Shalima Hakim Viral Usai Demo 28 Oktober, Orasi Karhutla
Intrend.id – Sosok Shalima Hakim masih menjadi perbincangan setelah orasinya dalam aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Rabu 28 Oktober 2026, viral di media sosial.
Shalima Hakim putri dari artis dan politikus Wanda Hamidah yang viral tersebut mendapat perhatian setelah menyampaikan kritik kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sosok perempuan dengan nama lengkap Noor Shalima Zamaiya Hakim ini menyoroti dampak kebakaran yang membuat masyarakat harus menghirup asap, termasuk anak-anak. Situasi tersebut, menurut Shalima, membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.
“Jangan bohongi rakyat bahwa ini bencana alam. Jangan pernah bohongi rakyat lagi,” tegasnya dalam orasi tersebut.
Siapa Shalima Hakim?
Di balik orasinya yang viral, Shalima ternyata memiliki latar belakang pendidikan hukum. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Shalima menempuh pendidikan di kampus tersebut pada periode 2020–2025 dengan konsentrasi Hukum Tata Negara. Ia juga pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan dan pengalaman profesional, termasuk di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, serta firma hukum.
Shalima merupakan putri sulung Wanda Hamidah dari pernikahannya dengan Cyril Raoul Hakim atau yang dikenal sebagai Chico Hakim. Wanda sendiri dikenal sebagai aktris sekaligus aktivis yang pernah terlibat dalam gerakan Reformasi 1998.
Namun, setelah videonya tersebar luas, Shalima justru mendapat komentar miring mengenai gaya hidupnya.
Sejumlah netizen menyoroti kebiasaannya pergi ke kafe, mengikuti pilates, dan menikmati matcha. Mereka mempertanyakan kepeduliannya terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.
Shalima tidak tinggal diam. Melalui unggahan Instagram Story, ia menanggapi komentar tersebut dengan santai dan terbuka.
Ia mengakui memang bukan berasal dari keluarga yang hidup dalam kesulitan. Namun, menurutnya, kondisi itu bukan alasan seseorang dilarang menyampaikan kritik atau ikut demonstrasi.
“Emang harus susah dulu baru boleh demo? Justru gue demo biar nggak susah,” demikian respons Shalima yang menjadi perhatian warganet.
Shalima Hakim Sebut Semua Kalangan Terdampak
Shalima juga menjelaskan alasan dirinya turun ke jalan. Ia menilai berbagai persoalan ekonomi dan sosial bisa berdampak terhadap banyak kelompok masyarakat.
Ia menyinggung pelemahan rupiah, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sulitnya generasi muda dan kelas menengah membeli rumah, kualitas udara yang buruk, hingga kondisi pasar kerja.
Menurut Shalima, dampak kebijakan pemerintah tidak hanya dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah. Pemilik usaha dan investor juga bisa terkena imbasnya.
Ia turut mengkritik ketimpangan yang menurutnya membuat kelompok oligarki, pejabat, dan buzzer justru lebih diuntungkan.
Shalima mengaku menerima banyak pesan langsung dari netizen yang menilai dirinya tidak memiliki empati terhadap anak-anak yang membutuhkan bantuan makanan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi komentar tersebut, ia menuliskan ungkapan, “wallahi we’re cooked”.
Hobi Ngafe dan Pilates Tidak Menghalangi Kepedulian
Dalam unggahan lainnya, Shalima juga merespons komentar yang menyebut perempuan seharusnya tidak hanya menghabiskan waktu untuk pergi ke kafe, pilates, dan minum matcha.
Ia mengakui ketiga hal tersebut memang menjadi bagian dari gaya hidupnya. Bahkan, saat mengikuti demonstrasi pada 28 Oktober, ia mengaku tetap membawa minuman matcha.
Bagi Shalima, menikmati kehidupan pribadi tidak bertentangan dengan kepedulian terhadap persoalan sosial. Seseorang tetap bisa menjalani hidup dengan nyaman sekaligus memperjuangkan nasib masyarakat yang kurang beruntung.
Ia juga merasa persoalan pemerintahan dan korupsi tetap berdampak terhadap kehidupannya, meskipun tingkat dampaknya mungkin tidak sebesar yang dialami kelompok masyarakat lain.
Pesan Shalima cukup jelas: kepedulian terhadap kondisi negara tidak harus menunggu seseorang hidup dalam kesulitan. Menyampaikan kritik juga bukan hak eksklusif orang yang kurang mampu.
Setelah viral karena orasinya soal karhutla, respons Shalima terhadap komentar mengenai gaya hidupnya kembali memancing diskusi. Ia mengingatkan bahwa empati dan keberanian menyuarakan kritik tidak ditentukan oleh pakaian, hobi, ataupun tempat seseorang menghabiskan waktu. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan





