Warga Semangat Menguji Apakah Tepung Bisa Memadamkan Api, Tren “Ubi Bombing” Bikin Penasaran
Intrend.id – Warga bersemangat untuk menguji apakah tepung bisa memadamkan api. Fenomena ini muncul menyusul pengembangan inovasi baru terkait bahan pemadam api berbasis tepung ubi atau singkong yang diduga tengah diteliti untuk pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah menguji apakah tepung bisa memadamkan api oleh warga mencuat usai petinggi negara mengungkapkan potensi penggunaan material tersebut untuk mengatasi karhutla. Muncul istilah “ubi bombing”.
Padahal tepung biasanya punya tempat aman di dapur. Dibikin gorengan, kue, atau berbagai makanan rumahan.
Namun, kali ini tepung punya cerita berbeda.
Di tengah maraknya karhutla di Indonesia, muncul inovasi berbahan dasar ubi atau singkong yang disebut berpotensi membantu memadamkan api.
Temuan itu kemudian memunculkan istilah “ubi bombing”.
Bukan sekadar istilah unik. Wacana tersebut muncul setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan temuan bahan berbasis tepung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Publik pun penasaran.
Sejumlah warga mulai mencoba menguji apakah serbuk putih tersebut benar-benar mampu meredam api. Video percobaan warga kemudian beredar di media sosial.
Tapi ada satu catatan penting: tepung biasa yang ada di rumah tidak boleh digunakan untuk memadamkan api. Inovasi yang sedang dibahas merupakan bahan khusus yang masih membutuhkan penelitian dan pengujian.
Awalnya dari Temuan Babinsa di Lubuklinggau
Cerita tentang tepung pemadam api ini bermula dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel).
Anggota Babinsa menemukan bahan berbasis ubi atau singkong yang dinilai memiliki potensi untuk membantu meredam api, terutama ketika kebakaran masih berada pada tahap awal.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis kemudian menyampaikan bahwa temuan tersebut telah dilaporkan kepada Kapolri.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo lalu membawa informasi itu dalam rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera di VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Senin, 24 Agustus 2026.
Dalam rapat tersebut, Listyo menjelaskan potensi bahan berbasis tepung tersebut.
Menurut dia, material itu diduga dapat membantu memisahkan unsur yang mendukung proses pembakaran sehingga api bisa lebih cepat mereda.
Namun, Listyo juga memberikan catatan.
Teknologi tersebut belum bisa langsung dianggap sebagai solusi karhutla.
Masih perlu penelitian. Masih perlu pengujian. Efektivitasnya juga harus diukur secara objektif.
“Kalau luasannya atau jumlah tepung yang digunakan cukup, mungkin api dalam bentuk sedang atau besar juga bisa,” ujar Listyo.
Presiden Prabowo Minta Uji Skala Besar
Presiden Prabowo Subianto langsung tertarik ketika mendengar bahan bakunya berasal dari singkong.
“Itu tepung, tepung apa itu?” tanya Prabowo.
“Tepung dari singkong, Pak.” jawab Listyo.
Presiden meminta agar inovasi tersebut diproduksi dalam jumlah lebih besar.
Tujuannya sederhana. Pemerintah ingin melihat apakah bahan tersebut benar-benar efektif ketika digunakan di lapangan.
“Menarik sekali itu bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Wah coba diproduksi dalam skala besar ya,” kata Prabowo.
Presiden juga meminta dilakukan simulasi.
Salah satunya dengan membandingkan metode berbasis tepung tersebut dengan pemadaman menggunakan air atau water bombing.
Bahkan, muncul gagasan untuk menguji material itu melalui helikopter.
Jika berhasil, metode tersebut tentu menarik untuk diteliti lebih jauh.
Namun, untuk sampai ke tahap itu, pengujian harus melewati proses yang serius.
Bukan cuma melihat api kecil padam setelah ditaburi serbuk.
Video Warga Ikut Menguji “Ubi Bombing”
Setelah pernyataan pemerintah mencuat, rasa penasaran publik ikut meningkat.
Sejumlah video warga yang mencoba metode serupa mulai beredar di media sosial. Seperti di akun Instagram bebeb_njegil.
Dalam salah satu rekaman, seorang warga terlihat melemparkan serbuk putih ke area semak kering yang terbakar.
