Biksu Thudong 2026 di Borobudur, Bawa Pesan Perdamaian Sambut Waisak
Intrend.id – Perjalanan spiritual para Biksu Thudong 2026 berujung di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pada 29 Mei 2026, rombongan 57 biksu peserta Indonesia Walk For Piece 2026 dari berbagai negara sudah tiba dan mulai mempersiapkan puncak perayaan Hari Raya Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026.
Tradisi Biksu Thudong yang juga dikenal sebagai Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 ini kembali jadi perhatian masyarakat karena menghadirkan perjalanan spiritual penuh makna. Tahun ini, sekitar 50 sampai 57 biksu ikut dalam ritual thudong, dengan mayoritas berasal dari Thailand. Selain itu, ada juga peserta dari Malaysia, Laos, dan Indonesia.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dimulai dari Thailand dan melewati beberapa negara Asia Tenggara, Thudong 2026 justru dimulai dari Bali. Tepatnya dari Brahmavihara Arama atau Vihara Buddha Banjar di Buleleng pada 9 Mei 2026.
Dari Bali, para biksu berjalan kaki melewati Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, hingga Ngawi di Jawa Timur. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Solo, Klaten, Yogyakarta, Muntilan, dan akhirnya tiba di Borobudur dengan total jarak sekitar 600 sampai 666 kilometer.
Pada 28 Mei 2026, rombongan terlihat memasuki kawasan Candi Borobudur untuk melakukan doa bersama dan pradaksina atau ritual mengelilingi candi searah jarum jam. Banyak warga yang antusias menyambut kedatangan para biksu di sepanjang perjalanan. Tidak sedikit masyarakat yang memberikan makanan dan minuman sebagai bentuk dukungan dan penghormatan.
Tradisi Thudong sendiri punya makna mendalam dalam ajaran Buddha Theravada. Ritual ini menjadi bentuk latihan spiritual dan hidup sederhana, sekaligus membawa pesan damai, toleransi, dan harmoni antarumat beragama.
Kehadiran Biksu Thudong 2026 juga makin spesial karena dilakukan menjelang perayaan Waisak di Borobudur, yang dikenal sebagai pusat perayaan Buddha terbesar di Indonesia. Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha.
Sejarah Waisak di Borobudur ternyata sudah berlangsung sejak zaman Hindia Belanda. Perayaan modern pertama mulai dikenal sekitar akhir 1920-an lewat kelompok Teosofi Hindia Belanda yang menggelar upacara di kawasan Borobudur dan Mendut.
Tradisi ini sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia, sebelum akhirnya dihidupkan kembali pada 1953. Kini, Waisak di Borobudur menjadi agenda nasional sekaligus daya tarik wisata religi yang mendunia.
Selain puja bakti dan prosesi kirab dari Candi Mendut ke Borobudur, salah satu momen paling ditunggu tiap tahun adalah pelepasan lampion Waisak yang melambangkan cahaya kebijaksanaan dan harapan perdamaian dunia.
Demikian sekelumit perjalanan Biksu Thudong dan peringatan Waisak 2026 di Candi Borobudur Indonesia. (*)









