Intrend.id – Nama Alejandro González (G.) Iñárritu merupakan sutradara yang mampu membuat penonton terpukau sekaligus berpikir keras setelah film selesai. Tak percaya? Tonton saja satu di antara beberapa judul yang tersebut di bawah ini.
Alejandro G. Iñárritu hampir pasti masuk dalam daftar teratas kategori film macam begitu. Deras, kental, seperti aliran lumpur saat banjir bandang. Ke mana arahnya? Sekali lagi, simak saja filmnya.
Sutradara asal Meksiko kelahiran 1963 ini dikenal sebagai salah satu sineas paling berpengaruh dalam perfilman modern berkat gaya berceritanya yang unik, emosional, sekaligus penuh eksperimen.
Film-film garapannya hampir tidak pernah mengikuti pola Hollywood pada umumnya. Ia lebih suka mengajak penonton menyelami sisi paling rumit dari kehidupan manusia, mulai dari kehilangan, penyesalan, rasa bersalah, hubungan antarmanusia, hingga perjuangan mencari harapan di tengah situasi yang nyaris mustahil.
Ciri khas lain Iñárritu adalah penggunaan alur nonlinier, cerita yang saling terhubung, sinematografi yang memukau, serta karakter-karakter dengan konflik emosional yang terasa sangat nyata.
Tak heran jika sepanjang kariernya ia berhasil mengoleksi lima Academy Awards, termasuk dua penghargaan Best Director secara beruntun lewat Birdman (2014) dan The Revenant (2015). Prestasi itu menempatkannya di jajaran elite sutradara dunia yang mampu menjembatani film arthouse dengan tontonan berskala blockbuster.
Kini, namanya kembali menjadi sorotan berkat film terbaru Digger yang dibintangi Tom Cruise. Namun sebelum film tersebut tayang, tidak ada salahnya melihat kembali lima karya terbaik yang membentuk reputasi besar Alejandro G. Iñárritu.
Amores Perros (2000), Debut Spektakuler yang Mengubah Perfilman Amerika Latin
Kalau ada satu film yang menjadi titik awal kesuksesan Iñárritu, jawabannya adalah Amores Perros.
Film debut ini langsung mencuri perhatian dunia saat diputar di Festival Film Cannes tahun 2000. Bersama penulis Guillermo Arriaga, Iñárritu menghadirkan cerita yang tidak biasa melalui tiga kisah berbeda yang saling terhubung akibat sebuah kecelakaan mobil.
Cerita pertama mengikuti seorang pemuda yang terjebak dalam dunia pertarungan anjing ilegal. Kisah kedua menampilkan seorang model yang hidupnya berubah total setelah kecelakaan tersebut, sementara cerita ketiga berfokus pada seorang pembunuh bayaran yang berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang putri.
Alih-alih menghadirkan tokoh protagonis yang sempurna, seluruh karakter di film ini dipenuhi luka batin, kesalahan, dan keputusan-keputusan yang sering kali membawa mereka ke situasi semakin rumit.
Itulah yang membuat Amores Perros terasa begitu manusiawi.
Secara visual, film ini juga tampil sangat berani. Penggunaan kamera handheld membuat setiap adegan terasa dekat dan realistis, seolah penonton benar-benar berada di tengah hiruk-pikuk Kota Meksiko.
Musik garapan Gustavo Santaolalla semakin memperkuat atmosfer emosional film ini. Hingga kini, soundtrack Amores Perros masih dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah perfilman Amerika Latin.
Kesuksesan film tersebut bukan hanya mengangkat nama Iñárritu ke panggung internasional, tetapi juga melambungkan karier Gael García Bernal, yang kemudian menjadi salah satu aktor paling terkenal asal Meksiko.
Banyak kritikus juga menyebut Amores Perros sebagai awal kebangkitan generasi emas sineas Meksiko bersama Alfonso Cuarón dan Guillermo del Toro.
21 Grams (2003), Drama Emosional yang Menguras Perasaan
Tiga tahun setelah sukses lewat Amores Perros, Iñárritu mencoba menembus Hollywood melalui film 21 Grams.
