Mengenal YouTube Kids di Tengah Pemberlakuan PP Tunas, Aman untuk Anak
Intrend.id – Mengenal Youtube Kids di tengah pemberlakuan PP Tunas yang membatasi akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi belum terlambat.
Apakah YouTube Kids ikut terdampak atas pemberlakuan PP Tunas? Banyak orang tua sempat bertanya-tanya demikian.
Jawabannya, tidak.
YouTube Kids tetap tersedia dan legal digunakan di Indonesia. Bahkan, aplikasi ini justru makin relevan sebagai alternatif aman buat anak-anak menikmati konten digital.
Berbeda dengan YouTube utama yang masuk kategori platform berisiko tinggi dan terkena aturan PP Tunas, YouTube Kids adalah aplikasi terpisah yang memang dirancang khusus untuk anak-anak.
Platform ini dibuat supaya anak bisa eksplorasi video secara lebih aman, sementara orang tua tetap punya kontrol penuh.
“Kami bekerja keras untuk memastikan video di YouTube Kids cocok untuk keluarga dan kami menggunakan gabungan antara filter otomatis yang dibuat oleh tim teknik kami, peninjauan secara manual oleh tim peninjau, dan masukan dari orang tua untuk melindungi pengguna online kita yang masih berusia sangat muda,” demikian keterangan resmi di laman aplikasi Youtube kids dikutip Intrend.id pada Sabtu 25 April 2026.
Itu tampaknya bukan cuma slogan.
Aplikasi ini memakai kombinasi filter otomatis berbasis teknologi, peninjauan manual oleh tim moderator, dan masukan orang tua untuk menyaring konten agar tetap ramah anak.
Jadi, anak-anak tak asal cebur ke “liar”-nya internet.
Kontennya dikurasi.
Lingkungannya dibuat lebih terkendali.
Dan tampilannya juga sengaja simpel biar ramah buat anak.
Ada tombol besar, warna cerah, navigasi gampang, tanpa menu ribet.
Cocok banget buat balita sampai usia pra-remaja.
Secara umum, YouTube Kids punya tiga level konten berdasarkan usia.
Untuk balita ada mode Preschool usia 4 tahun ke bawah.
Lalu Younger untuk usia 5 sampai 8 tahun.
Dan Older untuk rentang 9 sampai 12 tahun.
Orang tua juga bisa memilih mode “Approved Content Only”, artinya hanya video, kanal, atau koleksi yang disetujui orang tua yang bisa ditonton anak.
Ini level kontrol tertinggi.
Kalau mau lebih ketat, fitur pencarian bahkan bisa dimatikan.
Jadi anak cuma melihat konten rekomendasi yang sudah dikurasi.
Praktis, aman, dan lebih terkendali.
Menariknya, aplikasi ini juga punya fitur yang sering dianggap penyelamat buat banyak orang tua.
Ada timer untuk membatasi screen time.
Ada pemblokiran video atau channel.
Ada sampai delapan profil anak berbeda dalam satu akun orang tua.
Setiap profil punya preferensi tontonan sendiri.
Misalnya satu anak suka kartun, satu lagi suka eksperimen sains atau seni kerajinan.
Semua bisa dipisah.
Konten di dalamnya juga cukup variatif.
Mulai dari seni dan kerajinan, mainan, pelajaran, hobi, acara anak, sampai kartun populer.
Bahkan video belajar bikin gunung berapi mini atau slime pun ada.
Jadi tak melulu hiburan.
Ada unsur edukasinya juga.
Dan ini yang bikin banyak keluarga suka.
Anak bisa eksplorasi sendiri, tapi tetap ada pagar pengamannya.
Di Indonesia, keberadaan YouTube Kids justru makin penting sejak hadirnya PP Tunas atau Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang efektif berlaku sejak 28 Maret 2026.
Regulasi ini mewajibkan platform digital seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga YouTube utama membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun.
Akun anak di bawah usia itu bahkan mulai dinonaktifkan bertahap.
Tapi YouTube Kids tak masuk area warning aturan pembatasan ini.
Kenapa?
Karena secara sistem, ini aplikasi terpisah.
Tidak bergantung pada akun utama.
Bahkan bisa dipakai tanpa login untuk penggunaan dasar.
Dan memang dibuat untuk anak.
Artinya, PP Tunas hanya menyasar YouTube reguler atau utama, bukan YouTube Kids.
Ini juga sudah dikonfirmasi pemerintah dan pihak platform.
Jadi buat orang tua yang panik anak tak bisa lagi nonton konten edukasi, tenang.
Masih ada jalurnya.
Malah arguably lebih aman.
Kalau dibandingkan YouTube biasa, bedanya lumayan jauh.
Di YouTube utama, walau ada Restricted Mode atau pengawasan lewat Google Family Link, kontennya tetap jauh lebih luas.
Risiko konten lolos filter tetap ada.
Di YouTube Kids, danau kontennya memang lebih kecil.
Tapi justru itu yang bikin lebih aman.
Memang, tak ada sistem filter yang 100 persen sempurna.
Kadang video yang kurang sesuai bisa saja lolos.
Karena itu YouTube juga menyarankan orang tua rutin cek fitur Recently Watched.
Pantau apa yang anak tonton.
Review rekomendasi yang muncul.
Dan kalau perlu, kombinasikan dengan kontrol perangkat seperti Screen Time di iPhone atau Family Link di Android.
Untuk anak usia sangat kecil, disarankan search dimatikan total.
Pakai konten yang disetujui manual saja.
Lebih aman.
YouTube Kids sendiri bukan pemain baru.
Aplikasi ini pertama meluncur pada 23 Februari 2015 di Amerika Serikat, lalu hadir di Indonesia sejak 6 September 2018.
Sampai April 2026, platform ini masih aktif dipakai secara global dan jadi salah satu opsi utama untuk konsumsi video anak.
Di tengah makin ketatnya regulasi digital, posisinya justru makin strategis.
Kesimpulannya sederhana.
Kalau anak masih di bawah 9 atau 10 tahun, YouTube Kids masih jadi pilihan paling aman.
Kalau anak 10 sampai 15 tahun, pengawasan tetap wajib.
Dan kalau bingung dengan dampak PP Tunas, satu hal yang jelas:
YouTube Kids tidak terdampak. Dia tetap legal dan eksis. Pun, tetap jadi ruang digital yang lebih aman buat anak-anak Indonesia. (*)









