Banjir Bandang Dahsyat Hantam Perbatasan Nepal Tibet, Ratusan Tewas dan Ribuan Orang Hilang
Intrend.id – Bencana banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu 26 Agustus 2026, pagi. Air bercampur lumpur, batu, es, dan material longsoran menyapu lembah serta permukiman di sepanjang aliran sungai.
Sedikitnya 359 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang di Nepal hingga Kamis 27 Agustus 2026. Tiga korban jiwa juga dilaporkan di Gyirong, Tibet. Sementara itu, jumlah orang yang masih hilang di kedua wilayah mencapai lebih dari 1.400 orang.
Sejumlah video rekaman CCTV saat bencana menerjang beredar di media sosial. Teriakan dan gemuruh suara air bercampur material batu melanda perbukitan dan pemukiman warga.
Bencana bermula sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Material es dan batu dalam jumlah besar runtuh dari kawasan pegunungan Himalaya.
Sinyal getaran akibat runtuhan tersebut sempat ditafsirkan sebagai gempa bumi berkekuatan sekitar magnitudo 4,4 hingga 5,2. Namun, analisis lanjutan menunjukkan tidak terjadi gempa tektonik. Getaran berasal dari pergerakan cepat es, batu, dan material longsoran.
Material tersebut kemudian jatuh ke Lhende Khola. Aliran material masuk ke sistem Sungai Bhotekoshi sebelum menerus ke Sungai Trishuli.
Gelombang material bergerak sangat cepat. Kecepatannya diperkirakan mendekati 50 meter per detik. Banjir kemudian menerjang lebih dari 20 kilometer ke arah hilir.
Rasuwa dan Nuwakot Jadi Wilayah Terdampak Parah
Di sisi Tibet, banjir dan longsoran menerjang wilayah Gyirong. Aliran kemudian masuk ke Nepal melalui Distrik Rasuwa.
Kawasan Timure, Syapru Besi, dan perbatasan Rasuwagadhi menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah.
Material banjir kemudian terbawa ke wilayah Nuwakot, Dhading, Chitwan, Gorkha, hingga kawasan dataran rendah Nepal.
Kendaraan, rumah, jembatan, dan berbagai bangunan tersapu arus. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan derasnya aliran lumpur menghantam kawasan permukiman.
Sedikitnya 19 jembatan dilaporkan hancur. Sekitar 40 kilometer jalan juga rusak. Jalur penting yang menghubungkan Kathmandu dengan perbatasan Tibet ikut terdampak.
Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air juga mengalami kerusakan. Kapasitas pembangkit yang terdampak diperkirakan mencapai ratusan megawatt.
Ratusan Turis dan Jemaah Ziarah Hilang
Banjir juga berdampak pada wisatawan dan jemaah yang melakukan perjalanan menuju kawasan suci Kailash Mansarovar di Tibet.
Di Nepal, ratusan warga asing dilaporkan belum dapat dihubungi. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, Malaysia, dan Korea Selatan.
Selain wisatawan, sejumlah petugas keamanan, pegawai bea cukai, pekerja perbatasan, dan pekerja proyek pembangkit listrik juga dilaporkan hilang.
Nepal Tourism Board sebelumnya melaporkan ratusan wisatawan asing dan warga Nepal tidak dapat dihubungi setelah bencana.
Di salah satu proyek pembangkit listrik tenaga air di kawasan Syapru Besi, sekitar 60 pekerja juga dilaporkan hilang.
Operasi Pencarian Menghadapi Medan Sulit
Tim penyelamat Nepal mengerahkan tentara, polisi, helikopter, drone, dan anjing pelacak. Ribuan personel dikerahkan dalam operasi pencarian dan evakuasi.
Kerusakan jalan dan jembatan menjadi kendala utama. Tingginya debit sungai serta timbunan lumpur juga menyulitkan petugas mencapai sejumlah lokasi.
Helikopter digunakan untuk mengirim bantuan ke wilayah yang terisolasi.
Di Tibet, pemerintah China juga mengerahkan personel penyelamat, kendaraan, perahu, dan anjing pelacak. Perdana Menteri China Li Qiang dilaporkan meninjau lokasi terdampak di Gyirong.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mendesak warganya untuk bersatu setelah banjir dahsyat menewaskan sedikitnya 95 orang di dekat perbatasan dengan Tibet.
“Penderitaan dan kehilangan yang Anda alami sungguh berat,” ujar Shah, lalu menjanjikan bahwa pemerintah akan bertanggung jawab atas penyelamatan, perawatan, serta penyediaan makanan dan tempat penampungan bagi para penyintas.
Ancaman Banjir Susulan Mengintai
Bahaya belum berakhir. Material longsoran yang menutup aliran sungai berpotensi membentuk danau baru di bagian hulu.
Jika tanggul alami tersebut jebol, air dapat kembali mengalir deras ke wilayah hilir. Otoritas Nepal meminta warga di sepanjang Sungai Bhotekoshi meningkatkan kewaspadaan dan menjauh dari bantaran sungai.
Pemerintah China juga memantau kondisi danau yang terbentuk akibat material longsoran.
Bencana ini kembali menunjukkan tingginya risiko geohazard di Himalaya. Pemanasan global menyebabkan gletser mencair dan sejumlah struktur es serta batuan menjadi semakin tidak stabil.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko runtuhan gletser, banjir bandang, serta fenomena Glacial Lake Outburst Flood (GLOF).
Hingga Kamis 27 Agustus 2026, operasi pencarian masih berlangsung. Jumlah korban dan orang hilang diperkirakan dapat berubah seiring tim penyelamat mencapai wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Nepal dan China juga terus berkoordinasi dalam penanganan bencana. Pemerintah berbagai negara memantau kondisi warga negaranya yang terdampak.
BBC melaporkan akibat banjir bandang dahsyat yang melanda Nepal hari ini, 19 jembatan dan jalan sepanjang 40 km hanyut terbawa arus. Sebanyak 13 proyek pembangkit listrik tenaga air mengalami kerusakan dan lebih dari 200 truk tersapu banjir. India dan Tiongkok telah menawarkan bantuan, sementara pemerintah Nepal meminta dukungan LSM untuk upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan. Belum ada laporan mengenai jumlah korban.
Besarnya kerusakan dan korban membuat bencana banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet ini menjadi salah satu tragedi alam paling serius di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









