Intrend.id – Jagat media sosial sempat heboh pada 1 Juni 2026 setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunggah desain poster ucapan Hari Lahir Pancasila dengan desain Garuda yang keliru. Alih-alih jadi ucapan formal, unggahan ini justru menuai kritik tajam dari netizen.
Kesalahan desain lambang Garuda BRIN paling mencolok ada pada detail jumlah bulu Garuda yang tidak sesuai standar resmi negara. Dalam poster tersebut, bulu sayap terlihat tidak simetris—sayap kiri berjumlah 15 helai dan sayap kanan 16 helai, padahal seharusnya masing-masing 17 helai. Sementara itu, bulu ekor hanya berjumlah 7 helai, kurang satu dari ketentuan resmi yaitu 8 helai.
Padahal, jumlah bulu pada Lambang Garuda bukan sekadar estetika, melainkan memiliki makna historis yang merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Aturan ini telah diatur secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara.
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut langsung ramai diperbincangkan. Sejumlah netizen bahkan menduga desain itu dihasilkan menggunakan teknologi AI tanpa pengecekan manual yang detail.
“Postingan akun BRIN yang Lambang Garuda Pancasila dengan jumlah bulu ekor 7 dan bulu sayap 15 dihapus gaes, kayak pake AI ya?,” tulis netizen, 1 Juni 2026.
Beberapa menyebut menemukan kemiripan dengan hasil generator gambar digital. “Gw nemu mentahannya di Magnific, plek ketiplek banget,” kata netizen lainnya.
Netizen pun membandingkan lambang Garuda Pancasila yang umum sesuai pedoman dengan desain BRIN. Hasilnya?
| Bagian | Versi Resmi | Versi BRIN | Keterangan |
| Bulu Sayap Kiri | 17 helai | 15 helai | Kurang 2 |
| Bulu Sayap Kanan | 17 helai | 16 helai | Kurang 1 |
| Bulu Ekor | 8 helai | 7 helai | Kurang 1 |
| Simetri | Sangat simetris | Tidak simetris | Jelas terlihat |
| Kesan Keseluruhan | Resmi & presisi | Mirip AI, kurang teliti | – |
Menanggapi polemik ini, BRIN bergerak cepat. Mereka menghapus unggahan asli dan menggantinya dengan visual yang lebih akurat, yakni menggunakan foto patung Garuda resmi. Tak hanya itu, BRIN juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di hari yang sama.
“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan,” tulis BRIN melalui akun X resmi.
BRIN juga menegaskan akan melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Meski begitu, insiden ini tetap dinilai ironis oleh publik, mengingat BRIN merupakan lembaga riset nasional yang seharusnya menjunjung tinggi akurasi dan ketelitian.
Menariknya, BRIN bukan satu-satunya lembaga yang disorot. Pada momen yang sama, beberapa instansi lain juga dikritik karena kesalahan serupa dalam penggunaan Lambang Garuda.
Kasus kesalahan desain lambang Garuda BRIN ini jadi pengingat bahwa simbol negara bukan sekadar gambar biasa. Detail kecil seperti jumlah bulu pun punya makna besar, sehingga ketelitian jadi hal yang tidak bisa ditawar, terlebih bagi institusi resmi negara. (*)





