Prediksi Harga Pangan dan Transportasi Usai BBM Pertamax Naik Hari Ini
Intrend.id – Prediksi kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan masyarakat berpotensi terjadi usai harga BBM nonsubsidi pertamax Pertamina mulai berlaku hari ini, Rabu 10 Juni 2026.
Prediksi ini berdasarkan pola historis kenaikan BBM nonsubsidi. Dampak sebenarnya tergantung seberapa cepat pelaku usaha menyesuaikan harga dan respons pemerintah dalam subsidi tambahan atau intervensi.
Kenaikan BBM Pertamax ini berpotensi memicu efek domino terhadap berbagai sektor ekonomi. Meski Pertalite dan Biosolar bersubsidi tidak mengalami perubahan harga, lonjakan Pertamax dan Pertamax Green tetap menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan distribusi barang.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan hampir Rp4.000 per liter tersebut diperkirakan akan meningkatkan biaya operasional kendaraan pribadi, armada perusahaan, jasa transportasi online, hingga sektor logistik.
Dalam jangka pendek, sektor transportasi menjadi yang paling cepat merasakan dampaknya. Menjadi pertanyaan, apakah tarif ojek online dan taksi daring akan mengalami penyesuaian jika operator dan mitra pengemudi mulai menghitung ulang biaya operasional?
Selain itu, biaya pengiriman barang antar kota juga berpotensi meningkat. Kenaikan ongkos logistik biasanya akan diteruskan ke harga jual produk di tingkat konsumen.
Sektor pangan menjadi salah satu yang perlu diwaspadai. Harga sayuran, daging, telur, susu, hingga bahan makanan segar lainnya berpotensi naik sekitar 2 hingga 7 persen akibat meningkatnya biaya distribusi dari sentra produksi ke pasar.
Meski demikian, harga beras dan beberapa komoditas strategis diperkirakan masih relatif stabil dalam waktu dekat karena didukung stok nasional dan berbagai program intervensi pemerintah.
Di sektor kuliner, restoran, warung makan, dan layanan pesan antar juga berpotensi melakukan penyesuaian harga. Kenaikan diperkirakan berada di kisaran 3 hingga 8 persen tergantung lokasi dan skala usaha.
Tekanan juga dapat dirasakan pada sektor pertanian dan industri. Harga pupuk, biaya operasional alat produksi, hingga distribusi hasil panen berpotensi mengalami kenaikan bertahap.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS turut menambah tekanan terhadap harga barang impor, termasuk elektronik, suku cadang kendaraan, dan berbagai kebutuhan industri.
Perkiraan inflasi pada Juni hingga Juli 2026 berpotensi meningkat, terutama dari kelompok transportasi dan makanan. Namun dampaknya diperkirakan tidak sebesar saat terjadi kenaikan BBM bersubsidi karena harga Pertalite dan Biosolar masih dipertahankan pemerintah.
Potensi kenaikan harga sejumlah barang dan jasa dalam beberapa pekan ke depan menjadi catatan penting. Besarnya dampak akan sangat bergantung pada respons pelaku usaha, kondisi harga minyak dunia, serta langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Demikian prediksi kenaikan harga kebutuhan masyarakat usai harga BBM Pertamax Pertamina di Indonesia mengalami penyesuaian hari ini. (*)









