Skandal Biksu Thailand Viral, Tersandung Kasus Penggelapan dan Video Intim
Intrend.id – Kasus skandal biksu mengguncang komunitas Buddha Thailand. Polisi menangkap mantan abbot atau kepala biara Wat Phutthaisawan, Phra Wachirayan, terkait dugaan penggelapan dana kuil dan pencucian uang.
Kasus skandal biksu Thailand yang juga dikenal dengan nama Luang Por Atichote Thammavaro atau Luang Pho Atichoti ini membuat heboh dan viral di media sosial. Biksu berusia 66 tahun itu ditangkap aparat Crime Suppression Division sekitar 10 September 2026 berdasarkan surat perintah dari Central Criminal Court for Corruption and Misconduct.
Ia menghadapi sejumlah tuduhan, mulai dari penggelapan harta oleh pejabat, penyalahgunaan wewenang, konspirasi pencucian uang hingga pencucian uang.
Kasus ini makin ramai setelah polisi menemukan sejumlah aset bernilai tinggi di kamar sang mantan abbot.
Polisi Temukan Emas dan Patung Buddha
Dalam penggeledahan, polisi menemukan batangan emas bernilai jutaan baht serta patung Buddha emas dengan berat sekitar dua kilogram.
Selain itu, aparat juga menyita uang tunai, perhiasan, jimat Buddha bernilai tinggi dan dokumen kepemilikan tanah.
Nilai total aset yang ditemukan disebut mencapai puluhan hingga ratusan juta baht dalam berbagai laporan. Namun, penyidik masih menelusuri aset mana yang merupakan milik pribadi dan mana yang berkaitan dengan dana kuil.
Penyelidikan bermula dari laporan anonim mengenai pengelolaan keuangan Wat Phutthaisawan.
Polisi menduga lebih dari 20 tanda terima donasi diterbitkan atas nama kuil selama lebih dari dua tahun. Dana yang seharusnya masuk ke rekening resmi kuil diduga dialihkan dan tidak tercatat dalam pembukuan.
Kerugian sementara disebut mencapai lebih dari 92 juta baht, atau sekitar Rp40 miliar jika dikonversikan secara kasar.
Dana tersebut diduga berasal dari donasi untuk renovasi kuil serta penjualan jimat dan benda-benda sakral.
Rekan Perempuan Juga Ditangkap
Penyidikan kemudian mengarah kepada seorang perempuan berusia 47 tahun yang diidentifikasi sebagai Punyavee Rungrueang.
Polisi menangkap Punyavee karena diduga membantu mengonversi dan menyembunyikan dana yang berasal dari kuil.
Penggeledahan di kediamannya menemukan uang tunai, batangan emas dan jimat Buddha bernilai tinggi. Polisi juga masih melacak rekening, aset serta pihak lain yang kemungkinan berkaitan dengan kasus tersebut.
Kasus semakin kontroversial setelah penyidik menemukan rekaman CCTV dari area tempat tinggal sang biksu.
Rekaman tersebut diduga memperlihatkan Phra Wachirayan melakukan hubungan seksual dengan Punyavee. Video CCTV itu kemudian ramai dibicarakan dan beredar di media sosial Thailand.
Jika terbukti, tindakan tersebut juga bertentangan dengan aturan kehidupan monastik yang mewajibkan biksu menjalankan disiplin dan selibat.
Biksu Jadi Tersangka Kasus Besar
Phra Wachirayan bukan sosok biasa dalam lingkungan Buddhisme Thailand.
Ia lahir pada 21 November 1959 dan ditahbiskan sebagai biksu pada 22 Januari 1997 di Wat Phutthaisawan. Kariernya di lingkungan Sangha berkembang selama hampir tiga dekade.
Ia menjadi asisten abbot pada 2016, kemudian memperoleh gelar Phra Kru pada 2019. Setelah menjalankan tugas sebagai acting abbot pada 2021, ia resmi menjadi abbot Wat Phutthaisawan pada 2022.
Pada 2024, ia mendapat gelar kerajaan Phra Rajakhana kelas tiga dalam garis Vipassana dengan nama Phra Wachirayan.
Namanya juga dikenal luas di kalangan kolektor jimat Buddha. Ia disebut sebagai pencetus jimat bertema “Above Fate” atau “Nuea Duang” yang populer di kalangan umat dan kolektor.
Wat Phutthaisawan Tetap Jadi Situs Bersejarah
Wat Phutthaisawan merupakan salah satu kuil bersejarah penting di Ayutthaya. Kuil ini didirikan sekitar 1353 oleh Raja Ramathibodi I atau U Thong, pendiri Kerajaan Ayutthaya.
Kompleks kuil berada di tepi barat Sungai Chao Phraya dan memiliki prang bergaya Khmer berwarna putih yang menjadi salah satu ciri khasnya.
Berbeda dengan banyak bangunan di Ayutthaya, Wat Phutthaisawan relatif tetap bertahan setelah serangan Burma pada 1767.
Kasus yang menjerat mantan abbot tersebut tidak menghapus nilai sejarah kuil. Aktivitas keagamaan dan kunjungan masyarakat tetap berjalan, sementara pengelolaan Wat Phutthaisawan kini berada di bawah kepemimpinan acting abbot.
Menyangkut Dana dan Disiplin Biksu
Kasus Phra Wachirayan kembali memunculkan pertanyaan tentang pengawasan keuangan kuil di Thailand.
Kuil-kuil besar dapat menerima donasi dalam jumlah besar dan memiliki aktivitas ekonomi terkait benda-benda keagamaan. Di sisi lain, para biksu tetap dituntut menjalankan aturan disiplin monastik yang ketat.
Penangkapan mantan abbot Wat Phutthaisawan menjadi sorotan karena menggabungkan dua isu sekaligus, yakni dugaan penyalahgunaan dana dan pelanggaran disiplin keagamaan.
Laporan Thai Enquirer pada 10 September 2026, penyidikan masih berlangsung. Polisi terus menelusuri aliran dana, aset dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Skandal biksu Thailand Phra Wachirayan ini membuat dirinya kembali ke status sebagai umat awam setelah ditanggalkan dari kehidupan monastik. Proses hukum terhadap dirinya dan Punyavee masih berjalan, sehingga seluruh tuduhan tersebut tetap berstatus dugaan sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan





