Intrend.id – Jumlah penonton Ghost in the Cell film horor terbaru garapan Joko Anwar naik sejak hari pertama tayang. Dirilis pada 16 April 2026, film ini sukses mengumpulkan 154.279 penonton di hari perdana.
Jumlah penonton Ghost in the Cell tersebut terus naik cepat. Di hari kedua, total penonton sudah menembus 304 ribu lebih.
Lalu pada hari ketiga, film ini resmi melewati angka 500 ribu penonton. Data ini dilaporkan oleh Cinepoint dan langsung bikin film ini jadi salah satu yang paling ramai dibicarakan.
Dibintangi oleh Abimana Aryasatya dan Lukman Sardi, “Ghost in the Cell” dinilai sebagai proyek berani. Bukan cuma dari cerita, tapi juga dari cara penyajiannya yang beda dari horor kebanyakan.
Secara global, film ini juga bikin gebrakan. “Ghost in the Cell” dipastikan tayang di 86 negara, mulai dari Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Australia dan Asia Selatan. Distribusinya bahkan melibatkan Plaion Pictures untuk wilayah Eropa.
Baca:
Film Joko Anwar Ghost in the Cell Tembus 86 Negara, Go Internasional
Sebelum rilis luas, film ini lebih dulu mencuri perhatian di Berlinale 2026. Respons positif dari penonton internasional membuat film ini cepat diamankan untuk pasar global.
Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A, film ini jadi salah satu proyek Indonesia dengan jangkauan internasional terbesar saat ini.
Dari sisi cerita, “Ghost in the Cell” punya konsep yang unik dan out of the box. Berlatar di penjara brutal yang penuh korupsi, para napi harus menghadapi teror makhluk gaib yang membunuh berdasarkan “aura negatif”.
Yang bikin beda, napi dan sipir yang biasanya bermusuhan justru dipaksa kerja sama. Mereka harus berlomba jadi “orang baik” demi bertahan hidup dari ancaman tersebut.
Genre film ini juga campur aduk tapi tetap solid. Ada horor, aksi, komedi gelap, sampai kritik sosial yang terasa kuat. Elemen gore, slapstick, hingga nuansa absurd bikin pengalaman nonton jadi nggak monoton.
Menurut Joko Anwar, film ini bukan sekadar hiburan. Ada pesan soal kekuasaan, sistem korup, dan kebenaran yang sering disembunyikan.
“Ini film tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutup-tutupi, dan saat akhirnya muncul ke permukaan,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Produser Tia Hasibuan juga menilai pencapaian ini jadi bukti kalau kualitas film Indonesia makin diakui dunia. Banyaknya negara yang membeli hak tayang menunjukkan daya tarik kuat di pasar internasional.
Dengan tren positif ini, “Ghost in the Cell” berpotensi terus menambah jumlah penonton dalam beberapa hari ke depan. Apalagi hype di media sosial masih tinggi dan word of mouth terus berkembang.
Kalau peningkatan jumlah penonton Ghost in the Cell film konsisten, bukan nggak mungkin film ini bakal jadi salah satu box office terbesar tahun ini. Sekaligus membuka jalan lebih lebar buat film Indonesia untuk tampil di panggung global. (*)
Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan