Hiburan

Voice of Baceprot 2026: Rilis “Garong” dan Bakal Tampil di Taiwan

Intrend.id – Voice of Baceprot (VoB) di 2026 tetap eksis. Mereka baru saja merilis “Garong”. Trio band metal Indonesia ini juga bakal tampil di Taiwan.

Voice of Baceprot 2026 tetap dengan setelan suara gitar yang keras. Tapi kadang suara mereka menjangkau fungsi lebih dari sekadar bikin kepala ikut mengangguk.

Bagi VoB, musik adalah ruang untuk menyampaikan keresahan. Trio heavy metal asal Garut, Jawa Barat, ini kembali memakai musik untuk menyentil persoalan sosial. Kali ini sasarannya adalah korupsi.

Lewat lagu “Garong”, VoB tidak cuma bicara soal uang negara yang hilang. Mereka mengajak publik melihat masalah yang lebih dekat dan agak bikin tidak nyaman: kenapa masyarakat bisa semakin terbiasa melihat kasus korupsi?

Lagu tersebut dirilis pada 16 Agustus 2026. VoB merilisnya di bawah label Dark Anthem Records dengan Christopher “Cella” Bollemeyer sebagai produser.

Voice of Baceprot Soroti Korupsi yang Makin Dianggap Biasa

“Garong” lahir dari kegelisahan yang sederhana.

Berita korupsi terus bermunculan. Nama tersangka berganti. Angka kerugian negara ikut berubah. Media memberitakan. Media sosial ramai.

Setelah itu?

Publik pindah ke berita berikutnya.

Menurut Marsya, kondisi tersebut membuat reaksi masyarakat terasa semakin datar. Orang masih marah, tetapi kemarahannya cepat hilang.

“Ketika berita-berita itu naik, komentar orang-orang sudah kayak biasa saja. Marah ya marah, tapi ya sudah saja,” kata Marsya.

Pertanyaan VoB kemudian menjadi cukup mengganggu.

Kapan terakhir kali masyarakat benar-benar kaget mendengar kasus korupsi?

Bukan cuma kaget karena nominalnya besar. Tetapi kaget karena tindakan tersebut masih bisa terjadi.

Di sinilah “Garong” punya pesan yang lebih luas.

Korupsi tidak hanya menguras uang negara. Praktik tersebut juga bisa merusak kepercayaan publik dan rasa keadilan. Jika terus berulang, penyimpangan berisiko dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan politik.

“Garong” Bicara tentang Kelelahan Moral

Ada satu hal menarik dari lagu ini.

VoB tidak berhenti pada kemarahan terhadap pelaku korupsi.

Mereka justru mengajak pendengar melihat reaksi masyarakat.

Kasus muncul. Publik marah. Media sosial penuh komentar. Penegak hukum bergerak. Setelah beberapa hari, perhatian publik bergeser.

Siklus itu terus berulang.

Lama-lama, berita korupsi bisa kehilangan daya kejutnya.

Orang masih membaca. Orang masih berkomentar. Namun rasa terkejutnya perlahan menghilang.

Kondisi tersebut bisa disebut sebagai kelelahan moral. Masalah yang seharusnya membuat publik geram justru terasa seperti berita harian biasa.

Musik kemudian menjadi cara VoB untuk mengusik keadaan itu.

Gitar yang agresif dan karakter metal yang kuat membawa pesan tersebut dengan cara yang tidak kalem-kalem amat.

Memang bukan gaya VoB kalau menyampaikan keresahan dengan berbisik.

Korupsi Indonesia Akut

Kegelisahan VoB juga punya konteks yang lebih besar.Di sinilah “Garong” menjadi menarik.

Musik memang tidak bisa menangkap koruptor.

Musik juga tidak bisa menyita aset atau menjatuhkan hukuman.

Tetapi musik punya kekuatan lain.

Musik bisa membuat orang berhenti.

Lalu berpikir.

Ketika kasus korupsi hanya muncul sebagai angka dalam laporan, masyarakat mungkin perlahan kehilangan rasa.

Namun ketika persoalan tersebut diterjemahkan menjadi suara, lirik, kemarahan, dan dentuman musik, masalah yang sama bisa kembali terasa dekat.

Itulah kekuatan kritik melalui budaya.

Tidak menggantikan hukum.

Tidak menggantikan lembaga antikorupsi.

Tetapi bisa menjaga agar publik tidak terlalu cepat lupa.

VoB Membawa Suara ke Dunia

“Garong” bukan satu-satunya cerita besar VoB pada 2026.

Trio yang terdiri dari Firda “Marsya” Kurnia, Widi Rahmawati, dan Euis Siti Aisyah juga kembali membawa musik mereka ke panggung internasional.

VoB dijadwalkan tampil di JAM JAM ASIA di Taipei pada 30 Agustus 2026. Setelah itu, mereka akan tampil di Mathariri Music Festival di Pingtung pada 5 September 2026.

Kunjungan tersebut bukan yang pertama.

Pada 2022, VoB pernah tampil di Pasiwali Festival di Taitung.

Kini mereka kembali setelah tiga tahun.

Widi mengaku senang bisa kembali ke Taiwan. Kali ini mereka juga punya waktu lebih panjang untuk mengeksplorasi Taiwan di sela jadwal manggung.

Perjalanan VoB memang sudah jauh.

Band ini dibentuk pada 2014 di Singajaya, Garut. Nama “Baceprot” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “berisik”.

Nama tersebut akhirnya seperti menjadi identitas mereka.

Musiknya berisik.

Pesannya juga berani.

Pada 2024, VoB mencatat sejarah sebagai grup Indonesia pertama yang tampil di Glastonbury Festival Inggris. Mereka juga pernah tampil di Wacken Open Air.

Kini, lewat “Garong”, mereka kembali membuktikan bahwa suara keras tidak harus kosong.

Kadang suara keras justru dibutuhkan untuk mengingatkan sesuatu yang mulai dianggap biasa.

Korupsi boleh sering diberitakan.

Namun, jangan sampai rasa marah terhadapnya ikut menjadi rutinitas.

Sebab ketika masyarakat sudah tidak lagi merasa terganggu oleh penyimpangan, masalahnya bukan cuma pada koruptor.

Voice of Baceprot 2026 tetap bersuara lewat musik sehingga kita semua sedang belajar untuk terbiasa. (*)

Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!

Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan

Tinggalkan Balasan

Back to top button
DMCA.com Protection Status