Trend in Sports

Profil Murat Yakin Pelatih Swiss, Tangan Dingin yang Bikin Nati Jadi Kuda Hitam Piala Dunia 2026

Intrend.id – Murat Yakin adalah salah satu pelatih yang datang tanpa sorotan besar lalu mampu mengubah wajah tim nasional sepak bola (Timnas) Swiss dengan tangan dingin. Tak banyak yang menyerupainya.

Murat Yakin ditunjuk menangani Timnas Swiss pada Agustus 2021. Banyak yang meragukan keputusan Federasi Sepak Bola Swiss. Karier kepelatihannya memang pernah bersinar, tetapi beberapa tahun terakhir justru lebih banyak dihabiskan bersama klub-klub kecil di negaranya.

Lima tahun kemudian, semua keraguan itu berubah menjadi pujian.

Murat Yakin berhasil membawa Swiss menembus perempat final Piala Dunia 2026, pencapaian yang sudah dinanti sejak 1954. Sebuah sejarah baru yang lahir bukan karena skuad bertabur bintang, melainkan berkat organisasi permainan yang nyaris selalu disiplin.

Bagi Yakin, perjalanan ini bukanlah hasil instan.

Karier Murat Yakin sebagai Pemain Sepak Bola

Profil dan karier pria kelahiran Basel, 15 September 1974, itu sudah mengenal sepak bola Swiss sejak kecil. Ia lahir dari keluarga imigran Turki yang menetap di Swiss. Latar belakang itu membentuk karakternya menjadi pribadi yang tenang, pekerja keras, sekaligus mudah memahami pemain dari berbagai budaya.

Sebelum menjadi pelatih, Yakin lebih dulu dikenal sebagai bek tengah tangguh Timnas Swiss.

Ia mengoleksi 49 penampilan bersama negaranya sepanjang 1994 hingga 2004 dan tampil di Euro 2004. Sebagai pemain, Yakin identik dengan ketenangan, kepemimpinan, dan kemampuan membaca permainan. Karakter itu kemudian terbawa ke dunia kepelatihan.

Setelah pensiun pada 2006, ia langsung terjun menjadi pelatih.

Karier Murat Yakin sebagai Pelatih Sepak Bola

Kariernya dimulai dari level bawah. Ia menangani tim muda, menjadi asisten pelatih, hingga akhirnya mendapat kesempatan memimpin FC Thun. Di klub itulah namanya mulai dikenal setelah sukses membawa tim promosi dan tampil kompetitif di Liga Swiss.

Puncak karier klubnya datang bersama FC Basel.

Di sana, Yakin mempersembahkan dua gelar Liga Swiss secara beruntun. Namun pencapaian yang paling dikenang justru terjadi di Liga Champions musim 2013-2014.

Basel berhasil mengalahkan Chelsea dua kali, baik kandang maupun tandang. Saat itu Chelsea dilatih José Mourinho, salah satu pelatih terbaik dunia.

Kemenangan tersebut membuat nama Murat Yakin mulai diperhitungkan di Eropa.

Sayangnya, perjalanan setelah itu tidak selalu mulus.

Petualangannya bersama Spartak Moskow berlangsung singkat. Ia juga sempat berpindah-pindah klub seperti Grasshopper, Sion, hingga Schaffhausen. Hasilnya tidak terlalu istimewa. Bahkan ketika menerima tawaran melatih Schaffhausen di divisi dua Swiss, banyak yang menganggap kariernya mulai meredup.

Namun justru di masa itulah Yakin banyak belajar.

Ia memperbaiki pendekatan kepelatihannya, memperdalam aspek taktik, sekaligus mematangkan kemampuan mengelola ruang ganti.

Kesempatan emas akhirnya datang pada Agustus 2021.

Murat Yakin Tangani Timnas Swiss

Federasi Sepak Bola Swiss menunjuknya sebagai pengganti Vladimir Petkovic yang hengkang setelah Euro 2020.

Keputusan itu sempat dipertanyakan.

Namun Murat Yakin menjawab semuanya lewat hasil di lapangan.

Tugas pertama yang dihadapi adalah membawa Swiss lolos ke Piala Dunia 2022.

Hasilnya memberikan kesan ultra positif.

Swiss justru finis sebagai juara grup, mengungguli Italia yang saat itu masih berstatus juara Eropa. Keberhasilan itu menjadi salah satu kejutan terbesar babak kualifikasi.

Yakin bahkan sempat menjadi sorotan setelah bercanda akan mengirim cokelat Swiss kepada Irlandia Utara karena hasil imbang mereka membantu Swiss memastikan tiket otomatis ke Qatar.

