Dugaan Match Fixing Guncang Tim Nasional Sepak Bola Laos, LFF Laporkan Kasus ke Polisi
Intrend.id – Federasi Sepak Bola Laos (LFF) melaporkan dugaan pengaturan pertandingan atau match fixing yang melibatkan sejumlah pemain Tim Nasional mereka kepada kepolisian dan Kementerian Keamanan Publik.
Laporan dugaan pengaturan pertandingan atau match fixing Tim Nasional Sepak Bola tersebut muncul setelah performa Laos di ASEAN Championship 2026 menjadi sorotan. LFF mengirim surat permintaan penyelidikan pada 7 Agustus 2026. Kasus itu kemudian mencuat ke publik pada pertengahan Agustus.
“Federasi Sepak Bola Laos (LFF) secara resmi telah meminta Kepolisian Laos untuk menyelidiki dugaan pengaturan skor yang melibatkan anggota tim nasional Laos selama turnamen ASEAN Hyundai Cup 2026. Laos kalah dalam keempat pertandingan babak grup mereka,” tulis akun X ASEAN Football, Kamis 13 Agustus 2026.
Laos menutup perjalanan di Grup B dengan hasil sangat buruk. Mereka kalah dalam empat pertandingan dan finis di posisi terbawah.
Timnas Laos Kalah Telak Empat Kali
Timnas Laos tidak mampu meraih satu pun poin sepanjang fase grup. Mereka juga hanya mencetak tiga gol dan kebobolan 20 gol.
Berikut hasil pertandingan Laos di ASEAN Championship 2026:
– Laos 0-5 Thailand, 25 Juli 2026.
– Laos 0-4 Malaysia, 28 Juli 2026.
– Laos 1-4 Filipina, 1 Agustus 2026.
– Myanmar 7-2 Laos, 4 Agustus 2026.
Rentetan kekalahan tersebut sebenarnya sudah menjadi perhatian. Namun, sejumlah kejadian di lapangan membuat kecurigaan semakin besar.
LFF kemudian meminta aparat penegak hukum menyelidiki kemungkinan adanya manipulasi skor, suap, hingga keterlibatan pemain dalam aktivitas perjudian ilegal.
Dua Gol Bunuh Diri Jadi Sorotan
Salah satu momen yang paling disorot terjadi ketika bek Laos Viengxay Sydavong mencetak dua gol bunuh diri.
Gol pertama terjadi saat Laos menghadapi Malaysia. Ia kembali mencetak gol ke gawang sendiri ketika Laos bertemu Filipina.
Selain itu, Laos juga mendapat tiga kartu merah sepanjang turnamen.
Phetdavanh Somsanith menjadi salah satu pemain yang mendapat sorotan. Ia menerima kartu merah langsung saat menghadapi Thailand. Setelah menjalani hukuman, ia kembali mendapat kartu merah langsung ketika melawan Filipina.
Penampilan kiper Keo Souvannasangsgo dalam pertandingan melawan Malaysia juga ramai diperbincangkan. Responsnya ketika menghadapi tendangan bebas lawan dinilai janggal oleh sebagian penonton.
Namun, seluruh kejadian tersebut masih sebatas bahan penyelidikan. Belum ada pemain yang dinyatakan bersalah.
Seluruh Pemain Dipanggil untuk Dimintai Keterangan
Menurut laporan yang beredar, LFF memanggil seluruh skuad untuk menjalani pemeriksaan internal pada 2 dan 6 Agustus.
Dari proses tersebut, federasi menemukan sejumlah indikasi yang dianggap perlu ditindaklanjuti. LFF kemudian membawa perkara tersebut ke aparat keamanan.
Polisi diharapkan memeriksa pemain dan staf tim. Penyelidikan juga akan melihat kemungkinan adanya suap, pengaturan skor, serta aktivitas taruhan ilegal.
Sampai saat ini belum ada nama pemain yang secara resmi diumumkan sebagai tersangka.
Karena itu, tudingan terhadap individu tertentu belum bisa dianggap sebagai fakta. Proses hukum masih berjalan untuk mencari bukti dan memastikan apakah benar terjadi pelanggaran.
Laos Pernah Terseret Isu Match Fixing
Kasus terbaru ini bukan persoalan pertama yang mengaitkan sepak bola Laos dengan dugaan pengaturan pertandingan.
Sepak bola Laos sebelumnya juga pernah menghadapi persoalan terkait integritas pertandingan. Isu tersebut membuat perhatian terhadap tata kelola sepak bola dan perlindungan pemain kembali meningkat.
Dalam regulasi sepak bola ASEAN, pengaturan pertandingan merupakan pelanggaran yang dapat dikenai sanksi. Kebijakan anti-match fixing AFF juga membuka ruang kerja sama dengan penegak hukum serta badan sepak bola internasional untuk menangani dugaan manipulasi pertandingan.
Dampaknya Bisa Panjang
Dugaan match fixing menjadi pukulan berat bagi sepak bola Laos.
Bukan cuma soal hasil pertandingan. Kasus seperti ini bisa memengaruhi kepercayaan suporter, sponsor, dan publik terhadap tim nasional.
Jika penyelidikan menemukan bukti kuat, individu yang terlibat bisa menghadapi sanksi disipliner sepak bola dan proses hukum sesuai aturan yang berlaku.
Sebaliknya, jika bukti tidak cukup, para pemain yang dicurigai harus tetap mendapatkan perlindungan dari tuduhan yang belum terbukti.
Hingga pertengahan Agustus 2026, LFF maupun kepolisian Laos belum mengumumkan hasil akhir penyelidikan atau menetapkan tersangka secara terbuka.
Kasus yang mendera Tim Nasional Sepak Bola Laos ini masih bergulir. Dunia sepak bola Asia Tenggara kini menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan apakah buruknya performa Laos di ASEAN Championship 2026 memang sekadar masalah teknis atau ada persoalan yang jauh lebih serius di baliknya. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









