Trend in Siber

Penutupan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Dunia Naik

Intrend.id – Dunia tengah menyoroti harga minyak di tengah eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026 memasuki babak baru. Pada Senin 2 Maret 2026, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan penutupan Selat Hormuz dan memicu guncangan besar di pasar energi global dan pasar keuangan dunia.

Pengaruh terhadap harga minyak dunia datang usai pernyataan keras yang datang dari penasihat komandan IRGC, Ebrahim Jabari. Melalui media pemerintah Iran, ia menyebut bahwa selat tersebut “telah ditutup” dan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas bisa menjadi target.

“The strait (of Hormuz) is closed. If anyone tries to pass, the heroes of the Revolutionary Guards and the regular navy will set those ships ablaze.”

Ancaman itu menjadi yang paling eksplisit sejak konflik pecah menyusul serangan AS-Israel ke sejumlah fasilitas Iran akhir Februari lalu.

De Facto Closed, Lalu Lintas Hampir Nol

Secara teknis belum ada blokade fisik permanen seperti ranjau laut atau penghalang beton. Namun berbagai analis maritim menyebut kondisi saat ini sebagai “de facto closed”, tertutup secara efektif karena tak ada kapal komersial besar yang berani melintas.

Lebih dari 150 kapal tanker dilaporkan berlabuh dan menunggu di perairan Teluk Persia dekat UEA dan Oman. Sejumlah kapal bahkan mematikan sistem AIS (Automatic Identification System) untuk menghindari deteksi.

Perusahaan pelayaran raksasa seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menangguhkan transit. Sementara itu, klub asuransi maritim (P&I Clubs) menarik atau menaikkan drastis premi asuransi risiko perang, membuat biaya pelayaran melonjak tajam.

Dampak ke Harga Minyak Dunia

Pasar energi langsung bereaksi. Berdasarkan data perdagangan global per 4 Maret 2026 pagi WIB:

– Brent Crude (patokan global) berada di kisaran US$82–83 per barel, setelah sempat menyentuh US$85 secara intraday.
– WTI Crude (patokan AS) bergerak di kisaran US$75–77 per barel.

Kenaikan sejak akhir Februari mencapai 15–19 persen. Volatilitas ini menjadi yang tertinggi sejak krisis energi 2022.

Analis memperkirakan jika gangguan berlangsung 3–4 minggu, harga Brent bisa menembus US$100 per barel. Pasalnya, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan LNG global melewati Selat Hormuz.

Gangguan Produksi Energi

Krisis tidak berhenti di jalur pelayaran. Irak dilaporkan menghentikan produksi di ladang minyak Rumaila, salah satu yang terbesar di dunia dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari.

Fasilitas energi di Arab Saudi juga terdampak serangan drone, sementara ekspor LNG Qatar dilaporkan tertunda. Rantai pasok global pun terancam terganggu jika situasi tidak segera mereda.

Pasar Saham Ambruk

Dampak langsung juga terasa di bursa saham global. Indeks Dow Jones dilaporkan anjlok sekitar 1.000 poin dalam satu sesi perdagangan, dengan nilai kapitalisasi pasar AS menyusut lebih dari US$1 triliun.

Harga gas di Inggris dilaporkan melonjak dua kali lipat dalam dua hari terakhir. Pasar Asia menjadi wilayah paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Teluk, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Respons Militer dan Diplomasi

Komando Pusat AS (United States Central Command / CENTCOM) menyatakan Selat Hormuz secara teknis masih terbuka, tetapi mengakui lalu lintas sangat terbatas akibat ancaman keamanan.

Spekulasi berkembang bahwa Angkatan Laut AS dapat mengawal tanker jika eskalasi berlanjut. Namun langkah tersebut berisiko memicu konfrontasi langsung dengan Iran.

Sejumlah pengamat menyebut krisis ini sebagai “2026 Strait of Hormuz crisis”, mengingat dampaknya yang luas dan potensi menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik.

Risiko Inflasi Global

Lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global, terutama pada sektor transportasi dan manufaktur. Negara-negara pengimpor energi kini bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Bagi negara seperti Indonesia, kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN bisa menekan anggaran subsidi energi. Pemerintah sejauh ini menyatakan akan memantau situasi dan menjaga stabilitas pasokan domestik.

Respon Indonesia

Presiden Prabowo Subianto telah memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Istana Kepresidenan pada Senin 2 Maret 2026 untuk membahas langsung dampak penutupan Selat Hormuz. Rapat ini membahas antisipasi pasokan minyak dunia, terutama menjelang Lebaran (karena Indonesia masih impor minyak). Prabowo menekankan perlunya langkah cepat agar tidak ada kekurangan stok BBM domestik.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia selaku Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) dalam pernyataan resmi dalam konferensi pers usai rapat DEN pada Selasa, 3 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa 20-25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari wilayah Teluk Persia (lewat Selat Hormuz), dan sekitar 30% LPG juga dari sana.

Sementara ini, menurutnya, stok BBM nasional aman dan cukup untuk 20-25 hari (tergantung konsumsi harian sekitar 1,6 juta barel/hari, produksi domestik hanya ~600 ribu barel/hari).

Langkah antisipasi utama Indonesia adalah mengalihkan sebagian impor crude oil dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (menggunakan MoU Pertamina dengan perusahaan AS untuk kepastian pasokan). “Kami mengambil alternatif terjelek. Katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crued yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crued kita,” kata Bahlil.

Dua kapal tanker Pertamina sempat terjebak di Selat Hormuz, tapi pemerintah prioritaskan reroute dan diversifikasi sumber (Afrika seperti Angola, Brasil, dll.). Indonesia juga memastikan Pertalite, Solar, dan LPG subsidi tetap stabil sementara, meski harga ICP APBN 2026 ($70/barel) sudah jauh dilewati oleh lonjakan Brent (~$82-83).

Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga Rabu 4 Maret 2026 pagi, situasi di Selat Hormuz masih sangat fluid. Tidak ada tanda-tanda de-eskalasi signifikan, sementara pasar terus mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut.

Jika konflik mereda melalui jalur diplomasi, harga minyak bisa terkoreksi. Namun jika serangan berlanjut atau blokade diperketat, pasar energi global berpotensi menghadapi guncangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Krisis Timur Tengah yang merembet ke harga minyak dunia ini menunjukkan betapa strategisnya Selat Hormuz bagi ekonomi dunia. Jalur sempit itu bukan sekadar perairan, melainkan nadi utama energi global yang kini berada di tengah pusaran konflik geopolitik. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status