Intrend.id – Nama Institut Teknologi Bandung atau ITB ikut ramai dibahas publik setelah muncul dugaan manipulasi riset yang menyeret salah satu alumninya, Prihantini. Kasus ini viral di media sosial usai diungkap peneliti Indonesia di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, terkait dugaan pemalsuan data ilmiah dalam konferensi internasional di Copenhagen, Denmark.
Baca:
Viral Nama Rifaldy Fajar dan Prihantini Terseret Isu Manipulasi Riset, UNY dan UMB Buka Suara
Sebenarnya apa hubungan Institut Teknologi Bandung atau ITB dengan Prihantini?
ITB menjelaskan bahwa Prihantini memang merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 dan telah lulus pada tahun 2022.
Namun, kampus menegaskan materi yang dipresentasikan Prihantini dalam konferensi internasional tersebut tidak ada kaitannya dengan tesis maupun aktivitas akademiknya selama kuliah di ITB.
Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menjelaskan bahwa tesis Prihantini saat menjalani studi magister berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”. Topik itu disebut berbeda dengan penelitian yang kini dipermasalahkan dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Denmark.
Dengan kata lain, ITB menegaskan bahwa dugaan manipulasi riset yang ramai diperbincangkan bukan bagian dari penelitian resmi kampus ataupun karya akademik yang dibuat Prihantini saat menjadi mahasiswa ITB.
Dalam pernyataan resminya, ITB juga menyampaikan rasa prihatin atas polemik tersebut. Meski begitu, pihak kampus menilai tindakan yang diduga dilakukan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi sebagai individu.
“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” ungkap pihak kampus melalui Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, S.Si., M.Si., Ph.D., dalam keterangan resminya pada Kamis, 28 Mei 2026.
Karena itu, jika nantinya ada proses hukum terkait dugaan pemalsuan atau manipulasi riset tersebut, ITB menyatakan akan menghormati seluruh proses yang berjalan.
ITB juga kembali menegaskan komitmennya terhadap integritas akademik dan etika penelitian. Kampus menyebut tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil penelitian, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya.
“ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian,” demikian ditegaskan ITB
Kasus ini sendiri mulai viral setelah Wa Ode Dwi Daningrat mengungkap adanya dugaan kejanggalan dalam abstrak ilmiah yang diajukan sejumlah periset Indonesia, termasuk Prihantini dan Rifaldy Fajar, untuk konferensi ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17–21 Mei 2026 di Copenhagen, Denmark.
Unggahan tersebut kemudian memicu perdebatan luas di media sosial. Banyak warganet menyoroti pentingnya integritas dalam dunia akademik dan penelitian ilmiah, apalagi jika membawa nama institusi pendidikan maupun Indonesia di forum internasional.
Meski nama Institut Teknologi Bandung ikut terseret dalam pembahasan publik karena status Prihantini sebagai alumni, kampus menegaskan tidak memiliki keterkaitan dengan riset yang dipersoalkan tersebut. (*)




