Kisah Ruslana Korshunova yang Terkuak Usai Epstein File Dibuka di Tahun 2026

Intrend.id – Nama Ruslana Korshunova, model muda asal Kazakhstan yang dijuluki “Rapunzel Rusia” kembali mencuat setelah dokumen kasus Jeffrey Epstein file yang dibuka ke publik pada awal 2026. Tampaknya kisah ini jauh dari lampu runway yang selalu tampak terang. Tapi di balik glamor dan kilau kamera memantul di mata dunia itu, ada kisah gelap yang baru kini kembali disorot.
Ruslana Ruslana Korshunova bukan sekadar wajah cantik di halaman majalah. Ia adalah model berbakat dengan karier yang melesat cepat. Lahir pada 2 Juli 1987, Korshunova mencuri perhatian dunia mode lewat kampanye Nina Ricci pada 2006, serta tampil di majalah elite seperti Vogue dan bekerja dengan desainer papan atas seperti Vera Wang. Rambut panjangnya yang ikonik membuatnya dijuluki Rapunzel Rusia—simbol kecantikan, kemurnian, dan masa depan cerah.
Namun di usia 18 tahun, hidupnya berbelok tajam.
Dokumen pengadilan yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein files mengungkap bahwa Ruslana pernah terbang menggunakan pesawat pribadi Epstein yang dikenal sebagai “Lolita Express” menuju pulau Little St James, dua tahun sebelum kematiannya. Perjalanan itu terjadi saat ia masih sangat muda—usia yang secara psikologis masih rapuh, terlebih di industri yang keras seperti dunia mode.
Nama Ruslana muncul dalam korespondensi Epstein pascakematian sang model. Dalam email yang kemudian dipublikasikan, Epstein bahkan menyebut kematian Ruslana sambil menyalahkan orang-orang di sekitarnya. Rangkaian dokumen lain memperlihatkan betapa nama Ruslana terus “hidup” dalam arsip Epstein, meski sang model telah tiada. Ini sedikit memberi jawaban apa itu Epstein.
Dua tahun setelah kunjungan ke pulau tersebut, pada 28 Juni 2008, Ruslana Korshunova ditemukan meninggal dunia di apartemennya di 130 Water Street, Distrik Keuangan Manhattan, New York. Ia wafat di usia 20 tahun—usia ketika mimpi seharusnya sedang tinggi-tingginya, bukan berakhir.
Polisi menyatakan tidak ditemukan tanda kekerasan di lokasi. Namun kepergiannya meninggalkan banyak tanda tanya. Teman-teman terdekat mengaku tidak melihat tanda-tanda niat mengakhiri hidup. Justru sebaliknya, Ruslana dikenal tertutup soal luka batinnya, menyimpannya rapi seperti rahasia mahal yang tak pernah dipamerkan.
Petunjuk paling jujur justru datang dari tulisannya sendiri.
Dalam pesan terakhir yang dikutip sejumlah media internasional, Ruslana menulis kalimat yang kini terasa memilukan: “Saya telah hilang. Apakah saya akan bisa menemukan diri saya sendiri?” Kalimat lain menyiratkan rasa hancur yang mendalam—tentang kehilangan, kebingungan, dan rasa tidak dicintai. Bukan teriakan, tapi bisikan lelah dari seseorang yang merasa tercerabut dari jati dirinya.
Beberapa laporan menyebut Ruslana sempat menjalani perawatan psikologis dan mengikuti berbagai pelatihan pengembangan diri. Ada pula spekulasi soal gangguan bipolar, meski hal itu tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. Yang jelas, beban mental yang ia tanggung jauh lebih berat dari senyum yang ia tunjukkan di depan kamera.
Kasus Ruslana juga kerap dikaitkan dengan model lain, Anouska De Georgiou, yang secara terbuka bersaksi sebagai korban Epstein dan Ghislaine Maxwell. Catatan penerbangan dan kesaksian pengadilan menunjukkan pola yang sama: model muda, dijanjikan kesempatan, lalu terseret dalam lingkaran elit yang predatoris.
Dokumen yang dirilis Januari 2026 kembali menyalakan diskusi lama: berapa banyak korban yang tak pernah bersuara? Berapa banyak kisah yang terpotong sebelum sempat utuh?
Ruslana Korshunova bukan sekadar angka dalam arsip Epstein. Ia adalah manusia, anak muda, seorang perempuan yang bermimpi besar di dunia yang keras. Kisahnya menjadi pengingat pahit bahwa industri glamor tak selalu ramah, dan kekuasaan yang tak diawasi bisa menghancurkan siapa saja—diam-diam, perlahan, mematikan.
Hari ini nama Ruslana Korshunova kembali disebut. Bukan untuk sensasi, tapi untuk mengingat. Bahwa di balik setiap dokumen hukum, ada nyawa. Di balik setiap foto cantik, ada jiwa yang bisa retak. Dan bahwa perlindungan terhadap anak muda, khususnya di industri hiburan dan mode, bukan pilihan, melainkan kewajiban. (*)









