Trend in Siber

Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, BI Stabilkan Pasar

Intrend.id – Nilai tukar rupiah ke Dollar AS hari ini Selasa, 7 April 2026, tertekan dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Nilainya menyentuh level Rp17.105 dari data Bloomberg per dolar AS pada awal April 2026.

Pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS hari ini bahkan melampaui rekor sebelumnya di kisaran Rp16.988 per dolar AS yang terjadi pada Januari lalu. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar keuangan global.

Kombinasi dolar AS yang semakin perkasa, lonjakan harga minyak dunia, serta arus keluar modal dari negara berkembang jadi faktor utama yang bikin rupiah makin tertekan.

Merespons kondisi ini, Bank Indonesia langsung turun tangan lewat intervensi di pasar. BI juga memilih menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen, sambil membuka opsi kebijakan tambahan jika tekanan terus berlanjut.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan stabilitas moneter menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global. Menurutnya BI akan optimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.

“BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki dan juga kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Destry dalam keterangan resminya, Selasa 7 April 2026.

Buat masyarakat, dampaknya langsung terasa. Harga kebutuhan sehari-hari berpotensi naik karena biaya impor makin mahal. Tak heran kalau keluhan mulai ramai di media sosial.

Meski begitu, Indonesia masih punya bantalan ekonomi yang cukup kuat. Cadangan devisa yang mencapai sekitar US$140 miliar jadi salah satu tameng untuk meredam gejolak lebih dalam.

Kalau ditelusuri, pelemahan rupiah ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal alias global. Salah satunya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang bikin harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$90 per barel. Situasi ini mendorong investor global kabur ke aset aman seperti dolar AS.

Selain itu, penguatan dolar juga dipicu kebijakan Federal Reserve yang masih mempertahankan suku bunga tinggi karena ekonomi Amerika Serikat tetap solid. Alhasil, hampir semua mata uang negara berkembang ikut tertekan, termasuk rupiah.

Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak juga kena imbas. Saat harga energi naik, kebutuhan dolar untuk bayar impor ikut meningkat, sehingga menekan nilai tukar.

Sentimen global yang cenderung “risk off” juga bikin investor menarik dana dari emerging markets. Arus modal keluar ini makin memperlemah rupiah di pasar.

Dari sisi dalam negeri, ada beberapa faktor tambahan. Permintaan dolar biasanya meningkat di periode awal tahun untuk kebutuhan impor dan pembayaran dividen perusahaan asing.

Selain itu, kekhawatiran soal defisit anggaran juga ikut membayangi. Seperti diketahui, APBN 2026 sudah mencatat defisit sejak awal tahun atau Triwulan I, meski pemerintah berupaya menjaganya tetap di bawah batas aman 3 persen dari PDB.

Untuk meredam tekanan, BI juga memperketat aturan pembelian valuta asing tunai, maksimal US$50.000 per orang per bulan mulai April 2026. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi spekulasi dan menjaga stabilitas pasar.

Ke depan, pergerakan rupiah diprediksi masih fluktuatif. Jika konflik global makin memanas atau harga minyak terus naik, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut.

Namun, selama intervensi BI konsisten dan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, seperti pertumbuhan ekonomi stabil dan inflasi terkendali, pelemahan ini diharapkan tidak sampai keluar dari kendali.

Kondisi nilai tukar rupiah ke dolar AS ini menunjukkan ekonomi global berpengaruh besar ke dalam negeri. Dan buat sekarang, rupiah memang lagi dalam tekanan berat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status