Meski menggunakan aktor papan atas seperti Sean Penn, Naomi Watts, dan Benicio del Toro, ia tetap mempertahankan ciri khasnya berupa alur cerita yang meloncat-loncat.
Di awal menonton, mungkin banyak penonton merasa bingung.
Namun justru di situlah letak keistimewaan film ini.
Sedikit demi sedikit, potongan-potongan cerita mulai tersusun hingga akhirnya membentuk satu tragedi besar yang menghubungkan kehidupan tiga orang asing.
Sean Penn berperan sebagai seorang profesor matematika yang menerima transplantasi jantung.
Jantung tersebut ternyata berasal dari seorang pria yang tewas akibat tabrak lari.
Naomi Watts memerankan istri korban yang harus menghadapi kehilangan mendalam, sementara Benicio del Toro tampil sebagai mantan narapidana yang tanpa sengaja menyebabkan kecelakaan tersebut.
Alih-alih menyajikan drama yang mudah ditebak, Iñárritu mengajak penonton merasakan bagaimana rasa bersalah, kehilangan, dan penyesalan mampu menghancurkan hidup seseorang.
Judul 21 Grams sendiri diambil dari teori lama yang menyebut jiwa manusia memiliki berat sekitar 21 gram ketika meninggalkan tubuh saat meninggal dunia.
Walaupun teori tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah, konsep itu menjadi metafora menarik tentang kehidupan, kematian, dan arti sebuah kesempatan kedua.
Penampilan Naomi Watts dan Benicio del Toro bahkan mendapat nominasi Oscar berkat akting emosional mereka yang luar biasa.
Film ini juga menjadi bukti bahwa Iñárritu mampu mempertahankan identitas artistiknya meski telah memasuki industri Hollywood.
Babel (2006), Saat Satu Peluru Mengubah Nasib Banyak Orang
Jika Amores Perros bercerita tentang satu kota dan 21 Grams berfokus pada tiga kehidupan, maka Babel membawa skala cerita menjadi jauh lebih besar.
Film ini menjadi penutup dari trilogi yang sering disebut sebagai Trilogi Kematian.
Berlatar di empat negara berbeda—Maroko, Amerika Serikat, Meksiko, dan Jepang— Babel memperlihatkan bagaimana satu kejadian kecil dapat memicu konsekuensi yang luar biasa besar di berbagai belahan dunia.
Semuanya bermula dari sebuah senapan.
Benda sederhana itu berpindah tangan hingga akhirnya memicu serangkaian tragedi yang melibatkan banyak orang dengan latar budaya yang sama sekali berbeda.
Brad Pitt dan Cate Blanchett tampil sebagai pasangan suami istri yang sedang berlibur di Maroko ketika insiden tak terduga terjadi.
Di sisi lain, seorang pengasuh asal Meksiko harus menghadapi persoalan pelik di perbatasan Amerika Serikat.
Sementara di Jepang, seorang remaja perempuan tuna rungu berusaha menemukan tempatnya di tengah dunia yang terasa begitu sunyi.
Melalui kisah-kisah tersebut, Iñárritu ingin menunjukkan bahwa manusia sebenarnya saling terhubung, meski dipisahkan oleh bahasa, budaya, maupun negara.
Babel bukan sekadar drama keluarga.
Film ini juga menjadi kritik terhadap miskomunikasi global, prasangka budaya, hingga dampak globalisasi terhadap kehidupan manusia modern.
Visual yang indah dipadukan dengan musik Gustavo Santaolalla membuat setiap adegan terasa emosional tanpa perlu banyak dialog.
Tak mengherankan bila Babel memenangkan Golden Globe untuk Film Drama Terbaik, memperoleh tujuh nominasi Oscar, serta mengantarkan Iñárritu meraih penghargaan Best Director di Festival Film Cannes.
Meski sebagian penonton menganggap cerita film Alejandro G. Iñárritu terlalu kompleks, hingga kini Babel tetap dianggap sebagai salah satu film lintas negara terbaik yang pernah dibuat. (*)




