Intrend.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kobaran api yang muncul sejak Selasa 7 Juli 2026 di kawasan perbukitan Desa Sumare, Kecamatan Simboro, terus meluas hingga malam hari dan membuat warga sekitar dilanda kecemasan.
Luas Karhutla di kawasan Sumare Mamuju awalnya diperkirakan sekitar 0,1 hektare. Namun, seiring cuaca panas dan kondisi lahan yang sangat kering akibat musim kemarau, api dengan cepat merambat ke sejumlah titik di kawasan perbukitan.
Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Dusun Talise Lambang, Tanjung Batu, Tanjung Batu Selatan, hingga Malauwa Utara. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kebakaran diperkirakan telah menghanguskan puluhan hektare lahan.
Api Mendekati Permukiman
Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di Dusun Talise Lambang. Titik api dilaporkan hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalan poros dan kawasan permukiman warga.
Sementara di beberapa lokasi lain, kobaran api bahkan sempat mendekati rumah penduduk dengan jarak sekitar 20 meter. Warga bersama petugas terpaksa berjaga sambil membuat sekat agar api tidak merembet ke rumah-rumah.
Rembetan api juga mulai mengancam kawasan Dusun Malauwa, Desa Tapandullu. Kondisi ini membuat masyarakat turun langsung membantu proses pemadaman bersama tim gabungan.
Medan Terjal Jadi Tantangan Besar
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Sulawesi Barat, Andi Juandi, mengungkapkan proses pemadaman tidak berjalan mudah. Lokasi kebakaran berada di kawasan perbukitan yang cukup terjal sehingga armada pemadam sulit menjangkau titik api.
Selain itu, petugas juga mengalami kesulitan memperoleh pasokan air karena sumber air berada cukup jauh dari lokasi kebakaran. Selang pemadam bahkan tidak mampu menjangkau seluruh area yang terbakar.
Untuk mempercepat penanganan, bantuan mobil water cannon milik kepolisian, mobil tangki BPBD Provinsi Sulawesi Barat, serta armada dari Kementerian Pekerjaan Umum diterjunkan ke lokasi.
“Medan Pak, bukit, dan jauh dari armada. Selang tidak sampai. Air juga jauh kalau mau ambil. Tapi info dari TKP, sudah ada datang bantuan mobil water cannon polisi dan mobil tangki BPBD provinsi serta PUPR sementara di jalan,” ujar Andi melalui Sulbar Online.
Tim Gabungan Bergerak Cepat
Polresta Mamuju mengerahkan personel lengkap bersama satu unit Armoured Water Cannon (AWC) untuk memperkuat proses pemadaman.
Operasi dilakukan secara terpadu bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Mamuju, Damkar Provinsi Sulawesi Barat, BPBD, TNI, serta masyarakat setempat.
Kasat Samapta AKP Sirajuddin mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan Kepala Desa Sumare agar warga tetap siaga jika api semakin mendekati kawasan permukiman.
Selain itu, koordinasi dilakukan dengan Dinas Kehutanan untuk memperkuat penanganan karhutla, sementara personel gabungan disiagakan di Dusun Talise Lambang sebagai langkah antisipasi penyebaran api.
Penyemprotan air terus difokuskan pada titik-titik yang berada paling dekat dengan rumah warga agar kobaran tidak semakin meluas.
“Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kebakaran diperkirakan telah menghanguskan puluhan hektare lahan yang tersebar di beberapa titik, yakni Dusun Talise Lambang, Dusun Tanjung Batu, Dusun Tanjung Batu Selatan, dan Dusun Malauwa Utara,” jelas Sirajuddin.
Musim Kemarau Diduga Jadi Pemicu
Hingga Rabu 8 Juli 2026, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, kuat dugaan kebakaran dipicu kondisi lahan yang sangat kering akibat kemarau panjang.
Karhutla di kawasan Sumare Mamuju bukan kali pertama terjadi. Wilayah perbukitan Mamuju memang kerap mengalami kebakaran saat musim kemarau sehingga masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya titik api baru. (*)