Mirwan Suwarso Relakan Tiket Liga Champions Como untuk Fans Tua
Intrend.id – Como 1907 sedang bersiap menjalani perjalanan klub debut di UEFA Champions League (UCL) atau Liga Champions. Presiden Como Mirwan Suwarso justru memilih memberikan kursi miliknya kepada para suporter paling senior.
Como akan menghadapi RB Leipzig pada laga kandang pertama mereka di Liga Champions, Kamis, 10 September 2026, di Stadio Giuseppe Sinigaglia. Stadion yang berdiri di tepi indah Danau Como itu dipastikan penuh.
Namun, kapasitas stadion yang terbatas membuat banyak fans lama Como gagal mendapatkan tiket. Situasi tersebut mendorong Suwarso dan sejumlah petinggi klub mengambil keputusan yang cukup menyentuh.
Mereka memilih melepas tiket yang seharusnya menjadi jatah para eksekutif untuk diberikan kepada suporter yang sudah mendukung Como sejak puluhan tahun lalu.
Suwarso secara khusus meminta tiket tersebut diberikan kepada fans yang lahir pada 1950 atau sebelumnya.
Kriteria itu bukan tanpa alasan. Para suporter tersebut dianggap sebagai kelompok yang sudah mengikuti perjalanan Como melewati berbagai era, termasuk masa-masa sulit ketika klub harus bermain di kasta bawah.
“It’s @ChampionsLeague week on Lake Como,” tulis akun X resmi Como 1907, @Como_1907, Selasa, 8 September 2026.
Dalam pesan yang disampaikan melalui Instagram, Suwarso menjelaskan alasan dirinya dan sejumlah direktur klub rela kehilangan kursi di pertandingan bersejarah tersebut.
“The stadium is sold out. With the reduced capacity and the limited number of tickets available, unfortunately we cannot accommodate everyone who would have liked to be there. However, some club executives / directors and I have decided to give up our seats for this match. We want those seats to be allocated to supporters who have waited the longest – fans born in 1950 or earlier, who have followed Como through every division and every era. If you know a long-standing Como fan, born in 1950 or earlier, who deserves to be at the stadium on Thursday, please write to us at [email protected]. We would be honoured to give them our seat.”
Menurut laporan yang beredar, keputusan tersebut membuat lebih dari 40 tiket tersedia untuk para fans senior.
Klub kemudian membuka kesempatan bagi suporter untuk mengajukan nama kandidat melalui email. Tujuannya sederhana: mencari fans tertua yang benar-benar layak merasakan langsung momen bersejarah Como di kompetisi elite Eropa.
Dari Serie D hingga Champions League
Kisah Como dalam beberapa tahun terakhir memang luar biasa.
Klub ini sempat terpuruk hingga kasta bawah sepak bola Italia. Pada 2019, Como diakuisisi keluarga Hartono melalui kelompok usaha asal Indonesia. Mirwan Suwarso kemudian menjadi salah satu figur penting dalam pengelolaan klub.
Dalam waktu relatif singkat, Como mampu naik dari Serie D ke Serie A.
Sejak kembali ke Serie A pada 2024, perjalanan klub semakin menarik perhatian. Di bawah arahan Cesc Fàbregas, Como berkembang menjadi tim yang kompetitif dan memainkan sepak bola atraktif.
Musim lalu, mereka bahkan berhasil finis di posisi keempat Serie A. Hasil tersebut memastikan Como mendapatkan tiket menuju Champions League untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.
Kini, klub berusia 119 tahun itu siap menghadapi panggung terbesar sepak bola Eropa.
Lawan pertama mereka adalah RB Leipzig.
Bagi pemain dan generasi suporter muda, pertandingan ini tentu menjadi kesempatan untuk melihat Como bersaing dengan klub-klub elite Eropa. Namun bagi fans yang lahir sebelum 1950, momen tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Mereka telah melihat Como melewati masa kejayaan, keterpurukan, promosi, degradasi hingga persoalan finansial. Bahkan, klub pernah mengalami dua kebangkrutan dalam dua dekade terakhir.
