Trend in Siber

Mengenal Ayatollah Alireza Arafi, Ulama Senior yang Kini Pegang Kendali Sementara Iran

Intrend.id – Kemunculan nama Alireza Arafi membuat gelombang panas politik berhembus kencang di Teheran. Ia mendadak jadi sorotan, jadi perbincangan, jadi pusat perhatian. Ulama Syiah kelahiran Meybod, Provinsi Yazd, tahun 1959 itu kini resmi duduk sebagai anggota yuris dalam Dewan Kepemimpinan Sementara Iran per 1 Maret 2026.

Penunjukan Alireza Arafi ini terjadi usai laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Situasi memanas, tensi meninggi, kawasan ikut bergejolak tak henti.

Sesuai Konstitusi Iran Pasal 111, kekuasaan tertinggi negara untuk sementara dijalankan oleh dewan beranggotakan tiga orang. Mereka adalah Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei, serta Arafi sebagai perwakilan ulama dari Dewan Garda. Tugas mereka jelas: menjaga stabilitas, memastikan kontinuitas, sambil menunggu Majelis Ahli memilih pemimpin definitif.

Arafi bukan nama baru di lingkar kekuasaan. Ia lama memimpin Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah di Qom sejak 2016, serta pernah menjadi Presiden Universitas Internasional Al-Mustafa periode 2008–2018. Sejak 2011, ia duduk sebagai anggota tetap Dewan Revolusi Kebudayaan Tertinggi. Tahun 2019, ia masuk Dewan Garda, lembaga strategis yang menyaring undang-undang dan kandidat politik. Lalu pada 2022, ia terpilih sebagai anggota Majelis Ahli—lembaga yang punya wewenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi.

Figurnya dikenal sebagai insider rezim, loyalis garis ideologis Republik Islam. Namun berbeda dari sejumlah tokoh lain, Arafi dinilai tak terlalu lekat dengan Garda Revolusi Iran. Ia dikenal intelektual, multilingual—fasih Arab dan Inggris—bahkan tertarik memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyebarkan pesan ideologis secara global.

Meski sudah resmi ditunjuk, hingga kini belum ada pernyataan pribadi Arafi terkait pengangkatannya maupun wafatnya Khamenei. Pengumuman resmi justru datang dari juru bicara Dewan Kebijaksanaan, yang menegaskan langkah ini demi “keberlanjutan kepemimpinan.” Media pemerintah Iran seperti ISNA dan IRNA juga mengonfirmasi pembentukan dewan sementara serta dimulainya masa berkabung nasional 40 hari.

Presiden Pezeshkian mengecam serangan tersebut sebagai “kejahatan besar,” sementara sejumlah ulama senior menyerukan respons tegas terhadap Israel dan Amerika Serikat. Namun Dewan Kepemimpinan Sementara Iran masih menekankan stabilitas di tengah eskalasi.

Kemunculan Alireza Arafi membuat situasi politik Iran bergerak cepat, narasi berubah tiap menit, dan dunia menahan napas melihat arah transisi. Di tengah badai geopolitik yang berderu, Alireza Arafi kini berdiri di simpang sejarah—menjaga kendali sementara, menunggu keputusan Majelis Ahli Iran, sambil Iran menapaki babak baru kepemimpinan yang penuh teka-teki. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status