Film Dokumenter Pesta Babi Viral, Ratusan Titik Nobar tapi di Kampus Dibubarkan
Intrend.id – Film dokumenter Pesta Babi ramai menjadi perbincangan publik. Pada 2 Mei 2026, tercatat sudah ada sekitar 130 titik nonton bareng atau nobar yang digelar di berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai ke Turki.
Informasi itu dibagikan akun Indonesia Baru lewat media sosial mereka. Komunitas-komunitas warga, mahasiswa, hingga kelompok diskusi ikut menggelar pemutaran film secara mandiri di kota masing-masing.
“Kalau belum ada di kotamu, kamu bisa bikin nobar sendiri bareng teman-teman atau komunitasmu. Daftar dan cek ketentuannya di bit.ly/musimnobar_pestababi,” tulis akun tersebut pada 2 Mei 2026 lalu.
Film dokumenter karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono itu mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari proyek besar yang mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi.
Di balik proyek tersebut, film ini juga menyoroti isu militerisasi hingga sejarah panjang eksploitasi sumber daya di Papua yang selama ini jarang muncul secara terbuka ke publik.
Popularitas film ini makin melejit setelah sejumlah pemutaran di kampus mengalami pembubaran. Salah satu yang ramai dibahas terjadi di Universitas Mataram atau Unram pada Kamis, 7 Mei 2026.
Saat itu mahasiswa sedang memasang layar dan menyiapkan pemutaran film di halaman kampus. Namun, kegiatan tersebut dihentikan pihak rektorat dengan alasan tidak mengantongi izin resmi.
Video pembubaran nobar pun langsung viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, sejumlah petugas keamanan kampus tampak menutupi layar sementara proyektor dan laptop mahasiswa diawasi aparat kampus.
Mahasiswa juga menyebut ada personel intelijen kepolisian dan TNI yang memantau kegiatan dari kejauhan. Wakil Rektor III Unram, Sujita, kemudian menemui mahasiswa dan menyatakan pemutaran film tidak diperbolehkan dilakukan di area kampus.
“Tidak ada alasan, pokoknya tidak boleh menonton,” ujar Sujita dalam video yang beredar pada Jumat 8 Mei 2026.
Meski dibubarkan, mahasiswa tetap melanjutkan nobar sekitar 50 meter di luar area kampus, tepatnya di sebuah kafe. Ratusan penonton akhirnya tetap menyaksikan film hingga selesai dan melanjutkan agenda diskusi.
Mahasiswa menilai pembubaran tersebut menjadi tanda kampus mulai kehilangan ruang demokrasi bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan bertukar gagasan.
“Kami dihadapkan birokrasi kampus yang membubarkan secara paksa agenda nobar hari ini. Kampus hari ini sudah tidak lagi menjadi ruang demokrasi bagi mahasiswanya,” kata seorang mahasiswa Unram dalam video yang diunggah Indonesia Baru.
Sebelumnya, pemutaran film yang sama di Universitas Pendidikan Mandalika juga sempat dibubarkan aparat kepolisian pada 25 April 2026.
Meski menghadapi sejumlah penolakan, antusiasme publik terhadap film Pesta Babi justru terus meningkat. Hingga 8 Mei 2026, film tersebut dikabarkan sudah diputar di lebih dari 500 titik, mulai dari sekolah, kampus, komunitas warga, hingga lembaga negara seperti Komnas HAM.
Pemutaran film dokumenter Pesta Babi ini pun diprediksi masih akan terus berlanjut di berbagai daerah selama musim nobar masih dibuka untuk umum. (*)










One Comment