Selebrasi Kemenangan PSG di Paris, Pesta Juara yang Berujung Ricuh
Intrend.id – Kemenangan dramatis Paris Saint-Germain (PSG) di final UEFA Champions League (UCL) langsung bikin Paris meledak dalam euforia dan selebrasi. Ribuan suporter turun ke jalan merayakan gelar back-to-back yang diraih PSG usai mengalahkan Arsenal lewat adu penalti 4-3 setelah imbang 1-1 di Budapest, Hungaria, 31 Mei 2026 waktu Indonesia.
Suasana di ibu kota Prancis langsung selebrasi usai kemenangan PSG dan mengubah paras kota jadi lautan merah-biru sejak peluit akhir dibunyikan. Ikon kota, Menara Eiffel, ikut “berpesta” dengan pencahayaan khas PSG. Sementara di sekitar Parc des Princes dan Champs-Élysées, ribuan fans tumpah ruah, nyanyi, dan menyalakan flare.
Siang harinya, perayaan resmi di Champ de Mars berlangsung lebih tertib. Para pemain PSG tampil di atas panggung, mengangkat trofi di depan publik. Momen ini jadi highlight setelah musim luar biasa di bawah pelatih Luis Enrique. Beberapa momont kebahagiaan pun viral dan beredar di media sosial.
Namun, di balik euforia itu, situasi berubah jadi chaos saat malam. Sejumlah kelompok suporter terlibat bentrok dengan aparat. Kembang api dan flare bahkan diarahkan ke polisi, memicu respons gas air mata di beberapa titik.
Laporan Enca menyatakan otoritas setempat mengungkapkan total 780 orang ditangkap di seluruh Prancis. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyampaikan dari jumlah itu, ratusan terjadi di Paris saja. Selain itu, 57 aparat keamanan dilaporkan mengalami luka-luka, sementara total korban luka mencapai 219 orang, termasuk delapan dalam kondisi serius.
Kerusuhan juga menyebabkan kerusakan fasilitas umum. Beberapa kendaraan dibakar, halte bus dirusak, hingga toko-toko jadi sasaran vandalisme. Bahkan ada laporan upaya penyerangan kantor polisi oleh massa di beberapa lokasi.
Tragedi turut menyelimuti perayaan ini. Seorang pria muda berusia sekitar 20-an tahun meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan lingkar Paris, dekat Porte Maillot. Ia menabrak pembatas beton saat mengendarai motor motocross. Pembatas itu sendiri dipasang untuk mengatur akses selama perayaan berlangsung menurut laporan AFP melalui Enca.
Meski insiden malam cukup mencekam, perayaan resmi pada siang hari tetap berjalan aman berkat pengamanan ketat. Lebih dari 20.000 aparat dikerahkan untuk mengantisipasi kerusuhan, mengingat pola serupa juga pernah terjadi pada perayaan PSG sebelumnya.
Di sisi olahraga, kemenangan ini menegaskan dominasi PSG di Eropa. Gol penyeimbang dari Ousmane Dembélé di final jadi kunci sebelum akhirnya menang di adu penalti. Pemain seperti Khvicha Kvaratskhelia dan Matvey Safonov juga ikut meramaikan selebrasi dengan gaya unik mereka.
Kemenangan PSG memang jadi momen bersejarah. Tapi seperti yang sering terjadi, euforia besar juga datang dengan risiko besar, ketika perayaan berubah jadi kerusuhan.
Kalau dilihat dari selebrasi kemenangan PSG di Paris menjelaskan bahwa sepak bola bukan cuma soal kemenangan di lapangan. Sepak bola juga berkaitan dengan fans merayakannya di luar lapangan. Di mana pun. (*)









