Viral Lagu Pop Sunda Lalaki Langit Lalanang Bejad Karya Bupati Purwakarta, Lirik yang Memicu Polemik
Intrend.id – Viral lagu pop berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejad” karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein bikin media sosial gaduh dalam beberapa hari terakhir.
Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejad” karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein ini viral bukan karena nadanya. Bukan pula karena menjadi tren hiburan.
Lagu karya Saepul ini viral karena isi liriknya menuai sorotan netizen dan memicu perdebatan panjang.
Lagu karya Saepul atau yang lebih dikenal sebagai Om Zein ini viral sejak awal Juli 2026.
Dalam hitungan hari, potongan liriknya menyebar ke berbagai platform media sosial.
Warganet mulai membahas. Tokoh publik ikut angkat bicara. Aktivis perempuan memberikan kritik. Budayawan Sunda pun turut menyampaikan pandangan.
Kontroversi yang awalnya hanya beredar di media sosial akhirnya berkembang menjadi isu nasional.
Di tengah derasnya kritik, Saepul memilih menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Saepul mengakui polemik yang terjadi dan memutuskan menghapus video lagu tersebut dari seluruh akun media sosial pribadinya.
Lagu Lama yang Kembali Viral
Yang menarik, lagu ini sebenarnya bukan karya baru. Melalui unggahan video di akun TikTok pribadi miliknya, Saepul secara terbuka menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada publik.
“Om Zein tidak bermaksud untuk itu (mendiskreditkan atau merendahkan pihak lain),” ujarnya dengan nada tulus dalam video klarifikasi tersebut, dikutip 3 Juli 2026.
Saepul menjelaskan lirik tersebut dibuat sekitar tahun 2020.
Ia mengaku lagu tersebut diciptakan bukan untuk menyudutkan atau menyinggung kelompok tertentu, khususnya kaum perempuan.
Sapul juga mengungkapkan karya berbentuk puisi dan lagu itu sudah ditulis sejak beberapa tahun silam sebagai cerminan pribadi.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” katanya.
Artinya, lagu itu sudah berusia sekitar enam tahun sebelum akhirnya kembali muncul dan menjadi perbincangan publik.
Saat ditulis, Saepul belum menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Ia menyebut karya tersebut merupakan bentuk refleksi pribadi yang menggambarkan masa-masa ketika dirinya masih muda dan merasa banyak melakukan kesalahan.
Namun ketika potongan lirik itu kembali beredar pada 2026, konteks yang diterima publik berbeda.
Kini Saepul bukan lagi seorang seniman atau kreator biasa.
Ia adalah kepala daerah.
Karena itu, banyak pihak menilai karya yang dibuatnya juga akan dipandang melalui tanggung jawab sebagai pejabat publik.
Lirik yang Memicu Polemik
Perdebatan muncul karena beberapa bagian lirik dianggap menyinggung perempuan.
Lagu tersebut berisi ungkapan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki.
Namun cara penyampaiannya membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan dengan bahasa yang dianggap sebagian orang merendahkan.
Beberapa bagian lirik menyinggung persoalan keguguran.
Datang bulan.
Penggunaan bra.
Hingga kebiasaan berdandan.
Bagi sebagian pendengar, lirik tersebut dipandang sebagai bentuk humor.
Namun bagi banyak pihak lainnya, isi lagu dianggap menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan candaan.
Hal inilah yang kemudian memicu kritik luas.
Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Cacak mun jadi awewe
Es-Em-Pe Kelas Tilu Tos karuron tujuh kali
Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu meuli kutang
Itu busana leuwih gede batan susu
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulan
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta
Lalaki Langit Lalanang Bejad
Lalaki Langit Lalanang Bejad
(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Andai saja jadi perempuan
SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali
Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah keluyuran mencari apotek, karena telat datang bulan
Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah melukis alis dan bulu mata yang sekali berkedip susah melek
Lelaki langit, Lelaki bejat)
Kritik Datang dari Berbagai Arah
Gelombang kritik tidak hanya datang dari warganet.