Humor sederhana itu memperlihatkan sisi lain dirinya.

Tenang, santai, tetapi tetap fokus.

Di Piala Dunia 2022, Swiss kembali lolos dari fase grup sebelum akhirnya dihentikan Portugal pada babak 16 besar.

Meski kalah telak 1-6, fondasi permainan mulai terlihat jelas.

Swiss menjadi tim yang sulit ditembus, disiplin bertahan, dan sangat efektif saat melakukan serangan balik.

Perkembangan paling besar terlihat pada Euro 2024.

Swiss tampil mengejutkan sejak fase grup. Mereka mampu bersaing dengan Jerman, Skotlandia, dan Hungaria.

Di babak 16 besar, mereka bahkan menyingkirkan juara bertahan Italia dengan kemenangan meyakinkan 2-0.

Perjalanan mereka baru berhenti di perempat final setelah kalah adu penalti melawan Inggris.

Meski gagal lolos ke semifinal, permainan Swiss mendapat banyak pujian. Tim ini tidak lagi hanya dikenal sebagai spesialis bertahan, tetapi juga mampu menyerang dengan efektif ketika dibutuhkan.

Murat Yakin di Piala Dunia 2026

Semua perkembangan itu menjadi modal penting menuju Piala Dunia 2026.

Swiss kembali lolos dengan mulus dari babak kualifikasi. Di putaran final, mereka terus menunjukkan konsistensi.

Setelah melewati fase grup, Swiss menyingkirkan Aljazair di babak 32 besar.

Lalu datang pertandingan yang mengubah sejarah.

Menghadapi Kolombia pada babak 16 besar, Rabu 8 Juli 2026 waktu Indonesia, Swiss bermain sabar sepanjang 120 menit. Mereka memang kalah dalam jumlah peluang dan expected goals, tetapi tidak kehilangan organisasi permainan.

Murat Yakin kembali menunjukkan kecerdasannya membaca pertandingan.

Ia tidak memaksa tim bermain terbuka. Sebaliknya, Swiss memilih bertahan rapat sambil menunggu kesempatan melakukan serangan balik.

Strategi itu berhasil.

Ketika laga harus ditentukan lewat adu penalti, Gregor Kobel tampil sebagai pahlawan dengan menggagalkan tendangan Cucho Hernandez.

Ruben Vargas kemudian memastikan kemenangan 4-3 yang membawa Swiss melaju ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954.

Prestasi tersebut menjadi pencapaian terbesar sepanjang era Murat Yakin.

Keberhasilan itu juga tak lepas dari filosofi permainan yang ia bangun.

Yakin tidak terpaku pada satu formasi. Ia bisa menggunakan 4-2-3-1, tiga bek, atau sistem lain sesuai kebutuhan pertandingan.

Yang terpenting baginya adalah keseimbangan tim.

Pertahanan harus tetap rapat, transisi berjalan cepat, dan setiap pemain memahami tugas masing-masing.

Ia juga dikenal piawai membangun kekompakan ruang ganti.

Pemain senior seperti Granit Xhaka, Ricardo Rodriguez, hingga Manuel Akanji tetap menjadi pemimpin tim. Di sisi lain, pemain muda mendapat ruang berkembang tanpa tekanan berlebihan.

Pendekatan tersebut membuat Swiss tampil sebagai satu kesatuan, bukan sekadar kumpulan pemain berbakat.

Menuju Perempat Final Piala Dunia 2026

Kini tantangan berikutnya sudah menanti.

Swiss akan menghadapi Argentina di perempat final Piala Dunia 2026. Di atas kertas, mereka bukan favorit. Namun situasi serupa juga pernah terjadi saat menghadapi Italia di Euro 2024 maupun Kolombia di babak 16 besar.

“Kami memiliki kualitas di lapangan, dan saya pikir kami mampu membuktikannya hari ini. Kedewasaan para pemain kami, kualitas para pemain. Saya percaya kita bisa meraih hal-hal besar dengan tim ini,” komentar Yakin usai laga lawan Kolombia dan akan menghadapi Argentina di perempat final.

Murat Yakin sudah berkali-kali membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh tim dengan nama tenar.

Kadang, kemenangan lahir dari kedisiplinan, kesabaran, dan keberanian menjalankan rencana hingga peluit terakhir berbunyi.

Setidaknya itulah warisan terbesar Murat Yakin untuk Timnas Swiss. Bukan sekadar membawa mereka mencetak sejarah, tetapi mengubah cara dunia memandang Swiss. Dari tim pelengkap turnamen menjadi lawan yang kini benar-benar disegani di panggung sepak bola dunia. (*)

Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!

Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status