Trend in Culture

Saidaiji Eyo Festival 2026 Terbaru Jepang, Ritual 500 Tahun yang Guncang Okayama

Intrend.id – Saidaiji Eyo Festival terbaru Jepang yang kerap dijuluki “Naked Man Festival” atau festival telanjang pria ini memang nyata dan kembali digelar 2026 pada Sabtu, 21 Februari waktu setempat, di kompleks Saidaiji Kannon-in Temple, Kota Okayama. Sesuai tradisi, perhelatan berlangsung setiap Sabtu ketiga bulan Februari dan menjadi salah satu festival paling unik sekaligus sakral di Negeri Sakura.

Saidaiji Eyo Festival 2026 terbaru Jepang diikuti sekitar 9.000–10.000 pria mengenakan fundoshi (kain cawat putih tradisional) memadati aula utama kuil untuk mengikuti ritual perebutan dua batang kayu suci yang disebut shingi. Meski kerap disorot karena visualnya yang ekstrem, festival ini sejatinya merupakan ritual keagamaan Buddha yang telah berlangsung lebih dari 500 tahun dan ditetapkan sebagai Important Intangible Folk Cultural Property oleh pemerintah Jepang melalui Agency for Cultural Affairs (Bunka-cho).

Akar Sejarah Lebih dari Lima Abad

Menurut situs resmi kuil Saidaiji, sejarah ritual ini dapat ditelusuri hingga Era Nara (710–784), ketika pendeta Anryu memperkenalkan doa Shusho-e dari Todaiji ke Saidaiji. Dalam perkembangannya, para peserta melepas pakaian agar lebih leluasa bergerak saat berebut jimat kayu, sekaligus menjalani ritual pemurnian diri dengan air dingin.

Japan National Tourism Organization (JNTO) juga mencatat bahwa akar modern festival ini bisa dilacak hingga 1510, ketika kepala pendeta saat itu membagikan jimat keberuntungan kepada para peziarah. Dari sinilah tradisi perebutan shingi berkembang menjadi ritual massal yang dikenal sekarang.

NHK World dalam program dokumenter MATSURI: The Heartbeat of Japan bahkan menyebut Saidaiji Eyo sebagai “kebanggaan komunitas” dengan sejarah lebih dari lima abad.

Ritual Puncak: Lampu Dipadamkan, Shingi Dilempar

Prosesi dimulai dengan penyucian diri. Ribuan pria menyiram tubuh mereka dengan air dingin sebagai simbol pembersihan spiritual. Menjelang pukul 22.00 waktu setempat, lampu aula utama dipadamkan.

Dalam kegelapan total, para pendeta melempar dua batang shingi ke tengah kerumunan. Seketika, ribuan peserta berdesakan, berteriak, dan saling berebut untuk mendapatkan kayu suci tersebut.

Dua pria yang berhasil menggenggam shingi diyakini akan memperoleh keberuntungan dan kemakmuran sepanjang tahun, serta dijuluki sebagai pria paling beruntung tahun itu.

Insiden 2026: Enam Orang Terluka

Festival 2026 berlangsung sesuai jadwal tanpa pembatalan. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, puncak acara memicu kepadatan ekstrem.

Laporan media Jepang seperti Yomiuri Shimbun dan NHK menyebut enam peserta dilarikan ke rumah sakit akibat desakan massa, tiga di antaranya sempat tidak sadarkan diri. Tidak ada korban jiwa, tetapi kepolisian setempat melakukan investigasi terkait insiden tersebut.

Meski begitu, panitia menyatakan belum ada rencana perubahan signifikan terhadap format tradisional festival.

Bukan Sekadar “Festival Telanjang”

Sering kali publik internasional hanya melihat sisi “nyaris telanjang” dari Hadaka Matsuri. Padahal, aspek tersebut muncul karena alasan historis dan praktis—agar peserta dapat bergerak bebas dalam kerumunan padat.

Okayama Prefectural Tourism Official Site menyebut festival ini sebagai salah satu dari “tiga festival eksentrik utama Jepang”, tetapi tetap menekankan nilai sakralnya sebagai ritual memohon keberuntungan, kesehatan, dan perlindungan dari kesialan.

Acara ini juga secara tradisional bersifat laki-laki dalam ritual utama. Tidak ada unsur sensual atau tindakan tabu; yang terjadi adalah kompetisi fisik intens dalam konteks religius.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Penetapan sebagai Aset Budaya Rakyat Takbenda Penting Nasional (Important Intangible Folk Cultural Property) Jepang menegaskan bahwa Saidaiji Eyo bukan sekadar tontonan unik, melainkan bagian penting dari identitas budaya Jepang.

Bagi masyarakat Okayama, festival ini adalah simbol solidaritas, keberanian, dan harapan. Ribuan pria rela menghadapi suhu dingin dan risiko cedera demi kesempatan menyentuh simbol keberuntungan.

Saidaiji Eyo Hadaka Matsuri 2026 ini baru saja berlangsung “tadi malam” dan kembali membuktikan bahwa tradisi berusia lima abad itu masih hidup, berdenyut, dan tetap menarik perhatian dunia.

Saidaiji Eyo Festival 2026 terbaru Jepang bagi wisatawan adalah pengalaman budaya yang luar biasa—namun perlu persiapan fisik, mental, dan penghormatan terhadap nilai sakral yang melandasinya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status