Puluhan Paus Pilot Terdampar di Pantai Mbadokai Rote NTT, 34 Ekor Diselamatkan

Intrend.id – Puluhan paus pilot sirip pendek tiba-tiba muncul di perairan dangkal dan terdampar di sepanjang Pantai Mbadokai Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao. Langit pagi di pesisir selatan Pulau Rote, NTT mendadak berubah muram. Ombak bergulung pelan, angin laut berembus lembut, namun di balik ketenangan itu tersimpan peristiwa memilukan.
Fenomena langka paus pilot sirip pendek terdampar di perairan dangkal NTT itu pertama kali dilaporkan warga kepada petugas piket Polsek Rote Barat Daya pada Senin, 9 Maret 2026 sekitar pukul 08.00 WITA. Awalnya, nelayan setempat mengira gerombolan hewan laut tersebut hanyalah lumba-lumba yang terjebak pukat nelayan. Namun setelah aparat kepolisian bersama tim gabungan melakukan pengecekan langsung di perairan Desa Fuafuni, fakta yang ditemukan jauh lebih mengejutkan.
Gerombolan tersebut ternyata merupakan paus pilot sirip pendek yang jumlahnya mencapai 55 ekor.
Kabar itu menyebar cepat dari bibir pantai ke kampung-kampung sekitar. Warga berbondong-bondong datang, sebagian ingin membantu, sebagian lain sekadar menyaksikan fenomena alam yang jarang terjadi. Kamera ponsel pun terangkat, merekam momen langka ketika mamalia laut raksasa itu bergelut dengan air dangkal dan pasir pantai.
Namun di balik keramaian itu, perjuangan penyelamatan berlangsung penuh harap.
Personel Polsek Rote Barat Daya yang dipimpin Aiptu Edwin C. Seran langsung bergerak ke lokasi. Bersama nelayan, aparat desa, Babinsa, serta relawan, mereka berupaya menyelamatkan kawanan paus yang mulai terjebak di perairan dangkal.
Beberapa paus bahkan ditemukan terjerat jaring nelayan, membuat pergerakan mereka semakin terbatas.
Kapolsek Rote Barat Daya IPDA Subur Gunawan menjelaskan bahwa penyelamatan dilakukan dengan peralatan sederhana. Warga dan aparat bekerja bahu-membahu menggiring paus kembali ke laut yang lebih dalam.
“Dengan peralatan seadanya, upaya personel Polsek Rote Barat Daya dibantu nelayan menggiring sekawanan paus pilot ini ke perairan yang lebih dalam,” ujarnya kepada Rakyat NTT.
Upaya tersebut bukan pekerjaan mudah.
Tubuh paus pilot bisa mencapai panjang lebih dari lima meter dengan bobot ratusan kilogram. Ketika air laut surut dan ombak tak cukup kuat mendorong mereka kembali ke laut, mamalia itu seperti terperangkap dalam perangkap alam.
Warga berusaha menjaga agar paus tetap hidup. Ember-ember air laut disiramkan ke tubuh mereka agar kulit tetap lembap. Sebagian warga menahan tubuh paus agar tidak terbalik di pasir.
Namun waktu sering kali berjalan lebih cepat dari harapan.
Sebagian paus masih terlihat bergerak, mengibaskan siripnya di air dangkal. Tapi beberapa lainnya tergeletak tak berdaya. Napas mereka perlahan melemah sebelum akhirnya berhenti.
Hingga proses evakuasi selesai, tercatat 34 ekor paus berhasil diselamatkan dan diarahkan kembali ke laut lepas. Sementara 21 ekor lainnya ditemukan mati di lokasi.
Bhabinkamtibmas Polsek Rote Barat Daya, Bripka Rian Motong, mengatakan kawanan paus itu mulai terlihat terdampar sejak pagi hari ketika air laut surut.
Diduga kondisi perairan dangkal dan surutnya air laut membuat paus-paus tersebut terjebak di dekat pantai.
Setelah proses penyelamatan selesai, perhatian aparat beralih pada penanganan bangkai paus yang mati. Untuk mencegah pencemaran lingkungan serta bau menyengat, bangkai paus dikuburkan di sekitar pantai menggunakan alat berat pada Selasa, 10 Maret 2026.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Imam Fauzi, menjelaskan bahwa sebelum dikuburkan, bangkai paus terlebih dahulu diperiksa oleh petugas.
Setelah pemeriksaan kondisi, bangkai paus kemudian dikuburkan di sekitar area pantai. Satu unit alat berat dikerahkan untuk membantu proses penguburan.
“Sebanyak 21 ekor dinyatakan mati karena terdampar,” ujarnya kepada Antara, Rabu 11 Maret 2026.
Panjang tubuh paus yang mati bervariasi, antara 2,4 meter hingga 5,1 meter. Hingga kini, petugas masih terus melakukan pemantauan di sekitar wilayah pesisir untuk mengantisipasi kemungkinan paus kembali terdampar.
Fenomena ini diperkirakan menjadi bagian dari perilaku alami paus pilot. Paus pilot dikenal sebagai mamalia laut yang hidup dalam kelompok besar layaknya sebuah keluarga. Mereka bermigrasi ribuan kilometer melintasi samudra, mengandalkan sonar alami untuk bernavigasi di lautan luas.
Namun sistem navigasi tersebut dapat terganggu oleh berbagai faktor.
Suara kapal, cuaca buruk, perubahan arus laut, atau kondisi salah satu anggota kelompok yang sakit dapat membuat kawanan paus menyimpang dari jalurnya. Ketika satu paus mendekati pantai, yang lain sering kali ikut mendekat untuk membantu.
Ironisnya, naluri solidaritas itu justru membuat seluruh kelompok berisiko terdampar bersama.
Fenomena migrasi paus ini sering dibandingkan dengan perjalanan panjang manusia purba. Nenek moyang manusia, mulai dari Australopithecus afarensis hingga Homo sapiens, juga melakukan migrasi ribuan kilometer demi bertahan hidup.
Sekitar 70 ribu tahun lalu, Homo sapiens keluar dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia untuk berburu dan mencari makanan.
Baru setelah revolusi pertanian sekitar 12 ribu tahun lalu manusia mulai menetap, bercocok tanam, dan membangun peradaban.
Paus pilot, seperti manusia di masa lampau, tetap setia pada naluri perjalanan. Bedanya, di lautan luas, satu kesalahan arah bisa berujung tragedi.
Paus pilot terdampar di Pantai Mbadokai Rote NTT telah menjadi cerita dan kenangan pahit sekaligus pelajaran. Laut yang luas kadang membawa kehidupan, kadang pula menyisakan kehilangan. Namun di tengah tragedi itu, tersimpan pula kisah tentang gotong royong manusia yang berusaha menyelamatkan makhluk laut yang tersesat di tepian dunia. (*)









