Sara Duterte Wakil Presiden Filipina Jadi Sorotan, Video Ancaman ke Presiden Filipina Viral Lagi
Intrend.id – Nama Sara Duterte Wakil Presiden Filipina kembali jadi trending topic di media sosial dan politik Filipina pada 29–30 April 2026. Sara diangkat sebagai Wapres sejak 30 Juni 2022. Kini dia menghadapi pemakzulan.
Penyebab utama Sara Duterte Wakil Presiden Filipina menghadapi pemakzulan adalah viralnya kembali video kontroversial dari November 2024 yang kini menjadi pusat kasus.
Pemakzulan terhadap putri mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte tersebut mencuat usai video yang terus diputar ulang dalam sidang parlemen Filipina. Sara Duterte diduga melontarkan pernyataan ancaman serius terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan mantan Ketua DPR Martin Romualdez.
Pernyataan perempuan dengan julukan “Inday Sara” itu dianggap sangat sensitif karena Sara disebut mengaku telah memberi instruksi kepada seseorang atau “hitman” untuk melakukan pembunuhan apabila sesuatu terjadi padanya.
Kasus ini makin panas setelah National Bureau of Investigation atau NBI memastikan video tersebut asli dan bukan hasil editan, manipulasi AI, maupun potongan video yang disambung ulang.
Menurut NBI, ucapan Sara Duterte dapat dikategorikan sebagai ancaman serius atau grave threats dan bahkan berpotensi masuk unsur hasutan untuk makar atau inciting to sedition.
Video itulah yang kini menjadi salah satu bukti utama dalam proses impeachment atau pemakzulan terhadap Sara Duterte di DPR Filipina.
Pada 29 April 2026, Komite Kehakiman DPR Filipina yang dipimpin Rep. Gerville Luistro secara bulat dengan suara 53-0 menyatakan terdapat probable cause atau dasar kuat untuk melanjutkan proses pemakzulan terhadap Sara Duterte.
Selain soal ancaman pembunuhan, Sara juga menghadapi tuduhan lain seperti dugaan penyalahgunaan dana rahasia senilai sekitar 612,5 juta peso saat menjabat Menteri Pendidikan Filipina pada periode 2022–2024.
Beberapa anggota parlemen seperti Leila de Lima dan Rep. Benny Abante menilai kasus ini sangat serius karena menyangkut hubungan langsung antara wakil presiden dan presiden yang secara konstitusi berada dalam satu garis kekuasaan negara.
Situasi ini menciptakan konflik konstitusional yang sangat serius, demikian menurut salah satu anggota parlemen dalam sidang, melalui Xinhua, 29 April 2026.
Dalam sidang terbaru, video ancaman tersebut kembali diputar di hadapan anggota komite. Selain itu, laporan transaksi keuangan dari Anti-Money Laundering Council juga ikut dibahas untuk mendalami dugaan penyalahgunaan dana.
Sara Duterte sendiri tidak hadir dalam sidang tersebut.
Saat ini, DPR Filipina dijadwalkan menggelar voting pleno pada 4 Mei 2026. Jika minimal sepertiga anggota DPR menyetujui Articles of Impeachment, kasus tersebut akan dikirim ke Senat Filipina untuk diproses dalam sidang pemakzulan resmi.
Di sisi lain, Presiden Senat Tito Sotto III disebut sudah mulai mempersiapkan kemungkinan sidang impeachment dengan menggelar pertemuan internal seluruh senator.
Tim hukum Sara Duterte menolak seluruh tuduhan tersebut dan menyebut proses yang berjalan tidak konstitusional. Mereka menilai Komite Kehakiman DPR melebar dari substansi laporan awal dan membahas hal-hal yang seharusnya diuji dalam persidangan resmi.
Kasus ini juga makin sensitif karena terjadi di tengah keretakan hubungan politik antara kubu Marcos dan keluarga Duterte yang sebelumnya sempat bersekutu dalam pemilu Filipina.
Situasi semakin menarik setelah Sara Duterte pada Februari 2026 mengumumkan rencana maju dalam pemilihan presiden Filipina 2028. Jika nantinya dimakzulkan dan dinyatakan bersalah oleh Senat, Sara bukan hanya kehilangan jabatan wakil presiden, tetapi juga bisa dilarang maju dalam jabatan publik seumur hidup.
Ini menjadi upaya kedua DPR Filipina untuk memakzulkan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte. Sebelumnya, pada 2025, Mahkamah Agung Filipina membatalkan proses impeachment pertama karena dianggap inkonstitusional. (*)









