Hiburan

Mengenal Kelompok Penerbang Roket dan Album Legendaris Teriakan Bocah

Intrend.id – Kelompok Penerbang Roket hampir selalu masuk daftar teratas kalau lagi ngomongin band rock Indonesia yang benar-benar mentah, liar, dan penuh energi. Mereka bukan sopir pesawat tapi pilot aransemen pecinta musik gahar. Trio asal Jakarta ini dikenal bukan cuma karena musiknya yang keras, tapi juga attitude “serabutan” yang bikin mereka punya karakter beda dibanding band rock lain di era modern.

Band Kelompok Penerbang Roket yang biasa disingkat KPR ini dibentuk pada 2011 dengan formasi yang sampai sekarang masih solid. Ada John Paul Patton alias Coki di vokal dan bass, Rey Marshall di gitar, serta I Gusti Vikranta atau Viki di drum.

Nama Kelompok Penerbang Roket sendiri diambil dari lagu legendaris “Mencarter Roket” milik Duo Kribo. Dari situ saja sudah kelihatan kalau mereka memang punya DNA rock lawas Indonesia yang kuat.

Musik KPR banyak dipengaruhi band-band klasik seperti Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath hingga Pink Floyd. Tapi mereka nggak cuma copy gaya lama. KPR mencampur hard rock, acid rock, punk, psychedelic, sampai heavy metal menjadi suara yang brutal tapi tetap punya identitas Indonesia banget.

Sebelum terkenal, KPR sempat menjalani fase underground yang cukup panjang. Mereka pernah jadi backing band penyanyi Sapphira Singgih dan terlibat dalam proyek rilisan piringan hitam independen.

Nama mereka mulai benar-benar meledak lewat single Mati Muda pada 2014. Lagu itu langsung menarik perhatian karena liriknya yang keras soal tawuran pelajar dan realitas jalanan kota besar.

Setahun kemudian, mereka merilis album debut Teriakan Bocah lewat Berita Angkasa Records. Walau cuma berisi tujuh lagu dengan durasi sekitar 23 menit, album ini dianggap sangat padat tanpa lagu buangan.

Album tersebut bahkan dinobatkan sebagai Album Terbaik 2015 oleh Rolling Stone Indonesia. Buat banyak penikmat musik, Teriakan Bocah adalah salah satu album rock Indonesia paling penting di era 2010-an.

Dari lagu pembuka “Anjing Jalanan”, KPR langsung menghajar pendengar dengan riff kasar dan tempo cepat. Lagu itu menggambarkan kerasnya kehidupan jalanan dan budaya kekerasan urban.

Lalu ada “Dimana Merdeka” yang berisi kritik sosial tentang kemerdekaan yang terasa semu. Sementara “TO (Target Operasi)” jadi salah satu lagu paling tajam secara politik karena menyinggung korupsi dan kemunafikan sosial.

Track “Tanda Tanya” menghadirkan sisi lebih gelap dan introspektif soal identitas dan eksistensi manusia. Sedangkan “Beringin Tua” membawa nuansa psychedelic yang misterius dan agak mistis.

Namun tentu saja lagu paling ikonik tetap Mati Muda. Sampai sekarang lagu itu masih sering dibawakan live dan jadi anthem para fans KPR yang dikenal dengan sebutan “Pencarter Roket”.

Secara produksi, album ini juga terasa sangat organik. Distorsi gitar kasar, suara drum mentah, dan vokal penuh amarah membuat Teriakan Bocah terdengar seperti ledakan energi yang sengaja tidak dipoles terlalu bersih.

Album ini diproduseri bersama legenda gitar Indonesia Didit Saad (gitaris Plastik dan Stars and Rabbit) dan direkam di Jakarta. Menariknya, proses mixing dan mastering dikerjakan langsung oleh drummer mereka sendiri, Viki.

Yang bikin KPR tetap relevan sampai sekarang adalah konsistensi mereka menjaga identitas. Di saat banyak band mencoba terdengar “aman” atau terlalu modern, KPR justru tetap tampil liar, keras, dan apa adanya.

Pada 2025 lalu, mereka bahkan sukses menggelar konser satu dekade Teriakan Bocah yang disambut antusias besar dari fans lama maupun generasi baru penikmat rock Indonesia.

Kelompok Penerbang Roket adalah salah satu band paling eksplosif yang pernah dimiliki skena musik Indonesia modern. Pada 9 Februari 2026 lalu, band ini merilis single terbaru berjudul “Kabur”. Utamanya buat mereka yang suka musik rock dengan distorsi brutal, lirik kritis, dan energi panggung yang chaos tapi jujur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status