Lagu Gandhi Sehat Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) Beredar Singkat, EP Ditarik dari Peredaran

Intrend.id – Album penyanyi cilik Gandhi Sehat yang berisi lagu berjudul Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) ditarik dari peredaran. Kabar ini mengguncang dunia musik independen Indonesia karena tak lumrah. Perkara ini bukan datang dari musisi senior, bukan pula dari band besar, melainkan dari seorang bocah enam tahun berambut acak, berisik, dan jujur apa adanya.
Gandhi Sehat sebagai penyanyi dalam album berisi lagu Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) yang ditarik dari peredaran merupakan musisi cilik asal Sleman, Jawa Tengah. Pihak manajemen mendadak harus menarik extended play (EP) atau album mini perdananya itu dari peredaran berbagai platform.
EP tersebut resmi ditarik pada Jumat, 13 Februari 2026, hanya sepekan setelah dirilis ke publik. Momen penarikan ini terasa makin ironis karena bertepatan dengan hari ulang tahun Gandhi yang ke-6, hari ketika yang seharusnya dirayakan dengan kue, lilin, dan tawa, bukan klarifikasi dan take down karya.
Lewat pernyataan resmi di akun Instagram, manajemen Gandhi Sehat mengumumkan penghentian total distribusi EP tersebut dari seluruh platform musik digital. Mereka menyebut keputusan ini diambil secara mandiri, tanpa tekanan atau permintaan dari pihak mana pun. Alasannya satu: dinamika dan beragam tafsir publik yang berkembang di luar niat awal penciptaan karya.
“Album ini sejak awal dibuat sebagai karya seni, berdasarkan cerita dari sudut pandang polos seorang anak usia 6 tahun.”
“Namun setelah melihat dinamika serta berbagai penafsiran yang berkembang di ruang publik, kami memutuskan untuk menghentikan peredarannya,” tulis manajemen.
Sejak awal, EP Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) memang diniatkan sebagai karya seni dari sudut pandang polos seorang anak. Isinya jujur, ceplas-ceplos, kadang berisik, kadang absurd—persis cara anak kecil bercerita tentang dunianya. Namun ketika karya itu dilepas ke ruang publik yang penuh opini, konteks pun ikut berubah.
EP ini berisi enam lagu pendek bergenre punk rock mentah, digarap Gandhi bersama sang ayah. Prosesnya jauh dari kesan industri. Tidak ada polesan berlebihan, tidak ada upaya membuat suara terdengar “rapi”. Justru sebaliknya, musik dibiarkan liar, lugu, dan spontan. Inilah punk versi anak-anak—berisik, polos, dan jujur tanpa filter. Semangat low budget rock dengan nuansa rumahan banget.
Tema lagu-lagunya pun sederhana dan dekat dengan keseharian bocah enam tahun. Dari rasa malas bangun pagi, kesal dimarahi orang tua, kebingungan belajar membaca, sampai imajinasi liar soal alien. Semuanya direkam apa adanya, tanpa pretensi mendidik atau menggurui. Termasuk lagu andalan berjudul Cita-citaku (Ga Jadi Polisi).
Album Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) berisi enam lagu. Judulnya lucu-lucu, seperti Cita-citaku (Ga Jadi Polisi), Kena Marah, Lagi!!!, Belajar Membaca, Bangun! Sudah Siang, Alien Turun ke Bumi, dan Sakit=Bosen.
Dalam liriknya, Gandhi bercerita tentang perubahan mimpi. Dulu ingin jadi polisi karena seragam dan topi, kini berubah pikiran setelah melihat realitas di TV—panas-panasan di jalan, capek, ribet. Reff-nya sederhana, bahkan terdengar lucu, tapi justru di situlah masalah mulai muncul. Di ruang publik yang sensitif, lirik polos anak bisa dibaca ke mana-mana.
Cuplikan lirik lagu Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) yang sempat membuat heboh:
“Dulu aku kepingin jadi polisi…
Pakai seragam dan juga pakai topi…
Tapi sekarang aku nggak mau lagi…
Mendingan jadi penyanyi atau jadi ahli IT…”
Manajemen menilai diskusi yang berkembang mulai menjauh dari konteks awal sebagai ekspresi anak-anak. Agar tak menjadi bola liar, langkah preventif pun diambil. Seluruh konten promosi di media sosial resmi Gandhi Sehat sudah dihapus. Proses penarikan dari Digital Service Provider (DSP) masih berjalan dan diperkirakan memakan waktu beberapa hari.
Manajemen juga menegaskan bahwa penyebaran ulang lagu atau potongan konten di luar kanal resmi setelah tanggal penarikan bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka. Media yang sebelumnya memuat pemberitaan terkait EP tersebut pun diminta menyesuaikan, mengingat materi aslinya sudah tidak tersedia secara resmi.
“Perlu kami sampaikan bahwa segala bentuk penyebaran ulang konten atau lagu yang masih beredar di luar kanal resmi kami bukan lagi menjadi tanggung jawab kami.”
Pihak manajemen menjelaskan keputusan tersebut diambil tanpa paksaan dari pihak mana pun.
Kasus ini langsung memicu diskusi lebih luas soal batas kreativitas, terutama ketika melibatkan anak-anak. Di satu sisi, Gandhi Sehat dipuji karena keberaniannya menabrak pakem musik anak yang biasanya manis dan aman. Di sisi lain, publik diingatkan bahwa ruang digital tak selalu ramah bagi kepolosan.
Peristiwa ini juga mengingatkan publik pada kasus penarikan lagu Bayar Bayar Bayar milik band punk Sukatani pada Februari 2025 lalu yang menyentil polisi. Meski konteks dan pelakunya berbeda, keduanya menunjukkan betapa cepatnya karya seni menjadi bahan tafsir massal di era media sosial.
Meski EP Cita-citaku (Ga Jadi Polisi) milik Gandhi Sehat kini tak lagi beredar, nama bocah ini terlanjur tercatat sebagai fenomena unik di skena musik independen Indonesia. Ia membuktikan bahwa ekspresi bisa lahir dari mana saja—bahkan dari kamar tidur seorang bocah enam tahun di Sleman. Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya: kadang dunia dewasa terlalu ribut untuk mendengar cerita anak-anak dengan tenang. (*)









