Trend in Siber

Filipina Tetangga Indonesia Darurat Energi Dampak Perang Iran

Intrend.id – Filipina lagi tak baik-baik karena mengalami darurat energi. Presiden Ferdinand Marcos Jr. resmi mengumumkan status darurat energi nasional gara-gara dampak perang di Timur Tengah yang makin panas.

Filipina darurat energi adalah imbas Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Perang ini mulai berimbas ke pasokan energi global, termasuk ke negara tetangga Indonesia, Filipina, yang sangat bergantung pada impor.

Dilansir The Guardian, status darurat ini bakal berlaku selama satu tahun. Pemerintah bergerak cepat karena pasokan energi dinilai dalam kondisi rawan banget.

Dalam keputusan resminya, pemerintah menyebut situasi ini sebagai “ancaman mendesak” terhadap stabilitas energi nasional. Tak main-main, cadangan bahan bakar Filipina per 20 Maret cuma cukup buat sekitar 45 hari!

Makanya, pemerintah langsung tancap gas cari solusi. Salah satunya dengan rencana beli tambahan 1 juta barel minyak buat cadangan darurat.

Selain itu, mereka juga mempertimbangkan langkah kontroversial: minta izin ke Departemen Luar Negeri Amerika Serikat buat beli minyak dari negara yang kena sanksi seperti Iran atau Venezuela.

Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, bilang proses pengajuan waiver ini masih berjalan. Kalau tembus, ini bisa jadi “jalan pintas” buat jaga pasokan energi tetap aman.

Di dalam negeri, dampaknya udah kerasa banget. Harga bensin dan solar dilaporkan naik lebih dari dua kali lipat sejak konflik pecah akhir Februari.

Filipina sendiri mengimpor sekitar 98% kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, jadi wajar kalau langsung kena efek domino.

Sebagai langkah darurat, pemerintah kasih bantuan langsung sebesar 5.000 peso buat pengemudi ojek dan transportasi umum. Tak cuma itu, layanan bus gratis juga disiapkan buat pelajar dan pekerja di beberapa kota biar beban mereka agak ringan.

Pemerintah juga kasih kewenangan ekstra ke Departemen Energi buat mengawasi spekulasi harga dan bahkan melakukan pembayaran di muka demi mengamankan kontrak bahan bakar. Sementara itu, Departemen Transportasi bisa kasih subsidi BBM dan bahkan menurunkan tarif tol serta biaya penerbangan.

Menariknya, Filipina juga bakal balik “mengandalkan” batubara. Menteri Energi Sharon Garin bilang lonjakan harga LNG bikin mereka harus realistis untuk sementara. Bahkan opsi impor batubara dari Indonesia juga dibuka lebar.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai siaga soal warganya di luar negeri. Sekitar 2,4 juta warga Filipina bekerja di Timur Tengah, termasuk puluhan ribu di Israel dan Iran. Potensi evakuasi pun mulai disiapkan.

Meski begitu, tak semua pihak setuju. Koalisi buruh Kilusang Mayo Uno justru mengkritik keras kebijakan ini. Mereka menyebut deklarasi darurat sebagai bukti pemerintah gagal mengantisipasi krisis sejak awal.

Situasi Filipina darurat energi ini menunjukan satu hal, krisis global bisa langsung menyeret negara lain ke dalam masalah serius. Filipina jadi contoh nyata perang jauh di Timur Tengah bisa membuat kondisi dalam negeri jadi ikut goyah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status