Kapan Awal Ramadan 2026 Dimulai? Ini Dua Versi Penetapannya

Intrend.id – Kapan awal Ramadan 2026 kembali menjadi pertanyaan besar umat Islam di Indonesia. Terutama bagi masyarakat yang masih memperhatikan tanda-tanda alam dan peredaran bulan secara langsung. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan resmi awal puasa secara nasional tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama.
Menjelang awal Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, pencarian informasi mengenai “kapan puasa 2026 dimulai” meningkat tajam di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Kepastian awal puasa tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga berdampak pada penyesuaian aktivitas sosial, ekonomi, hingga pelayanan publik.
Momentum Ramadan dikenal sebagai periode meningkatnya mobilitas masyarakat. Oleh sebab itu, kejelasan jadwal awal puasa sangat penting agar lembaga pemerintahan dan penyedia layanan publik dapat menyiapkan kebijakan secara tertib dan efektif.
Makna Ramadan dan Persiapan Umat
Bulan Ramadan sering disebut sebagai “tamu agung” yang patut disambut dengan persiapan lahir dan batin. Salah satu hadits yang kerap dikutip menyebut Ramadan sebagai bulan keberkahan, rahmat, dan pengampunan dosa.
“Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan keberkahan. Allah menurunkan rahmat, menghapus dosa, dan mengabulkan doa…” (HR ath-Thabrani).
Dalam literatur keislaman, Ramadan dipandang sebagai:
1. Madrasah takwa, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 183.
2. Momentum bersegera dalam kebaikan, karena waktu Ramadan sangat terbatas.
3. Penyucian niat, dengan menjalankan ibadah secara imanan wa ihtisaban.
Perkiraan Awal Ramadan 2026
Jika awal Ramadan 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Jika dihitung sejak 18 Desember 2025 hingga 18 Februari 2026, maka awal puasa akan tiba dalam waktu sekitar 62 hari, atau kurang lebih 8 minggu 6 hari (hampir 9 minggu).
Sementara itu, Kalender Hijriah Indonesia yang disusun Kementerian Agama memperkirakan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, atau selisih satu hari dari versi Muhammadiyah.
Perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim dan telah lama terjadi dalam tradisi penetapan kalender Islam di Indonesia.
Perbedaan Metode Penetapan Awal Ramadan
Perbedaan tanggal awal Ramadan muncul karena metode yang digunakan masing-masing lembaga berbeda.
Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang dikombinasikan dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.1/B/2025, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.
KHGT sendiri mengadopsi konsensus internasional yang dikenal sebagai Kriteria Turki 2016, dengan ketentuan:
– Seluruh bumi dianggap sebagai satu zona kalender (satu matlak),
– Ketinggian hilal minimal 5 derajat,
– Elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 00.00 UTC.
Pendekatan ini dipandang lebih universal karena menyatukan kalender Islam secara global.
Sementara itu, Kementerian Agama menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyat dengan kriteria MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). Metode ini mengombinasikan perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal.
Meski kalender Kemenag memprediksi 1 Ramadan 2026 jatuh pada 19 Februari, penetapan resmi tetap menunggu sidang isbat yang mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai titik di Indonesia.
Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran 2026
Pemerintah telah menetapkan jadwal libur dan cuti bersama Idul Fitri 2026 melalui SKB Tiga Menteri, yaitu:
– Kemenag Nomor 1497 Tahun 2025,
– Kemenaker Nomor 2 Tahun 2025,
– KemenPANRB Nomor 5 Tahun 2025.
Rinciannya:
– 20 Maret 2026: Cuti Bersama Lebaran
– 21–22 Maret 2026: Libur Nasional Idul Fitri
– 23–24 Maret 2026: Cuti Bersama
Dengan ketentuan tersebut, masyarakat mendapatkan sekitar tujuh hari waktu libur untuk merayakan Lebaran.
Mengapa Sidang Isbat Tetap Penting?
Sidang isbat akan berperan sebagai penentu tunggal yang berlaku nasional awal Ramadan 2026. Keputusan sidang ini menjadi acuan bagi masyarakat, lembaga negara, dan penyelenggara layanan publik.
Sidang isbat mempertimbangkan data hisab astronomi, laporan rukyat dari puluhan titik pengamatan, hingga kajian ilmiah para ahli falak.
Hasilnya diumumkan pada malam yang sama dan bersifat final.
Kesimpulan
Perbedaan awal Ramadan 2026 ini merupakan bagian dari dinamika penentuan kalender Islam, namun tetap berada dalam satu tujuan yang sama: menyambut Ramadan dengan penuh kesiapan dan kekhusyukan.
– Versi Muhammadiyah: Puasa dimulai Rabu, 18 Februari 2026
– Versi Kemenag (prediksi): Puasa dimulai Kamis, 19 Februari 2026
– Penetapan resmi: Menunggu hasil sidang isbat Ramadan 2026 (*)






