Trend in Siber

Harga Bensin di Amerika Meningkat Dampak Konflik Timur Tengah

Intrend.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) bensin di Amerika Serikat lagi panas-panasnya. Per akhir Maret 2026, harga bensin rata-rata nasional hampir tembus US$4 per galon.

Harga bensin di Amerika 2026 kalau dikonversi ke rupiah ada di kisaran Rp15.000 sampai Rp18.000 lebih per liter. Lumayan bikin dompet warga AS makin tipis.

Berdasarkan data dari GasBuddy, harga bensin eceran rata-rata di AS mencapai sekitar US$3,92 per galon per 23 Maret 2026. Satu galon sendiri setara dengan 3,785 liter, jadi kalau dihitung, harga per liternya ada di kisaran US$1,04 atau sekitar Rp17.500-an.

Yang bikin kaget, kenaikan ini nggak main-main. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak akhir Februari 2026, harga BBM melonjak lebih dari 30 persen. Salah satu pemicunya jelas: konflik geopolitik di Timur Tengah yang makin panas.

Ketegangan di kawasan tersebut bikin pasokan minyak global terganggu. Akibatnya, harga minyak mentah ikut meroket. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan naik drastis, dari sekitar US$67 per barel jadi lebih dari US$96 per barel. Kenaikan lebih dari 40 persen ini langsung ngefek ke harga bensin di pompa.

Soal wilayah, harga bensin di AS memang beda-beda. California masih jadi yang paling mahal dibanding negara bagian lain. Sementara di wilayah lain, harga bisa sedikit lebih rendah, tapi tetap naik signifikan.

Bukan cuma bensin, harga solar (diesel) juga ikut melonjak. Di beberapa daerah, bahkan sudah tembus US$5 per galon. Ini jelas berdampak ke biaya logistik dan harga barang secara keseluruhan.

Analis GasBuddy, Patrick De Haan, memprediksi harga masih berpotensi naik. Menurutnya, bensin bisa segera menembus angka psikologis US$4 per galon, bahkan menuju US$4,10 atau lebih.

Kalau skenario itu terjadi, ini bakal jadi pertama kalinya sejak Agustus 2022 harga bensin menyentuh level tersebut lagi. Dan jelas, ini bukan kabar baik buat masyarakat yang sudah lebih dulu tertekan inflasi.

Di sisi politik, situasi ini juga jadi tantangan buat Presiden AS Donald Trump. Apalagi menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November 2026, isu harga energi bisa jadi senjata politik yang sensitif.

Sebelumnya, Trump sempat berjanji bakal menekan harga energi dan meningkatkan produksi dalam negeri. Tapi realitanya, kondisi global seperti konflik Timur Tengah tetap punya pengaruh besar yang sulit dikendalikan.

Kenaikan harga BBM ini juga nunjukin betapa rentannya pasar energi dunia terhadap konflik geopolitik. Sekali ada gangguan di kawasan penghasil minyak utama, efeknya langsung terasa sampai ke pom bensin.

Harga bensin di Amerika buat warga di sana jelas bikin pengeluaran harian makin berat. Sementara buat dunia, ini jadi sinyal kalau stabilitas energi global masih jauh dari kata aman. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status