Intrend.id – Euforia kemenangan Paris Saint-Germain di UEFA Champions League Final 2026 benar-benar pecah—baik di dalam Puskás Aréna, Budapest maupun di luar stadion. Setelah menaklukkan Arsenal lewat adu penalti 4-3 (skor 1-1 hingga extra time), PSG resmi back-to-back juara Eropa dan mengukir sejarah besar, Minggu 31 Mei 2026, dini hari waktu Indonesia.
Paris Saint-Germain secara permainan tampil sangat dominan. Statistik mencatat mereka membukukan 610 operan lebih banyak dibanding Arsenal, dengan penguasaan bola mencapai 75%, 14 tembakan lebih banyak, serta 29 sentuhan ekstra di kotak penalti lawan. Angka-angka ini menegaskan dominasi Les Parisiens sepanjang laga final di Budapest.
Di tengah pesta kemenangan, landmark ikonik Menara Eiffel menjadi pusat perayaan. Ribuan fans tumpah ruah merayakan gelar Liga Champions kedua beruntun yang sukses dipertahankan tim kebanggaan mereka.
Pelatih PSG, Luis Enrique, memberikan pernyataan penuh makna usai laga. Ia menyoroti pentingnya sportivitas, bahkan dalam kekalahan.
“Dalam sepak bola tidak ada benar-benar yang kalah. Kehilangan adalah bagian dari hidup. Yang penting adalah memberikan 100 persen dan menerima hasilnya,” ujarnya seperti wawancara DAZN.
Ia juga menyinggung momen emosional saat melihat interaksi pemain lawan yang tetap saling menghormati usai pertandingan. Baginya, itu adalah contoh penting bagi generasi muda tentang bagaimana menghadapi kemenangan dan kekalahan.
Dari sisi pemain, Ousmane Dembele menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja keras sepanjang musim.
“Kami bekerja keras untuk bisa back-to-back. Musim ini berat, tapi pada akhirnya kami tetap juara Liga Champions,” ungkapnya.
Dia juga menulis di akun media sosial, “back to back.”
Sementara itu, Achraf Hakimi menegaskan filosofi tim dengan kalimat singkat tapi kuat: “Tim lebih penting dari pemain.”
Final ini sendiri berjalan ketat. Arsenal unggul lebih dulu lewat gol cepat Kai Havertz (6) di babak pertama, sebelum disamakan oleh penalti Dembele (65) babak kedua. Laga berlanjut hingga extra time tanpa gol tambahan, lalu ditentukan lewat adu penalti dramatis.
PSG mencetak 4 gol dari 5 penendang, sementara Arsenal gagal dua kali, termasuk tendangan terakhir Gabriel yang melambung. Kiper David Raya sempat memberi harapan dengan menepis penalti Nuno Mendes, tapi itu belum cukup menyelamatkan The Gunners.
PSG
Gonçalo Ramos (1)
Désiré Doué (2)
Nuno Mendes (dihadang David Raya, 3)
Achraf Hakimi (4)
Lucas Beraldo (5)
Arsenal
Viktor Gyökeres (1)
Eberechi Eze (melebar, 2)
Declan Rice (3)
Gabriel Martinelli (4)
Gabriel Magalhães (melambung, 5)
Gelandang PSG, Vitinha, dinobatkan sebagai Player of the Match berkat performa solidnya mengatur tempo permainan.
Namun, di balik kemeriahan, muncul sisi gelap. Perayaan di Paris sempat berubah ricuh di beberapa titik. Polisi dilaporkan menahan 45 orang akibat aksi vandalisme, pembakaran, hingga upaya penyerangan kantor aparat. Seorang polisi juga dilaporkan mengalami luka dalam insiden tersebut.
Meski begitu, secara keseluruhan malam itu tetap jadi sejarah besar bagi PSG. Mereka kini sejajar dengan Real Madrid sebagai tim yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions di era modern.
Real Madrid memenangkan gelar Liga Champions berturut-turut di era modern (1992/1993). Real Madrid memenangkan gelar Liga Champions back to back pada 2016/2017 dan 2017/2018 (sebenarnya tiga gelar berturut-turut: 2015/2016, 2016/2017, dan 2017/2018).
Sekarang giliran PSG, dari juara menjadi juara lagi.
Paris Saint-Germain benar-benar mengukuhkan diri dan memberikan pesan sebagai raja baru Eropa. Selamat (*)




