Viral Pelajar SMK Samarinda Meninggal Diduga karena Sepatu Kekecilan dan Faktor Ekonomi
Intrend.id – Kasus Mandala Rizky Saputra viral dan jadi sorotan publik soal sepatu kekecilan yang dialami pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Samarinda berujung meninggal.
Mandala Rizky Saputra merupakan pelajar SMKN 4 Samarinda. Ia meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan yang dikaitkan dengan sepatu sekolah yang kekecilan.
Peristiwa ini langsung bikin publik Samarinda dan Kalimantan Timur (Kaltim) geger. Tak hanya itu, kasus ini memunculkan banyak pertanyaan soal kondisi ekonomi keluarga siswa hingga akses bantuan pendidikan.
Kabar meninggalnya Mandala pertama kali ramai dibahas di media sosial setelah muncul cerita soal ukuran sepatu yang tidak sesuai dengan kondisi kaki korban. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim lalu berikan penjelasan terkait kronologi kejadian tersebut.
Dalam keterangannya, Disdikbud Kaltim menjelaskan kalau Mandala sempat mengalami penurunan kesehatan berupa kondisi fisik melemah, pusing, hingga pembengkakan pada bagian kaki. Setelah pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumah siswa, keluarga menyebut kondisi itu diduga dipicu karena sepatu sekolah yang kekecilan.
“Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan,” bunyi keterangan Disdikbud Kaltim diteken Plt. M Armin, yang diteruskan oleh humas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dikutip Kamis 7 Mei 2026.
Dari penelusuran kronologi oleh Disdikbud Kaltim, Mandala diketahui sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di Ramayana Robinson Jalan M Yamin Samarinda sejak 9 Februari sampai 20 Maret 2026. Lokasi PKL itu sesuai dengan jurusan pemasaran yang diambilnya. Selama praktik kerja, Mandala bekerja sebagai pramuniaga yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama setiap hari.
Setelah selesai PKL dan kembali sekolah pada 30 Maret 2026, kondisi kesehatan Mandala mulai menurun. Bahkan sehari setelah masuk sekolah, pihak sekolah meminta dirinya beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya terlihat lemah. Sejak saat itu Mandala tidak lagi masuk sekolah dan orang tua rutin mengirim izin sakit.
Situasi makin berat ketika faktor ekonomi keluarga ikut terungkap. Pada 8 April 2026, ibu Mandala sempat menghubungi wali kelas lewat WhatsApp untuk meminta bantuan pinjaman dana pengobatan. Sekolah kemudian membantu biaya pengobatan sebesar Rp1,1 juta untuk pemeriksaan di Tenggarong. “Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp 1,1 juta,” ungkap keterangan itu.
Namun kondisi Mandala belum juga membaik. Saat guru melakukan kunjungan rumah pada 21 April 2026, kaki Mandala terlihat lemas dan membengkak meski tidak ditemukan luka atau lecet. Guru menyarankan agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan, tetapi keluarga terkendala biaya dan tunggakan BPJS sekitar Rp2,4 juta.
Pihak sekolah akhirnya ikut membantu proses pengurusan BPJS Mandala. Bahkan sekolah berencana membelikan sepatu baru sesuai ukuran kaki korban setelah mendengar kondisi sempat membaik. Sayangnya, sehari kemudian atau tepat pada 24 April 2026, kabar duka datang. Mandala dinyatakan meninggal dunia dan pihak sekolah ikut mendampingi proses pemakaman.
Disdikbud Kaltim menegaskan belum bisa memastikan penyebab pasti kematian Mandala karena tidak ada diagnosa medis resmi dari fasilitas kesehatan. Meski begitu, kasus ini langsung menyita perhatian publik karena memperlihatkan kerasnya tekanan ekonomi yang masih dialami sebagian pelajar.
Berdasarkan keterangan keluarga, Mandala seharusnya menggunakan sepatu ukuran 43 hingga 44. Namun karena keterbatasan ekonomi, ia tetap memakai sepatu ukuran 40 saat menjalani aktivitas sekolah dan PKL.
Kasus sepatu kekecilan pelajar SMK di Samarinda hingga meninggal ini kini memunculkan sorotan baru soal efektivitas bantuan sosial, beasiswa pendidikan, hingga perlindungan kesehatan bagi pelajar kurang mampu di Kalimantan Timur. Banyak warganet berharap tragedi seperti ini jadi bahan evaluasi serius agar tidak ada lagi siswa yang harus menahan sakit hanya karena keterbatasan ekonomi. (*









