Skor Swiss vs Aljazair 2-0: Tim Asuhan Murat Yakin Cetak Sejarah Baru di Piala Dunia
Intrend.id – Tim Nasional Sepak Bola (Timnas) Swiss melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Aljazair dengan skor meyakinkan 2-0 pada laga babak 32 besar yang berlangsung di BC Place, Vancouver, Kanada, Jumat 3 Juli 2026, siang WIB.
Kemenangan dengan skor 2-0 ini cukup meyakinkan meski Swiss kalah dalam penguasaan bola dari Aljazair. Tim asuhan Murat Yakin ini tampil jauh lebih efektif. Mereka memanfaatkan setiap peluang dengan sangat baik dan kembali menunjukkan pertahanan yang sulit ditembus.
Breel Embolo membuka keunggulan sejak babak pertama, lalu Dan Ndoye memastikan kemenangan sesaat setelah babak kedua dimulai.
Hasil ini menjadi pencapaian bersejarah bagi Swiss. Mereka akhirnya meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia setelah penantian selama 88 tahun.
Embolo Buka Jalan Kemenangan
Pertandingan baru berjalan 10 menit ketika Swiss langsung menghukum kesalahan Aljazair.
Johan Manzambi melakukan aksi individu yang memukau sebelum mengirim umpan matang ke Breel Embolo.
Penyerang berusia 29 tahun itu menyambut bola dengan penyelesaian yang tenang.
Gol cepat tersebut langsung mengubah jalannya pertandingan.
Swiss memilih bermain lebih disiplin.
Mereka tidak terburu-buru menyerang dan lebih fokus menjaga organisasi permainan.
Sebaliknya, Aljazair mencoba mengambil alih penguasaan bola.
Riyad Mahrez menjadi motor serangan dari sisi kanan.
Sementara Rayan Ait-Nouri beberapa kali membantu serangan dari sektor kiri.
Namun hingga babak pertama berakhir, pertahanan Swiss tetap sulit ditembus.
Skor 1-0 bertahan sampai turun minum.
Ndoye Langsung Tambah Gol
Babak kedua bahkan belum genap berjalan satu menit ketika Swiss kembali mencetak gol.
Berawal dari bola silang yang gagal dibuang sempurna oleh lini belakang Aljazair, Dan Ndoye langsung menyambar bola liar di dalam kotak penalti.
Sepakannya tidak mampu dihentikan Luca Zidane.
Gol pada menit ke-46 itu membuat Swiss unggul 2-0.
Aljazair semakin tertekan.
Mereka mencoba meningkatkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan.
Namun penyelesaian akhir menjadi masalah utama sepanjang pertandingan.
Xhaka Jadi Pengatur Irama
Salah satu kunci kemenangan Swiss datang dari lini tengah.
Granit Xhaka tampil sangat tenang mengatur tempo permainan.
Bersama Remo Freuler, ia mampu memutus alur serangan lawan sekaligus membangun transisi cepat menuju lini depan.
Keduanya membuat Aljazair kesulitan mengembangkan permainan di area tengah.
Saat kehilangan bola, para pemain Swiss juga langsung melakukan pressing sehingga lawan tidak memiliki banyak ruang.
Lini Belakang Swiss Kokoh
Selain tajam saat menyerang, Swiss kembali menunjukkan kualitas di lini belakang.
Gregor Kobel tampil tenang di bawah mistar.
Duet Manuel Akanji dan Nico Elvedi juga sangat disiplin menjaga pertahanan.
Mereka berhasil meredam hampir semua ancaman dari Mahrez, Farès Chaïbi, hingga Amine Gouiri.
Aljazair memang lebih banyak menguasai bola.
Namun mereka kesulitan menciptakan peluang yang benar-benar berbahaya.
Clean sheet ini semakin menegaskan bahwa pertahanan Swiss menjadi salah satu yang paling solid di turnamen.
Statistik Swiss vs Aljazair
Secara statistik, Aljazair sebenarnya menguasai sekitar 56 persen penguasaan bola.
Swiss hanya berada di kisaran 44 persen.
Namun efektivitas menjadi pembeda utama.
Nilai expected goals (xG) Swiss mencapai sekitar 2,5.
Sebaliknya, Aljazair hanya menghasilkan xG sekitar 0,7.
Artinya, meski lebih sering menguasai bola, peluang bersih yang berhasil diciptakan Aljazair sangat sedikit.
Swiss justru jauh lebih berbahaya ketika melakukan serangan balik cepat.
Mereka mampu memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan lini belakang lawan.
Strategi Murat Yakin Mulus
Pelatih Swiss Murat Yakin kembali menunjukkan kepiawaiannya meracik strategi.
Swiss bermain dengan formasi 4-2-3-1 yang sangat fleksibel.
Saat bertahan, seluruh pemain kompak menutup ruang.
Ketika menyerang, mereka bergerak cepat dan langsung mengincar area kosong di belakang pertahanan Aljazair.
Pergerakan Johan Manzambi, Embolo, dan Ndoye beberapa kali merepotkan lini belakang lawan.
Dukungan full-back dari sisi kanan maupun kiri juga membuat variasi serangan Swiss semakin sulit ditebak.
Sementara Aljazair yang dilatih Vladimir Petkovic sebenarnya mencoba memainkan sepak bola menyerang.
Mereka mengandalkan kreativitas Mahrez dan overlap Ait-Nouri.
Namun koordinasi antarlini kurang maksimal.
Beberapa kali mereka kehilangan bola saat transisi sehingga Swiss mampu menghukum lewat serangan cepat.
Menunggu Lawan Berikutnya
Kemenangan ini mengantarkan Swiss ke babak 16 besar Piala Dunia untuk empat edisi secara beruntun.
Mereka juga datang dengan modal yang sangat bagus karena belum terkalahkan dan terus mencatatkan clean sheet.
Di babak berikutnya, Swiss tinggal menunggu pemenang laga Kolombia melawan Ghana.
Jika menghadapi Kolombia, pertandingan diprediksi berlangsung ketat karena kedua tim sama-sama memiliki pertahanan disiplin.
Sementara bila bertemu Ghana, Swiss sedikit lebih diunggulkan berkat pengalaman dan organisasi permainan yang lebih rapi.
Apa pun lawannya nanti, performa Swiss sejauh ini menunjukkan mereka bukan sekadar tim pelengkap.
Mereka bermain efektif, disiplin, dan tahu kapan harus menyerang maupun bertahan.
Dengan lini belakang yang solid, gelandang berpengalaman seperti Granit Xhaka, serta penyelesaian akhir yang semakin tajam, Swiss memiliki peluang untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Perjuangan Aljazair harus berakhir di babak 32 besar usai kalah dari Swiss dengan skor 1-2. Meski tampil cukup kompetitif dan berani menguasai permainan, efektivitas menjadi pembeda yang membuat mereka gagal menciptakan sejarah lolos lebih jauh di turnamen dunia. (*)
Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









