Konflik Amerika dan Iran Melebar ke Bahrain, Indonesia Siap Mediasi

Intrend.id – Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Bahrain memasuki fase meningkat di awal Maret 2026. Hubungan antara Iran dan Bahrain yang sejak lama rapuh kini berubah menjadi konfrontasi militer terbuka, menyusul rangkaian serangan dan serangan balasan dalam hitungan hari.
Sebelum terjadi ketegangan antara Iran dan Bahrain, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke sejumlah target di Iran. Operasi yang oleh sejumlah laporan disebut sebagai “Operation Epic Fury” atau “Roaring Lion” itu menargetkan fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga kompleks pimpinan strategis. Laporan awal menyebutkan ratusan korban jiwa, termasuk warga sipil.
Tak lama Iran merespons serangan itu. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan serangan balasan bertajuk “Operation Truthful Promise 4”. Targetnya jelas: aset militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.
Salah satu titik paling sensitif yang terdampak adalah Bahrain, negara kecil di Teluk yang menjadi tuan rumah markas United States Fifth Fleet di Manama, tepatnya di Naval Support Activity Bahrain.
Bahrain Jadi Sasaran Langsung
Pemerintah Bahrain mengonfirmasi bahwa pangkalan Armada Kelima AS menjadi salah satu target serangan rudal dan drone Iran. Selain itu, laporan menyebutkan adanya ledakan di sekitar wilayah Juffair, termasuk kerusakan pada gedung tinggi dan fasilitas keamanan nasional.
Melalui kantor berita resmi negara, Bahrain News Agency (BNA), pemerintah Bahrain mengecam keras serangan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, keamanan, dan stabilitas nasional”.
Komando Umum Bahrain Defence Force menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar rudal yang masuk dan tidak ada laporan korban jiwa langsung akibat serangan tersebut. Namun langkah darurat, evakuasi, serta operasi pemadaman dan penyelamatan tetap dilakukan.
Situasi ini menandai eskalasi dramatis: dari ketegangan diplomatik menjadi benturan militer langsung di wilayah negara ketiga.
Retaknya Hubungan Lama yang Rapuh
Secara historis, hubungan Iran dan Bahrain telah mengalami ketegangan. Iran pernah mengklaim Bahrain sebagai bagian dari wilayahnya sebelum secara resmi melepas klaim itu pada 1970 lewat proses yang difasilitasi PBB.
Setelah Revolusi Iran 1979, hubungan kedua negara semakin tegang. Bahrain, yang mayoritas penduduknya Syiah tetapi dipimpin monarki Sunni, kerap menuduh Iran mencampuri urusan domestiknya. Sementara Iran menuding Bahrain terlalu dekat dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Hubungan diplomatik keduanya putus pada 2016 dan hingga kini belum sepenuhnya pulih, meski sempat ada sinyal normalisasi pada 2024–2025. Eskalasi terbaru praktis membekukan—bahkan menghancurkan—upaya pencairan hubungan tersebut.
Indonesia Serukan Dialog, Prabowo Siap ke Teheran
Di tengah panasnya situasi, Indonesia mengambil posisi tegas namun moderat. Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang bertikai.
Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) di akun X, 28 Februari 2026, disebutkan bahwa apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi langsung.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian dikutip dari akun X Kemlu, Minggu 1 Maret 2026.
Indonesia juga menyatakan penyesalan atas gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang berujung pada eskalasi militer. Pemerintah menekankan pentingnya menahan diri, menghormati kedaulatan setiap negara, serta menyelesaikan perbedaan melalui jalur damai.
Sebagai negara non-blok, Indonesia kembali menegaskan komitmennya pada diplomasi dan stabilitas global, terlebih mengingat potensi dampak konflik terhadap harga minyak, arus pengungsi, dan keamanan internasional.
Risiko Meluasnya Konflik
Serangan Iran tidak hanya menyasar Bahrain. Negara-negara Teluk lain yang menjadi tuan rumah fasilitas militer AS—seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi, dan Yordania—juga melaporkan pencegatan rudal atau insiden terkait.
Kondisi ini memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas, bahkan berpotensi menyeret kekuatan global ke dalam pusaran perang terbuka. Kedutaan Besar AS di Bahrain dilaporkan menutup sementara layanan akibat ancaman keamanan yang masih berlangsung.
Sementara itu, otoritas Bahrain mengimbau warganya untuk tetap waspada dan mengikuti arahan resmi. Iran, di sisi lain, menyebut aksinya sebagai langkah “pertahanan sah” berdasarkan Piagam PBB sebagai respons atas agresi militer terhadap wilayahnya.
WNI Diimbau Waspada
Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan imbauan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak agar tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, serta menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
“WNI di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat,” ungkap Kemlu di X.
Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia.
Titik Kritis Baru Timur Tengah
Per 1 Maret 2026 dini hari WIB, situasi masih sangat cair dan penuh ketidakpastian. Hubungan Iran dan Bahrain kini berada pada titik nadir, berubah dari rivalitas geopolitik menjadi konfrontasi bersenjata langsung di wilayah strategis Teluk.
Jika konflik Amerika dan Iran yang melebar ke Bahrain tidak segera diredam melalui diplomasi, eskalasi ini bisa menjadi babak baru konflik Timur Tengah yang lebih luas—dengan dampak global yang tak terhindarkan. Di tengah ledakan dan retorika keras, suara dialog menjadi semakin mendesak. Dunia kini menanti: akankah diplomasi menang, atau justru perang yang meluas? (*)









