Kanada Kalah Tapi Tetap Bikin Sejarah di Piala Dunia 2026
Intrend.id – Langkah Tim Nasional Sepak Bola (Timnas) Kanada terhenti di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Minggu dinihari 5 Juli WIB. Kekalahan dengan skor telak 0-3 dari Maroko di Stadion NRG Houston memungkas perjalanan bersejarah Les Rouges di turnamen ini.
Perjalanan Kanada di Piala Dunia 2026 memang sudah berakhir. Meski begitu, hasil itu sama sekali tidak menghapus sejarah yang berhasil ditorehkan.
Sebagai salah satu tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko, Kanada datang dengan ekspektasi tinggi. Tekanan tentu ada. Namun, Les Rouges justru mampu membuktikan bahwa mereka pantas bersaing di level tertinggi.
Ini menjadi penampilan ketiga Kanada di Piala Dunia setelah edisi 1986 dan 2022. Bedanya, kali ini mereka berhasil melangkah ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola putra Kanada.
Perjalanan menuju 16 besar tidak mudah. Kanada berada di Grup B yang relatif ketat dan berat bersama Swiss, Bosnia dan Herzegovina, serta Qatar. Mereka runner up dengan mengandalkan permainan disiplin, transisi cepat, dan semangat pantang menyerah.
Nama Alphonso Davies kembali menjadi sorotan. Kecepatannya di sisi kiri berkali-kali merepotkan lawan. Di lini depan, Jonathan David tetap menjadi andalan untuk mencetak gol. Sementara Stephen Eustáquio menjaga keseimbangan permainan dari lini tengah.
Racikan pelatih Jesse Marsch juga layak mendapat pujian. Gaya bermain dengan pressing tinggi membuat Kanada tampil lebih berani dibanding turnamen sebelumnya. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berani menyerang saat peluang datang.
Momen paling emosional terjadi pada laga terakhir fase gugur Babak 32 Besar melawan Afrika Selatan.
Saat hampir tersingkir, Kanada justru bangkit. Gol tunggal dramatis Eustáquio pada masa injury time memastikan mereka lolos ke babak 16 besar. Selebrasi pecah. Suporter dari Toronto hingga Vancouver ikut larut dalam euforia. Itulah malam ketika sejarah akhirnya tercipta.
Keberhasilan tersebut terasa begitu spesial.
Dukungan publik di berbagai stadion Amerika Utara memberi energi tambahan. Status sebagai tuan rumah membuat setiap pertandingan terasa seperti pesta nasional.
Skuad Kanada juga menjadi simbol keberagaman negara tersebut. Para pemain datang dari berbagai latar belakang, tetapi bermain dengan satu tujuan yang sama. Kekompakan itu menjadi kekuatan utama sepanjang turnamen.
Secara taktik, Kanada juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mereka lebih tenang saat menguasai bola, tetapi tetap mematikan ketika melakukan serangan balik. Bola mati menjadi salah satu senjata utama, sementara lini belakang tampil cukup solid sepanjang fase grup.
Tantangan sesungguhnya datang saat menghadapi Maroko di babak 16 besar.
Kanada mampu menahan imbang lawannya tanpa gol pada babak pertama. Namun pengalaman Maroko akhirnya berbicara. Dua gol Azzedine Ounahi dan satu gol Soufiane Rahimi memastikan kemenangan wakil Afrika tersebut dengan skor 3-0.
Meski tersingkir, Kanada tetap meninggalkan kesan positif. Mereka menunjukkan bahwa sepak bola Kanada sudah berkembang jauh dalam beberapa tahun terakhir.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa investasi di kompetisi domestik, akademi pemain muda, dan pembinaan jangka panjang mulai membuahkan hasil. Popularitas sepak bola di Kanada pun diprediksi akan terus meningkat setelah Piala Dunia 2026.
Bagi para pemain, turnamen ini menjadi panggung untuk memperkenalkan kualitas mereka kepada dunia. Bagi para suporter, ini adalah momen yang akan terus dikenang.
Kanada memang gagal melaju ke perempat final usai terhenti di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026. Namun mereka pulang dengan kepala tegak. Karena di turnamen kali ini, Les Rouges bukan sekadar peserta. Mereka berhasil mencatatkan tinta tebal dalam sejarah sepak bola Kanada. (*)
Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









