Slank dan Republik Fufufafa, Alarm dari Musik di Negeri Kacau Balau

Intrend.id – Sirene itu meraung di detik kedelapan video musik “Republik Fufufafa” Slank. Bukan bunyi yang biasa hadir dalam lagu rock, apalagi dari band yang telah melewati empat dekade perjalanan musik. Namun Slank memilih sirene sebagai pembuka “Republik Fufufafa”, seolah ingin memberi peringatan keras: ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Sejak nada awal, lagu ini tak memberi ruang netral. Pendengar langsung diseret ke suasana genting, sebuah negeri yang digambarkan berada di ambang kekacauan.
Slank merilis “Republik Fufufafa” melalui kanal YouTube resmi mereka pada Minggu, 28 Desember 2025. Lagu berdurasi 3 menit 12 detik itu menjadi penanda kebangkitan suara lama yang terasa lama menghilang. Di usia 42 tahun berkarya, Slank kembali berbicara dengan cara yang mereka kenal sejak awal: keras, slengean, satir, dan tanpa basa-basi.
Judulnya terdengar main-main. “Fufufafa” bukan kata baku, tak punya arti kamus, dan justru di situlah kekuatannya. Meski kata itu pernah populer saat kampanye Pilpres 2024 lalu, ia justru menjadi metafora tentang kekosongan makna, kebingungan, sekaligus absurditas. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi negara yang tak jelas arah, penuh kebisingan, tetapi minim substansi. Republik Fufufafa bukan sekadar tempat, melainkan cermin.
Dalam liriknya, Slank menggambarkan sebuah negeri yang kacau balau. Orang-orangnya digambarkan “sakau”, bukan hanya terhadap narkoba, tetapi juga kekuasaan. Judi, kerakusan, dan perilaku menyimpang menjadi lanskap sosial yang terus diulang. Kalimat demi kalimat ditulis dengan bahasa sehari-hari, kasar namun jujur, seakan ingin menegaskan bahwa kritik tidak harus dibungkus kata-kata halus untuk bisa sampai.
Slank tidak sedang berpuisi. Mereka sedang menunjuk. Dan tudingan itu diarahkan ke atas, ke arah penguasa, tanpa pernah menyebut nama. Cara lama yang tetap efektif: menyindir tanpa menyebut, menggugat tanpa menyasar langsung. Pendengar dipaksa menafsirkan sendiri, dan di situlah lagu ini bekerja sebagai senjata kultural.
Video musiknya memperkuat pesan tersebut. Para personel Slank tampil sebagai Joker—badut dengan senyum lebar yang menyimpan kegilaan. Joker adalah simbol kekacauan, tawa di tengah kehancuran, dan sindiran terhadap sistem yang rusak. Di tangan sutradara Riandhani Yudha Pamungkas, visual ini menjadi metafora tentang dunia yang terbalik: meja makan berubah menjadi panggung absurditas, pesta menjadi simbol kehancuran, dan hiburan justru menelanjangi krisis.
Bimbim, Kaka, Ridho, Ivanka, dan Abdee tampil tanpa pretensi heroik. Mereka bukan penyelamat, bukan pula nabi. Mereka adalah saksi yang berteriak lewat musik. Produksi lagu ini dikerjakan secara independen di bawah label Slank Records, direkam di Flat 5 Studio, dengan sentuhan mixing dan mastering dari Stephan Santoso. Secara musikal, “Republik Fufufafa” mempertahankan karakter rock Slank yang mentah dan lugas—tidak rumit, tetapi menghantam.
Yang menarik, lagu ini dirilis bertepatan dengan perayaan HUT ke-42 Slank di Bali. Alih-alih nostalgia atau lagu perayaan, Slank justru memilih kritik. Sebuah keputusan yang terasa politis sekaligus personal. Seolah mereka ingin berkata: bertambah usia tidak berarti menjadi jinak.
Respons publik datang cepat. Hingga pukul 23.49 WIB di hari yang sama, video musiknya telah ditonton sekitar 150 ribu kali lebih. Angka itu terus bergerak. Kolom komentar dipenuhi reaksi beragam—dukungan, pujian, hingga perdebatan. Banyak yang menyebut lagu ini sebagai “Slank yang lama”, Slank yang berani, Slank yang tidak berpihak pada kekuasaan.