Sejumlah tokoh nasional ikut memberikan tanggapan.
Anggota DPR RI, Atalia Praratya, menjadi salah satu yang paling vokal.
Ia menilai lagu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Sunda.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?,” kata Atalia melalui unggahan akun Instagramnya @ataliapr.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia Praratya mengunggah video musik lagu ciptaan Saepul berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” pada 1 Juli 2026. Tampak Saepul mengendarai speedboat dalam video musik lagu itu.
Atalia menyebut budaya Sunda selama ini dikenal dengan filosofi silih asih, silih asah, dan silih asuh.
Karena itu, karya seni yang berpotensi memperkuat stereotip gender dinilai bertentangan dengan semangat saling menghormati.
“Sebodoh apapun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” katanya.
Sebagian melihat polemik ini sebagai benturan antara humor lokal yang berkembang di masyarakat dengan meningkatnya kesadaran mengenai kesetaraan gender.
Di sisi lain, pegiat perempuan menilai candaan mengenai beban biologis perempuan tidak lagi bisa dianggap sebagai humor biasa.
Terlebih ketika disampaikan oleh seorang pejabat publik.
Ramai di Media Sosial
Seiring viralnya lagu tersebut, akun media sosial Om Zein dibanjiri komentar.
Ada yang mengecam.
Ada pula yang membela.
Sebagian masyarakat menilai lagu itu hanya bentuk satire dan tidak perlu dibawa terlalu serius.
Namun banyak juga yang menilai seorang kepala daerah harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan karya seni kepada publik.
Perdebatan pun meluas.
Tidak sedikit unggahan yang mengutip potongan lirik tanpa menyertakan konteks keseluruhan lagu.
Hal ini membuat diskusi semakin panas.
Respons Politik
Polemik tidak berhenti di media sosial.
Beberapa pihak mulai mengambil langkah hukum.
Lembaga bantuan hukum di Jawa Barat melayangkan somasi terkait lagu tersebut.
Sementara itu, isu ini juga masuk ke ranah politik.
Partai politik juga dikabarkan menegur Saepul.
Peristiwa ini menunjukkan pengaruh sebuah karya seni dapat berkembang menjadi isu publik yang melibatkan banyak pihak ketika penciptanya adalah seorang pejabat negara.
Saepul Memilih Minta Maaf
Di tengah derasnya kritik, Saepul akhirnya memberikan klarifikasi.
Ia memilih berbicara langsung melalui video yang diunggah di akun TikTok pribadinya.
Dalam video tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat.
Dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niat untuk merendahkan perempuan ataupun pihak mana pun.
Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut merupakan karya lama yang lahir dari refleksi pribadi.
Menurutnya, lirik itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan.
Ia juga meminta masyarakat membaca keseluruhan isi lagu agar tidak hanya menilai dari potongan-potongan yang beredar di media sosial.
Meski demikian, ia mengakui bahwa banyak orang merasa tersinggung.
Karena itu, ia memilih meminta maaf.
“Sekali lagi Om Zein mohon maaf, terima kasih atas perhatiannya. Dan Om Zein yakin kritikan itu adalah suatu bentuk kasih sayang dan bentuk perhatian masyarakat, tokoh, atau siapa pun terhadap Om Zein,” ungkap Saepul dalam pernyataan tertulis.
Menghapus Video dari Semua Akun
Sebagai bentuk tanggung jawab, Saepul mengambil langkah konkret.
Ia menyatakan akan menghapus video musik lagu tersebut dari seluruh platform media sosial miliknya.
Keputusan ini diambil demi menjaga suasana tetap kondusif.
Langkah tersebut mendapat respons beragam.
Sebagian masyarakat mengapresiasi sikap terbuka dan kesediaannya mengakui polemik yang terjadi.
Namun ada pula yang menilai permintaan maaf saja belum cukup untuk menjawab substansi kritik yang muncul.
