jin Yi Wei yang taat harus diajak kerja sama. Dengan kalimat lain, Jin Yi Wei yang tak patuh, harus dimusnahkan.  Negara kacau. Kelompok pemberontak kemudian diam-diam bergabung dengan pejabat korup. Perebutan stempel kekaisaran pun berlarut-larut. Kelompok pemberontak dan pejabat korup lalu memanfaatkan Jin Yi Wei untuk menghabisi pejabat yang loyal pada negara. Jin Yi Wei pun pecah. Ada yang berkhianat di antara mereka. Qinlong pun lalu jadi sasaran pembunuhan karena dianggap sebagai Jin Yi Wei yang tidak bisa kooperatif.

Tentang Martabat

INTREND lainnya

Martabat Qinlong terluka. Dia harus mencari tahu siapa yang jadi pengkhianat. Dia harus bertindak. Tetapi, kali ini bukan untuk tugas negara. Dia hanya ingin mencari kebenaran dan menghukum sang pengkhianat walaupun itu adalah anggotanya sendiri. Semakin dalam Qinlong menyelidiki, semakin tahu jika Jin Yi Wei telah hancur dari dalam. Sahabat-sahabat terdekatnya terbunuh. Tudingan miring pun datang dari masyarakat.

Qinlong memang tak berusaha memperbaiki negara. Itu bukan tugasnya. Ia hanya ingin menempatkan martabatnya dan belajar tentang martabat sebagai seorang Jin Yi Wei pada letak dan posisi yang seharusnya.

“Menyelesaikan misi adalah sebuah martabat bagi Jin Yi Wei,” demikian ujar Qinlong, di menit 42 film itu, saat membasuh tubuh di sebuah pemandian. Qinlong merasa harus menjaga martabatnya, sebagaimana jurnalis menjaga kode etiknya dalam bekerja.

Jalan Seorang Jurnalis

Jurnalis memang punya tugas. Selain menjaga kode etik, jurnalis juga berupaya menjaga kepentingan publik. Akibat logisnya, jurnalis kerap diibaratkan sebagai “anjing penjaga” yang mengawasi jalannya kepentingan publik di antara tingkah polah pemerintahan. Peran vitalnya, konon, adalah menyuarakan kebenaran dan keadilan. Tetapi, sebentar, kebenaran dan keadilan seperti apa yang mesti disuarakan seorang jurnalis?

Ada satu jawaban penting dari Bill Kovach dan Tim Rosenstiel dalam buku “Sembilan Elemen Jurnalisme”. Keduanya menempatkan kebenaran sebagai elemen pertama jurnalisme. Kok bisa?

Gambaran untuk mendekati kebenaran dalam jurnalisme, setidaknya demikian menurut dua tokoh pers Amerika itu, melalui kebenaran fungsional. Kebenaran yang didasarkan pada peran dan fungsi pejabat dan jabatan publik. Ada prosedur dan sistem dalam kebenaran fungsional. Pun, pada jabatan publik. Andreas Harsono, jurnalis senior itu, pernah menerjemahkan begini:

“Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional.”

Jika ada yang melenceng dari tugasnya masing-masing, maka itu bisa menjadi sumber berita, terlepas dari adanya pandangan minor. Memang tak mudah. Tetapi begitulah tugas jurnalis dan atau pers ketika menyuarakan kebenaran. Ia akan selalu menempuh jalan membentur dan penuh pintu. Dengan harapan, demokrasi tetap berdiri. Demi menempuh jalan itu, tentu seperti Jin Yi Wei, jurnalis juga memerlukan bekal senjata.

Jurnalis bukanlah Jin Yi Wei dalam arti sebenarnya yang bersenjata pedang. Senjata jurnalis adalah juga senjata yang bisa menghancurkan segalanya. Jika Jin Yi Wei bersenjata pedang, jurnalis bersenjata kata-kata dan semacamnya. Dan dengan kata-kata, siapapun bisa terbunuh. Karena dampak itu, senjata jurnalis perlu arah yang tepat agar tak salah makna dan sasaran. Panduannya tentu kode etik jurnalis(tik). Agar ampuh, senjata pun perlu diasah dan diperkuat. Berita, karena itu, menjadi tak cuma sekadar memberikan echo chamber effect (bunyi yang hanya gema namun tanpa suara).

Meski begitu, mudah-mudahan, nasib jurnalis tak seperti Qinlong. Qinlong memang berhasil membunuh sang pengkhianat. Ia pun mampu menggagalkan pemberontakan. Tetapi, ia taklagi hidup  setelah menjalani sebuah pertarungan hebat. Sementara kekasihnya hanya bisa menunggu penuh rindu di depan gerbang kota sambil mengenakan penutup kepala berwarna putih. ***

INTREND lainnya

Tinggalkan komentar