Trend in Sports

Kutukan Adu Penalti Kolombia di Piala Dunia, Luka Lama Terulang Lagi

Intrend.id – Adu penalti bagi Kolombia di Piala Dunia seolah bukan sekadar penentu hasil akhir. Momen itu sudah berubah menjadi mimpi buruk yang terus menghantui. Delapan tahun berlalu, generasi pemain berganti, pelatih berubah, bahkan gaya bermain ikut berkembang. Namun hasil akhirnya tetap sama.

Kolombia kembali tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia lewat adu penalti dengan skor identik 3-4. Jika pada edisi 2018 mereka dipulangkan Inggris, kali ini Swiss menjadi tim yang memupus mimpi Los Cafeteros melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.

Ironisnya, pola kekalahannya nyaris sama.

Adu Penalti Kolombia Piala Dunia 2018

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, 3 Juli, Kolombia bermain imbang 1-1 melawan Inggris hingga babak tambahan. Saat itu Harry Kane membawa Inggris unggul lewat penalti sebelum Yerry Mina mencetak gol dramatis pada menit ke-93 yang memaksa pertandingan berlanjut ke ekstra time alias perpanjangan waktu.

Semangat juang Kolombia mendapat pujian. Mereka bangkit di detik-detik terakhir dan membuat Inggris frustrasi.

Namun semua perjuangan itu akhirnya sirna ketika pertandingan masuk ke adu penalti.

Radamel Falcao, Juan Cuadrado, dan Luis Muriel menjalankan tugas dengan sempurna. Akan tetapi Carlos Bacca gagal setelah tendangannya dibaca Jordan Pickford, sementara Mateus Uribe membuat publik Kolombia terdiam ketika sepakannya menghantam mistar gawang.

Di kubu Inggris, Eric Dier menjadi algojo terakhir yang memastikan kemenangan 4-3. Saat itu Inggris justru mengakhiri kutukan adu penalti mereka sendiri di Piala Dunia.

Delapan tahun kemudian, sejarah seperti memutar ulang adegannya.

Adu Penalti Kolombia Piala Dunia 2026

Di BC Place, Vancouver, Rabu 8 Juli 2026, Kolombia kembali tampil kompetitif menghadapi Swiss. Bahkan secara permainan mereka terlihat lebih dominan.

Luis Diaz terus mengancam dari sisi kiri. James Rodriguez tetap menjadi otak serangan. Statistik juga memperlihatkan keunggulan Kolombia. Mereka melepaskan 15 tembakan dengan expected goals mencapai sekitar 1,03. Swiss hanya menghasilkan tujuh percobaan dengan xG sekitar 0,35.

Namun sepak bola tidak selalu berpihak kepada tim yang lebih banyak menyerang.

Swiss bertahan sangat disiplin. Gregor Kobel tampil luar biasa di bawah mistar. Hingga 120 menit pertandingan berakhir, skor tetap 0-0.

Adu penalti kembali menjadi hakim terakhir.

Awalnya Kolombia masih berada di jalur yang benar. Juan Fernando Quintero sukses menjalankan tugas sebagai penendang pertama.

Lalu mimpi buruk itu muncul lagi.

Davinson Sanchez gagal setelah tendangannya menghantam mistar gawang. Situasi yang mengingatkan publik Kolombia pada tendangan Mateus Uribe delapan tahun sebelumnya.

Swiss memang sempat kehilangan peluang ketika Manuel Akanji gagal mencetak gol. Namun Gregor Kobel kemudian menjadi pembeda.

Kiper Swiss itu menggagalkan tendangan Cucho Hernandez. Penyelamatan tersebut menjadi titik balik pertandingan.

Luis Diaz sempat memperpanjang harapan Kolombia dengan mencetak gol pada giliran berikutnya. Sayangnya Ruben Vargas memastikan kemenangan Swiss lewat eksekusi terakhir.

Skor kembali berakhir 4-3.

Lagi-lagi Kolombia harus menerima kenyataan pahit.

Beberapa Kemiripan Kekalahan Adu Penalti

Yang membuat kekalahan ini terasa semakin menyakitkan adalah banyaknya kemiripan dengan edisi 2018.

Di dua pertandingan tersebut, Kolombia selalu mampu bertahan hingga 120 menit. Mereka tidak pernah kalah dalam permainan terbuka.

Pada 2018 mereka menunjukkan mental luar biasa lewat gol penyama kedudukan di masa injury time. Pada 2026 mereka justru tampil lebih dominan dibanding Swiss dan menciptakan peluang yang lebih berkualitas.

Sayangnya, semua keunggulan itu hilang ketika pertandingan memasuki fase paling menegangkan.

Ada pola yang sulit diabaikan.

Di dua adu penalti tersebut, Kolombia sama-sama kehilangan momentum akibat satu tendangan yang mengenai mistar gawang. Tahun 2018 dilakukan Mateus Uribe, sedangkan pada 2026 giliran Davinson Sanchez.

Kedua pertandingan juga menghadirkan sosok kiper lawan yang menjadi pahlawan.

Jordan Pickford menggagalkan penalti Carlos Bacca pada 2018. Gregor Kobel melakukan hal serupa terhadap Cucho Hernandez pada 2026.

Bahkan penentu kemenangan lawan juga terjadi pada eksekusi kelima.

Eric Dier menjadi penentu kemenangan Inggris delapan tahun lalu. Kini Ruben Vargas mengulang cerita serupa untuk Swiss.

Kemiripan itu membuat banyak pendukung Kolombia mulai menyebut adu penalti sebagai kutukan yang belum mampu mereka patahkan.

Padahal jika melihat kualitas permainan, Kolombia sebenarnya tidak pernah tampil buruk.

Pada dua turnamen tersebut mereka selalu melewati fase grup dengan cukup meyakinkan. Organisasi permainan juga terlihat solid. Kreativitas lini tengah tetap menjadi kekuatan utama.

Perbedaannya hanya satu.

Efektivitas di momen paling menentukan.

Tekanan mental saat berdiri di titik penalti sering kali menjadi pembeda antara tim yang bertahan dan tim yang pulang lebih cepat.

Swiss menunjukkan hal itu pada 2026. Mereka memang tidak tampil dominan, tetapi sangat tenang ketika menghadapi tekanan. Inggris melakukan hal serupa pada 2018.

Sementara Kolombia justru kehilangan ketenangan ketika satu kesalahan kecil mulai muncul.

Kekalahan ini juga menjadi bahan evaluasi besar bagi pelatih Néstor Lorenzo. Generasi baru yang dipimpin Luis Diaz sebenarnya memiliki potensi besar untuk bersaing di level tertinggi. Namun penyelesaian akhir dan persiapan menghadapi adu penalti tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Piala Dunia memang sering menghadirkan kisah heroik. Tetapi bagi Kolombia, dua edisi terakhir justru menghadirkan cerita yang sama.

Mereka tampil berani, bermain kompetitif, bahkan beberapa kali terlihat lebih baik daripada lawannya. Namun ketika pertandingan ditentukan dari titik putih, keberuntungan seolah selalu memilih berdiri di sisi yang berbeda.

Luka Lama Kolombia

Delapan tahun berlalu, lawan berganti dari Inggris menjadi Swiss. Stadion berpindah dari Moskow ke Vancouver. Generasi pemain juga berubah.

Namun hasil akhirnya tetap sama.

Timnas Kolombia kembali pulang usai adu penalti dengan kepala tegak, tetapi hati yang hancur berderai air mata. Adu penalti sekali lagi menjadi bab terakhir dari kisah yang belum mampu mereka ubah di panggung terbesar sepak bola dunia. (*)

Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!

Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status