Trend in Siber

Ulah Siswa Hina Guru Bikin SMAN 1 Purwakarta Viral, KDM Usul Hukuman Membentuk Karakter

Intrend.id – Kasus dugaan bullying siswa terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta mendadak viral dan bikin geger jagat media sosial. Video berdurasi 29 detik yang beredar luas memperlihatkan aksi tidak pantas sejumlah siswa terhadap guru perempuan bernama Ibu Atum.

Dalam rekaman video dugaan bullying siswa terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta tersebut, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan saat sang guru membelakangi kelas. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 16 April 2026 usai pelajaran dalam kelas.

Ada yang mengacungkan jari tengah, bahkan seorang siswa laki-laki tampak melakukan gerakan seolah mengejek sambil menutup mulut.

Aksi ini langsung menuai kecaman keras dari warganet, alumni, hingga orang tua murid.

Peristiwa ini disebut terjadi setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Namun dampaknya langsung meluas karena videonya cepat menyebar di platform seperti TikTok.

Banyak yang menilai kejadian ini sebagai tanda menurunnya etika dan moral di lingkungan sekolah.

Tanggapan termasuk datang dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi (KDM. Dirinya langsung angkat bicara.

Ia mengaku prihatin dan sudah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan Jawa Barat terkait kronologi kejadian tersebut.

Menurut Dedi, pihak sekolah sudah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat.

Selain itu, orang tua siswa juga sudah dipanggil dan bahkan disebut menangis saat dimintai keterangan karena menyesali tindakan anak-anak mereka.

Meski begitu, Dedi menilai hukuman skorsing saja belum cukup efektif. Ia justru mengusulkan pendekatan yang lebih “ngena” ke pembentukan karakter siswa.

“Tapi saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selana 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi, diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” ucap Dedi di akun Instagram pribadinya, Sabtu 18 April 2026.

Menurutnya, hukuman seperti itu bisa dilakukan selama satu hingga tiga bulan agar siswa benar-benar belajar soal tanggung jawab, disiplin, dan empati. Prinsipnya, hukuman harus punya nilai edukasi, bukan sekadar efek jera.

Dinas Pendidikan Jawa Barat juga ikut turun tangan. Kepala Disdik Jabar, Purwanto, menegaskan bahwa siswa yang terlibat tidak hanya diberi sanksi, tapi juga pembinaan karakter.

Ia menilai, kasus ini jadi pengingat penting bahwa pola pendidikan saat ini harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama pengaruh dunia digital.

“Anak-anak sekarang tumbuh bukan cuma di kelas, tapi juga di ruang digital. Jadi pengawasan harus lebih ketat,” jelas Purwanto.

Salah satu langkah yang didorong adalah evaluasi penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Menurutnya, penggunaan HP yang tidak terkontrol sering memicu perilaku spontan yang melanggar norma.

Purwanto juga mengajak orang tua untuk lebih aktif memantau aktivitas anak di media sosial. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan ke sekolah, tapi harus jadi tanggung jawab bersama.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Purwakarta, Agus Marzuki, menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai tindakan siswa tersebut bertentangan dengan program pendidikan karakter “Gapura Panca Waluya” yang selama ini digaungkan.

Program itu menekankan lima nilai utama: cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil). Namun insiden ini justru dianggap mencederai nilai-nilai tersebut, apalagi terjadi di sekolah yang dikenal unggulan.

Kasus dugaan bullying siswa terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta kini jadi bahan refleksi luas, bukan cuma di Purwakarta tapi juga secara nasional. Banyak pihak berharap kejadian serupa tidak terulang, dan pendidikan karakter benar-benar diperkuat, baik di sekolah maupun di rumah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status