Serbuk tersebut diklaim sebagai tepung berbahan singkong atau ubi.
Api yang berada di area tersebut terlihat mengecil. Kepulan asap hitam juga tampak berkurang setelah serbuk ditebarkan.
Video lain yang beredar menampilkan seorang perempuan mencoba metode tersebut secara mandiri karena penasaran dengan inovasi yang sedang ramai dibahas.
Rekaman seperti ini tentu menarik perhatian.
Namun, video media sosial belum cukup untuk membuktikan efektivitas sebuah bahan pemadam api.
Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi hasil.
Ukuran api. Jenis bahan yang terbakar. Kondisi angin. Kelembapan. Jumlah material yang digunakan. Sampai teknik penyebarannya.
Karena itu, hasil percobaan warga tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti ilmiah.
Jangan Asal Lempar Tepung ke Api
Di sinilah bagian paling penting dari tren “ubi bombing”.
Jangan mengambil tepung biasa dari dapur lalu melemparkannya ke api.
Tepung dalam bentuk debu halus justru dapat menimbulkan risiko tertentu ketika tersebar di udara dan bertemu sumber api. Debu dari bahan organik tertentu dapat terbakar cepat atau bahkan menimbulkan ledakan debu dalam kondisi yang tepat.
Jadi, inovasi yang sedang dikembangkan pemerintah tidak sama dengan tepung makanan yang biasa digunakan untuk memasak.
Material khusus harus diuji dari sisi keamanan, komposisi, konsentrasi, cara aplikasi, hingga dampaknya terhadap lingkungan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak melakukan eksperimen sendiri dengan api terbuka.
Rasa penasaran boleh.
Keselamatan tetap nomor satu.
Bisakah Tepung Singkong Jadi Alternatif Pemadam Karhutla?
Pertanyaan ini belum punya jawaban final.
Peluangnya memang sedang diteliti.
Temuan dari Lubuklinggau kini mendapat perhatian pemerintah pusat. Pangdam II/Sriwijaya juga menyebut produksi bahan tersebut masih terbatas.
Jika mendapat dukungan, kapasitas produksi dapat ditingkatkan untuk kebutuhan pengujian.
Temuan tersebut juga telah disampaikan kepada BNPB.
Pengujian skala besar akan menjadi tahap penting.
Pemerintah perlu mengetahui seberapa efektif material tersebut ketika menghadapi api dengan ukuran berbeda. Mereka juga perlu melihat seberapa jauh bahan dapat disebarkan dan berapa banyak material yang dibutuhkan.
Selain itu, dampak terhadap tanah, tumbuhan, sumber air, manusia, serta ekosistem juga perlu diperiksa.
Jika semua aspek tersebut aman dan hasilnya positif, inovasi berbasis singkong mungkin bisa menjadi salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran.
Tetapi jika hasil pengujian menunjukkan keterbatasan, pemerintah juga perlu mengetahuinya sejak awal.
Dari Singkong, Muncul Harapan Baru
Karhutla bukan masalah kecil.
Api bisa menyebar cepat. Asap bisa mengganggu kesehatan. Lahan rusak. Ekosistem ikut terdampak.
Karena itu, setiap inovasi untuk mengatasi kebakaran layak mendapat ruang untuk diuji.
Temuan sederhana dari Lubuklinggau kini masuk ke tahap yang lebih serius.
Dari tangan anggota Babinsa, informasinya sampai ke Kapolri. Dari Kapolri, temuan tersebut sampai ke meja Presiden.
Kini tantangannya adalah membuktikan apakah “ubi bombing” benar-benar bekerja.
Bukan lewat video viral.
Bukan lewat klaim.
Tetapi lewat penelitian, simulasi, dan pengujian yang terukur.
Jika berhasil, singkong yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan bisa punya peran baru dalam menghadapi karhutla.
Jadi, kalau melihat video orang menaburkan tepung ke api, jangan buru-buru ikut mencoba.
Biarkan para peneliti menguji.
Biarkan pemerintah mengukur. Yang paling penting, jangan mempertaruhkan keselamatan hanya karena penasaran tren “ubi bombing”.
Di tengah semangat warga menguji apakah tepung bisa memadamkan api, untuk saat ini statusnya masih inovasi yang sedang diuji. (*)
Suka dengan artikel kami? Ikuti tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









