Viral Kasus Hoarding Disorder di Tangsel, Kamar Penyewa Penuh Sampah

Intrend.id – Kasus kamar kontrakan penuh sampah karena penyewa idap hoarding disorder terjadi di Lengkong Tangerang Selatan (Tangsel) viral di TikTok. Video yang diunggah akun Fitriana Eka beredar luas pada Jumat, 27 Maret 2026.
Kasus hoarding disorder di Tangsel itu langsung bikin netizen kaget sekaligus prihatin. Dalam video tersebut, terlihat kondisi kamar yang dipenuhi tumpukan sampah berjejal hingga nyaris tak bisa dipakai.
Yang bikin makin shocking, penghuni kontrakan itu ternyata sudah tinggal selama 7 tahun dan diduga mengalami Hoarding Disorder.
Menurut pengunggah, awalnya ia cuma mau ngecek kamar karena ada suara kipas angin yang masih nyala saat penyewa mudik Lebaran. Tapi pas pintu dibuka, pemandangannya bikin syok.
“Ini orang udah 7 tahun ngontrak di kontrakan bibi saya. Orangnya tertutup jarang interaksi, kegiatannya cuma pergi kerja, pulang kerja dan beli makan. Nah ini video yang saya rekam pas ingin mengecek suara kipas angin itu. Ternyata astagfirullah isinya sampah semua,” ujarnya dalam video yang langsung viral di berbagai platform Jumat 27 Maret 2026.
Yang lebih mengherankan, penyewa kamar tersebut ternyata bekerja di perusahaan besar dan punya penampilan yang terlihat normal. Bahkan, ia rutin laundry pakaian, jadi dari luar nggak ada tanda-tanda mencurigakan.
Namun, perubahan mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Penyewa disebut sudah tak pernah buang sampah, tak pernah bersih-bersih, dan kamar mulai mengeluarkan bau tak sedap.
“Penampilannya ya normal aja gak dekil/gembel. Tahun-tahun awal dia ngontrak biasa aja normal tapi kesini-kesini dia nggak pernah buang sampah, nggak pernah nyapu, nggak pernah ngepel, dan mulai kecium bau tidak sedap,” ungkapnya lagi.
Fenomena ini langsung memicu diskusi luas. Banyak netizen awalnya mengira ini sekadar malas atau jorok. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi tanda gangguan mental serius.
Secara medis, Hoarding Disorder adalah kondisi seseorang yang kesulitan membuang barang, bahkan barang tak bernilai sekalipun. Penderitanya merasa barang-barang itu penting atau akan dibutuhkan di masa depan, sehingga muncul dorongan kuat untuk terus menyimpan.
Akibatnya, barang menumpuk dan bikin ruang hidup jadi disfungsi. Dalam kasus parah, kamar tak bisa dipakai tidur, dapur tak bisa dipakai masak, bahkan jalan di dalam rumah pun jadi susah.
Gangguan ini juga bisa berdampak besar ke kehidupan sosial dan kesehatan. Risiko kebakaran, penyakit, hingga konflik dengan lingkungan sekitar bisa meningkat.
Menariknya, Hoarding Disorder bukan hal langka. Diperkirakan sekitar 2–6 persen populasi dunia mengalaminya. Kondisi ini bisa muncul sejak remaja, tapi biasanya makin parah seiring bertambahnya usia.
Penyebabnya pun kompleks, mulai dari faktor genetik, trauma, hingga masalah dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan emosi. Banyak penderita juga tak sadar kalau dirinya mengalami gangguan ini.
Penanganan gejala kesehatan mental ini tak bisa sembarangan. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) jadi metode utama, dengan fokus membantu penderita belajar memilah dan membuang barang secara bertahap. Pendekatan harus dilakukan secara perlahan dan penuh empati.
Kasus hoarding disorder di Tangsel di Tangsel ini jadi pengingat kalau kondisi seperti ini bukan sekadar “jorok” atau malas. Ada aspek kesehatan mental yang perlu dipahami dan ditangani dengan serius. Netizen pun diimbau untuk nggak langsung menghakimi, tapi lebih mengedepankan empati. Karena di balik tumpukan sampah, ada masalah yang jauh lebih kompleks. (*)