Kritik Dianggap Bentuk Kepedulian
Hal menarik dari pernyataan Saepul adalah cara ia memandang kritik yang diterimanya.
Alih-alih menyalahkan masyarakat atau membela diri secara berlebihan, ia mengatakan kritik merupakan bentuk perhatian.
Menurutnya, masukan yang datang dari masyarakat menunjukkan bahwa publik masih peduli terhadap pemimpinnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengingatkan.
Baginya, kritik menjadi bahan evaluasi agar lebih berhati-hati dalam berkarya maupun berkomunikasi di ruang publik.
Pernyataan tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai upaya meredakan polemik tanpa memperpanjang perdebatan.
Ketika Humor Berhadapan dengan Sensitivitas Publik
Kasus ini juga membuka diskusi yang lebih luas.
Di satu sisi, humor memang menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Banyak karya seni menggunakan satire, ironi, atau candaan untuk menyampaikan pesan.
Namun di sisi lain, standar sensitivitas publik terus berubah.
Topik yang dahulu dianggap lumrah dijadikan bahan guyonan, kini bisa dipandang berbeda.
Isu mengenai perempuan, kesehatan reproduksi, dan stereotip gender menjadi salah satu contoh.
Karena itu, karya seni yang menyentuh tema tersebut sering memunculkan perdebatan.
Bukan hanya soal kebebasan berekspresi.
Tetapi juga soal tanggung jawab sosial.
Tantangan Pejabat di Era Media Sosial
Kasus ini juga menunjukkan tantangan besar yang dihadapi pejabat publik pada era digital.
Jejak digital hampir tidak pernah benar-benar hilang.
Sebuah karya yang dibuat bertahun-tahun lalu bisa kembali muncul dan dinilai menggunakan standar hari ini.
Karena itu, pejabat publik dituntut memiliki kehati-hatian lebih tinggi.
Apa yang diunggah.
Apa yang diucapkan.
Bahkan karya lama sekalipun dapat menjadi sorotan ketika konteks sosial berubah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Di banyak negara, tokoh publik juga kerap menghadapi kritik atas unggahan atau karya lama yang kembali viral.
Pelajaran dari Sebuah Polemik
Terlepas dari pro dan kontra yang masih berlangsung, polemik lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” memberikan sejumlah pelajaran.
Bagi kreator, karya seni memang memiliki ruang kebebasan.
Namun setiap karya juga akan diterima secara berbeda oleh masyarakat yang beragam.
Bagi pejabat publik, komunikasi menjadi bagian penting dari kepemimpinan.
Pilihan kata, simbol, maupun karya seni dapat memengaruhi cara masyarakat menilai integritas seorang pemimpin.
Sementara bagi publik, perdebatan ini menunjukkan bahwa ruang digital kini menjadi tempat berbagai perspektif bertemu.
Ada yang melihat lagu tersebut sebagai humor.
Ada yang menganggapnya sebagai bentuk stereotip gender.
Perbedaan pandangan itu menjadi bagian dari dinamika masyarakat yang terus berkembang.
Lantas Apa?
Kontroversi lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” mungkin akan segera mereda seiring dihapusnya video dari media sosial dan permintaan maaf Saepul Bahri Binzein.
Namun diskusi yang muncul kemungkinan akan bertahan lebih lama.
Kasus ini bukan sekadar soal sebuah lagu.
Ia menjadi pengingat bahwa karya seni, humor, budaya, dan jabatan publik sering kali saling beririsan.
Di era media sosial, sebuah lirik yang ditulis bertahun-tahun lalu dapat kembali menjadi bahan perdebatan nasional dalam hitungan jam.
Bagi seorang pejabat publik seperti Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, setiap karya bukan hanya dinilai dari niat pembuatnya, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat yang mendengarkan dan meresepsinya. (*)
Suka dengan artikel kami? Jangan sampai ketinggalan tren terbaru!
Tambahkan Intrend.id sebagai sumber pilihan