Karena itu, tiket Champions League kali ini bukan sekadar tiket pertandingan.
Ini adalah hadiah untuk loyalitas.
Stadion Penuh, Tiket Terbatas
Stadio Giuseppe Sinigaglia menjadi salah satu bagian unik dari perjalanan Como.
Stadion yang dibuka pada 1927 tersebut memiliki lokasi yang sangat ikonik karena berada tepat di tepi Danau Como. Pemandangan tersebut membuat stadion Como berbeda dari kebanyakan venue sepak bola di Italia.
Namun, lokasi dan kapasitas stadion juga menjadi tantangan.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional dan standar UEFA, kapasitas pertandingan Champions League harus dikurangi. Dampaknya, jumlah tiket yang tersedia semakin terbatas.
Dengan permintaan yang jauh lebih besar daripada jumlah kursi, banyak suporter akhirnya tidak kebagian tiket.
Dalam kondisi tersebut, Suwarso memilih mengambil keputusan yang tidak biasa.
Daripada mempertahankan kursinya sebagai bagian dari fasilitas eksekutif, ia menyerahkannya kepada fans yang telah menunggu momen ini selama puluhan tahun.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana Como mencoba menjaga hubungan dengan basis suporternya di tengah perubahan besar klub.
Saat ini Como bukan lagi klub kecil yang hanya dikenal di sepak bola Italia. Kehadiran investasi keluarga Hartono, perkembangan tim dan popularitas Danau Como membuat klub semakin dikenal secara global.
Meski begitu, debut Champions League menjadi kesempatan bagi Como untuk menunjukkan bahwa akar lokal tetap menjadi bagian penting dari identitas klub.
Malam Bersejarah di Danau Como
Pertandingan melawan Leipzig akan menjadi lebih dari sekadar laga pembuka Champions League.
Ini adalah puncak perjalanan panjang Como.
Bagi pemain, laga tersebut menjadi kesempatan tampil di kompetisi paling bergengsi Eropa. Bagi klub, ini merupakan bukti dari proyek jangka panjang yang berhasil membawa mereka dari kasta bawah ke level elite.
Sementara bagi fans senior, pertandingan ini menjadi penghargaan atas kesetiaan yang mereka tunjukkan selama puluhan tahun.
Bayangkan saja, seorang suporter yang lahir pada 1950 atau sebelumnya telah menunggu lebih dari 75 tahun untuk melihat Como tampil di panggung seperti ini.
Tidak heran jika Suwarso ingin kursi tersebut ditempati oleh mereka.
Di tengah sepak bola modern yang semakin identik dengan tiket VIP, sponsor, dan pengalaman premium, keputusan Como terasa cukup berbeda.
Kursi milik presiden dan jajaran direksi justru diberikan kepada orang-orang yang selama bertahun-tahun berdiri di tribun dan mendukung klub tanpa pernah tahu apakah Como suatu hari bisa mencapai Champions League.
Kini, mereka punya kesempatan menyaksikan sejarah secara langsung.
Como mungkin baru memulai perjalanan di Champions League. Namun sebelum bola pertama ditendang melawan RB Leipzig, klub sudah lebih dulu menciptakan satu cerita yang tidak kalah menarik.
Cerita tentang loyalitas.
Cerita tentang rasa terima kasih.
Dan cerita bahwa bagi Como, sejarah klub tidak hanya ditulis oleh pemain dan pelatih, tetapi juga oleh para suporter yang tetap bertahan ketika masa depan terlihat tidak menjanjikan.
Pada Kamis malam di Sinigaglia, para fans senior itu akhirnya bisa duduk di tribun dan menyaksikan Como bermain di panggung terbesar Eropa.
Sebuah tiket laga Como di Liga Champions yang nilainya mungkin tidak bisa dihitung dengan uang. Sebab, tiket tersebut menjadi simbol penghargaan untuk puluhan tahun kesetiaan. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









