Viral Turis Selandia Baru Miranda Lee Rusak Kabel Musala di Gili Trawangan saat Ramadan

Intrend.id – Miranda Lee turis asal Selandia Baru membuat malam pertama Ramadan 2026 di Gili Trawangan mendadak ricuh tak terkendali. Biasanya suasana syahdu penuh lantunan ayat suci, suara tadarus yang mestinya bikin hati teduh, justru berubah jadi pemicu gaduh.
Wisatawan asing perempuan turis Selandia Baru Miranda Lee dilaporkan memotong kabel mikrofon musala di Gili Trawangan karena mengaku tak bisa tidur akibat suara Al-Qur’an.
Insiden terjadi Rabu malam, 18 Februari 2026 hingga dini hari Kamis, 19 Februari. Dalam video yang viral di media sosial, warga Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, masih fokus ibadah ketika perempuan asal Selandia Baru itu datang dengan emosi meledak-ledak. Ia berteriak meminta tadarus dihentikan. Tak cukup sampai di situ, ia masuk ke area musala dan mencabut kabel pengeras suara.
Adu mulut pun tak terhindarkan. Dalam keributan itu, satu warga mengalami luka ringan akibat cakaran, sementara seorang tokoh musala sempat terjatuh. Situasi sempat memanas, tapi berhasil diredam. Miranda kemudian kembali ke vila tempatnya menginap, hanya sekitar 50 meter dari lokasi.
Namun drama belum selesai. Keesokan malamnya, ia kembali terseret konflik setelah merebut ponsel warga yang merekam kejadian. Saat warga mencoba mengambil kembali ponsel tersebut, ia mengancam menggunakan parang (machete). Warga berhasil merebut salah satu parang, dan suasana yang nyaris chaos akhirnya bisa ditenangkan.
Video insiden itu langsung viral di Instagram, TikTok, hingga YouTube Shorts. Ribuan komentar bermunculan. Ada yang geram, ada yang mengingatkan soal toleransi budaya, ada juga yang menyayangkan hoaks yang menyebut pelaku sebagai turis Israel. Faktanya, berdasarkan konfirmasi resmi, ia adalah warga negara Selandia Baru.
Kapolda NTB, Edy Murbowo, menyatakan situasi kini sudah kondusif. “Sudah dilakukan edukasi. Kami minta pengelola hotel dan resort aktif memberi informasi kepada tamu soal tradisi lokal, terutama selama Ramadan,” ujarnya seperti dikutip media nasional.
Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, menegaskan pihaknya masih memantau agar kondisi tetap aman. Sementara itu, Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, secara terbuka meminta agar WNA tersebut dipulangkan.
“Supaya tidak terulang lagi, lebih baik dipulangkan saja,” tegas Husni.
Dari sisi imigrasi, kasus ini makin runyam. Pemeriksaan oleh Kantor Imigrasi menemukan bahwa Miranda diduga overstay sejak 30 Januari 2026. Ia masuk menggunakan visa kunjungan (Visa on Arrival), namun masa tinggalnya telah melewati batas. Kombinasi overstay visa dan dugaan gangguan ketertiban umum membuat ancaman deportasi hampir pasti.
Secara pidana, belum ada penahanan resmi atas tuduhan berat. Namun proses hukum tetap berjalan. Fokus utama kini pada pelanggaran administrasi keimigrasian yang lebih cepat diproses. Aparat juga memastikan tidak ada eskalasi lanjutan di pulau yang dikenal sebagai “party island” tersebut.
Perlu dipahami, selama Ramadan, penggunaan pengeras suara untuk tadarus di wilayah itu diperbolehkan hingga pukul 00.00 WITA sesuai aturan lokal. Artinya, kegiatan warga saat malam kejadian masih dalam koridor regulasi setempat.
Insiden ini jadi pengingat keras di tengah geliat pariwisata. Gili Trawangan adalah destinasi internasional dengan ribuan turis datang setiap hari. Pulau kecil tanpa kendaraan bermotor ini terkenal dengan pantai pasir putih, snorkeling bareng penyu, sunset epic, hingga nightlife yang ramai. Tapi di balik vibe santai dan pesta pantai, ada komunitas lokal mayoritas Muslim dengan tradisi kuat yang harus dihormati.
Selama ini, kasus turis di Gili T umumnya soal mabuk berisik atau pelanggaran kecil. Namun insiden Ramadan 2026 ini jadi yang paling viral dan sensitif karena menyentuh ranah ibadah.
Narasinya jelas: wisata boleh bebas, tapi tetap ada batas. Hormati adat, pahami budaya, jangan merasa paling berkuasa. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, dan Ramadan adalah momen sakral yang dijaga penuh khidmat.
Per 22 Februari 2026 pagi, proses pemeriksaan imigrasi masih berlangsung. Belum ada pengumuman resmi soal tanggal deportasi, namun sumber menyebut proses berjalan cepat. Warga berharap keputusan segera diambil demi menjaga ketertiban dan mencegah potensi konflik baru.
Kasus turis Selandia Baru Miranda Lee telah reda. Kini Gili Trawangan kembali tenang. Ombak tetap berderu, sunset tetap syahdu, dan tadarus kembali menggema. Tapi satu pelajaran mahal terukir jelas: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Wisata itu soal menikmati, bukan mendominasi. Toleransi bukan sekadar kata, tapi sikap nyata. (*)