“Ini baru Slank yang aku kenal, yang nggak berpihak ke penguasa,” tulis seorang warganet. Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia mencerminkan kerinduan publik terhadap Slank sebagai band perlawanan, bukan sekadar ikon pop yang jinak.
Tak bisa dimungkiri, dalam beberapa tahun terakhir, Slank kerap dilekatkan dengan citra “band istana”. Mereka beberapa kali tampil di acara-acara pemerintah, dan salah satu personelnya, Abdee Negara, pernah menjabat sebagai komisaris di perusahaan milik negara. Fakta ini membuat Republik Fufufafa terasa lebih berlapis. Kritik yang datang dari mereka yang pernah berada dekat dengan lingkar kekuasaan justru terasa lebih tajam.
Dalam liriknya, Slank juga menyinggung persoalan sosial mendasar: iq rendah, kurang gizi, rendahnya kualitas pendidikan, dan masyarakat yang digambarkan mudah sok tahu dan sombong. Kritik ini tidak diarahkan ke rakyat semata, tetapi pada sistem yang membiarkan ketimpangan itu berlangsung. Metafora yang digunakan sengaja kasar, bahkan provokatif, seolah ingin mengguncang kenyamanan pendengar.
Di titik ini, Republik Fufufafa bekerja lebih dari sekadar lagu protes. Ia menjadi alarm sosial. Sirene di awal lagu kini dimaknai banyak pendengar sebagai simbol peringatan kolektif. Sebuah ajakan untuk tidak menormalisasi krisis, tidak menganggap kekacauan sebagai hal biasa.
Di panggung-panggung konser, teriakan “Fufufafa! Republik Fufufafa!” mulai menggema. Lagu ini hidup di luar rekaman. Ia menjadi bahasa protes, slogan, bahkan bahan diskusi di ruang-ruang digital. Slank berhasil menghidupkan kembali tradisi lama musik sebagai medium perlawanan, bukan sekadar hiburan.
Secara historis, ini bukan hal baru bagi Slank. Sejak era Reformasi, mereka dikenal sebagai band yang lantang mengkritik kekuasaan. Lagu-lagu seperti “Gosip Jalanan” atau “Ku Tak Bisa” menjadi bagian dari ingatan kolektif generasi tertentu. Namun, di tengah industri musik yang semakin aman dan politis, keberanian semacam ini terasa langka.
Republik Fufufafa hadir di momen ketika publik kembali sensitif terhadap isu kekuasaan, kebebasan berekspresi, dan ketimpangan sosial. Lagu ini tidak menawarkan solusi. Ia tidak memberi jawaban. Tetapi ia mengajukan pertanyaan, dan terkadang itu jauh lebih penting.
Bagi Slank, musik masih dan selalu menjadi senjata. Setelah 42 tahun, nyali itu belum tumpul. Mereka mungkin telah berubah, tumbuh, dan melewati berbagai fase. Namun lewat Republik Fufufafa, Slank menegaskan bahwa identitas mereka sebagai band yang bersuara belum benar-benar pergi—hanya sempat terdiam.
Lirik lagu Republik Fufufafa
Aku Lahir Di Negri Kacau Balau
Orang²Nya Pada Sakau²
Sakau Kuasa Sakau Narkoba
Sakau Oiui, Ooai
Dan Sakau Berjudi
Fufufafa Republik
Fufufafa Republik
Fufufafa Republik
Fufufafa
Republik Fufufafa
Negri Stunting Dan Kurang Gizi
Iq Rata² Setara Dengan Monkey
Pada Gak Sopan Juga Kurang Ajar
Pada Sok Tahu Dan Juga Belagu
Fufufafa Republik
Fufufafa Republik
Fufufafa Republik
Fufufafa
Republik Fufufafa
Sirene itu masih terdengar dalam Republik Fufufafa Slank. Dan Slank memilih untuk menyalakannya terus menerus. (*)






